Home
Links
Contact
About us
Impressum
Site Map?


Afrikaans?
عربي
Bahasa Indones.
Deutsch
English
Français
Hausa/هَوُسَا
עברית
O‘zbek
Peul?
Português
Русский
தமிழ்
Türkçe
Yorùbá
中文



Home (Old)
Content (Old)


Indonesian (Old)
English (Old)
German (Old)
Russian (Old)

Home -- Indonesian -- 02. Roots -- 2 Prayer in Islam
This page in: -- Arabic? -- Chinese -- English -- French -- German? -- INDONESIAN

Previous booklet -- Next booklet

02. Akar Quranik Syariah

2 - MARILAH SHOLAT, MARI MENCAPAI KEMENANGAN!



2.01 -- MARILAH SHOLAT, MARI MENCAPAI KEMENANGAN!

Perintah-perintah dalam Qur’an mengenai ibadah kepada Allah

Setiap hari lima kali sehari, dari minaret (menara mesjid), para Muazin (orang yang mengumandangkan adzan) berseru “Marilah sholat, marilah mencapai kemenangan”. Ini adalah panggilan untuk semua orang Muslim untuk bersembahyang. Islam mengijinkan jenis-jenis sembahyang yang berbeda. Yang pertama adalah sembahyang dengan menggunakan liturgi yang telah ditetapkan, yang bukan merupakan doa bebas orang per orang, yaitu sholat (al-Salat).

Di samping itu, Qur’an menyebutkan sembahyang pribadi, yang dapat dengan bebas diucapkan dan tidak terikat dengan suatu waktu tertentu, yaitu Doa (al-Du’a).

Ke-empat mazhab hukum dalam Islam berkonsentrasi pada kewajiban yang harus dilaksanakan dalam ibadah-ibadah harian. Untuk menekankan susunannya, mereka mengutip 86 ayat Qur’an yang akan dibahas dalam buklet ini.

2.02 -- Bagaimanakah seharusnya seorang Muslim bersembahyang?

Qur’an berbicara mengenai posisi berdiri ketika bersembahyang (Sura 3:191; 25:64), berlutut dalam ketakjuban (Sura 2:43; 3:43; 22:77; 77:48) dan bersujud hingga dahi menyentuh lantai (Sura 3:43; 15:98; 17:107; 22:77; 25:64; 84:21; 98:5). Sembahyang seorang Muslim berdasarkan pada rasa hormat yang mendalam dan takut kepada Allah (Sura 2:238; 3:43; 7:55; 23:2). Ucapan syukur pribadi, sukacita dan puji-pujian individu bukanlah tema dalam ibadah Islam, melainkan hanya memuliakan Allah.

Ibadah/sembahyang Muslim adalah sebuah inkarnasi dari kata Arab “Islam” yang berarti “memberikan, dedikasi, tunduk dan berserah kepada Allah”. Orang Muslim memahami diri mereka sendiri sebagai hamba-hamba Allah dan properti-Nya (Sura 22:77; 98:5). Mereka memberikan diri kepada tuan mereka (Allah) hingga 34 kali dalam sehari berdasarkan liturgi mereka. Orang Muslim tidak lagi menjadi orang bebas. Mereka adalah milik tuan mereka (Sura 9:111) dan hidup dalam perbudakan kolektif.

Menurut Qur’an, Muhammad merekomendasikan orang untuk bersembahyang bahkan ketika sedang duduk ataupun berbaring, terutama di malam hari, setelah bekerja keras pada siang hari di bawah terik matahari (Sura 3:191). Cara bersembahyang semacam itu pada saat beristirahat tidak dimasukkan ke dalam liturgi ibadah oleh para sarjana. Juga berdoa dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana panjang atau sambil duduk bersila sangat tidak lazim di negara-negara Islam. Sikap tubuh seperti itu dianggap tidak menghormati kedaulatan Allah.

Qur’an menekankan sembahyang berjamaah di mesjid dimana semua orang mengucapkan liturgi tertentu (Sura 2:43; 3:43; 15:98). Jemaat yang berpartisipasi dalam ibadah/sembahyang berjamaah dalam barisan yang panjang, dipandang lebih bernilai daripada yang hanya sekedar melakukan doa-doa pribadi.

Selama sembahyang berjamaah orang tidak boleh berbicara terlalu keras atau berbisik (Sura 17:110).

2.03 -- Waktu yang telah ditetapkan untuk bersembahyang

Qur’an berbicara mengenai waktu bersembahyang di pagi dan sore hari (Sura 11:114; 17:78; 20:130; 24:36; 50:39; 76:25; 89;1-3), sembahyang pada petang hari (Sura 2:238) dan malam hari (Sura 11:114; 17:79; 20:130; 25:64; 50:40; 73:1-8). Jam sembahyang dalam Qur’an tidak pasti. Para ahli hukum menginterpretasi ekspresi-ekspresi Qur’an ini sedemikian sehingga sembahyang/sholat pertama harus dimulai pada waktu subuh, sebelum matahari terbit, segera setelah orang dapat membedakan benang hitam dengan benang putih. Waktu sholat yang kedua adalah ketika matahari berada di zenith. Regulasi ini mengakibatkan permasalahan internasional pada musim panas, oleh karena adanya perbedaan waktu 1 jam. Waktu sholat yang ketiga ditetapkan 3 jam setelah tengah hari. Waktu sholat yang keempat adalah pada saat matahari terbenam dan waktu yang kelima ketika hari sudah gelap. Dalam kesemua waktu sholat ini, liturgi yang sama diulangi, kesemuanya sebanyak 17 kali dalam sehari!

Jika merenungkan waktu-waktu sembahyang Islam, anda akan mendapati bahwa hari seorang Muslim harus dipandu oleh sembahyang agar menjaga semua pikiran dan perbuatannya terkonsentrasi kepada Allah. Sesungguhnya ia harus bersembahyang dimana saja dan selalu merenungkan hikmat Allah dalam penciptaan dan menghindar dari api neraka (Sura 3:191). Salah satu kekuatan pendorong bagi ibadah kepada Allah adalah takut akan Hari Penghakiman.

2.04 -- Ritual pembersihan sebelum bersembahyang (wudhu)

Qur’an meyakinkan orang Muslim bahwa mereka tidak pantas untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana adanya mereka. Mereka merasakan ketidaksucian dan ketidaklayakan mereka dan harus menjalani sebuah persyaratan pembasuhan tertentu setiap kali mereka akan bersembahyang. Pernyataan-pernyataan Qur’an mengenai penyucian ini tidaklah lengkap (Sura 2:222-223, 276-277; 3:42; 4:43; 5:5-6; 8:11; 9:108; 25:48; 56:79; 74:4). Hanya sedikit ayat yang memberikan deskripsi secara terperinci berkenaan dengan perintah ini. Informasi-informasi yang paling tepat dapat dibaca dalam Sura 5:6, sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Dalam Sura 2:222-223 anda akan menemukan ayat lainnya yang menggambarkan penyucian sebelum beribadah kepada Allah:

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tampat bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar yang gembira orang-orang yang beriman.

Lebih lanjut Qur’an menjanjikan bahwa dengan membayar pajak keagamaan dan sumbangan-sumbangan tambahan maka seorang yang bersembahyang dapat disucikan (Sura 2:267, 271, 276; 9:103; 87:14 diantara ayat-ayat lainnya). Hujan juga membersihkan debu dan ketidakmurnian dari orang-orang Muslim (Sura 8:11; 25:48). Semua orang yang bersembahyang harus membersihkan pakaian mereka sebelum mereka beribadah (Sura 74:4). Bahkan Maria, ibu dari “Isa” (Yesus), yang terpilih dari semua wanita, harus menyucikan dirinya sebelum beribadah kepadaAllah. Allah menyukai orang-orang yang menyucikan diri (Sura 9:108).

Ketika membaca instruksi-instruksi ritual pembasuhan dalam Islam tersebut, anda dapat memahami bahwa orang Baduy pada jaman Muhammad pada mulanya harus mempelajari aturan-aturan dasar kebersihan. Qur’an tidak menuntut adanya pembersihan hati nurani atau pembaharuan roh. Muhammad tidak mengenal doa yang diucapkan Daud:

Ya Elohim, ciptakanlah bagiku hati yang bersih, dan perbaharuilah roh teguh dalam diriku. Jangan membuang aku dari hadirat-Mu, dan jangan mengambil Roh-Mu yang kudus daripadaku (Mazmur 51:12-13).

Pembersihan dan penyucian menurut Qur’an tetap hanya menjadi sesuatu yang lahiriah dan palsu, karena Islam tidak mengenal pengaruh Roh Kudus dan dengan keras menyangkali penyucian hati kita melalui darah Yesus.

2.05 -- Arah kiblat sembahyang ditetapkan oleh Allah

Pada mulanya semua Muslim menghadap ke Yerusalem ketika bersembahyang. Muhammad bermaksud untuk memenangkan hati orang Yahudi yang tinggal di jazirah Arab untuk Islam. Ia meniru kiblat doa mereka untuk membuat Islam nampak serupa dengan agama Yahudi. Tetapi ketika orang Yahudi di Medina tidak dapat menerima Muhammad sebagai nabi utusan Tuhan mereka dan menghinanya di depan umum, ia membenci mereka dan memerintahkan para pengikutnya untuk mengubah kiblat sembahyang dari Yerusalem ke Ka’bah di kampung halamannya (Sura 2:115, 142; 17:1). Mekkah adalah pusat budaya kuno untuk sejumlah dewa, berhala dan roh-roh. Ismael dipercayai telah mendirikan Ka’bah sebagai sebuah rumah untuk Abraham ayahnya yang menurut beritanya telah hidup bersama kedua istrinya dan mengunjung mereka secara bergiliran: Sara di Hebron dan Hagar di Mekkah. Orang Muslim yang berpikir seperti ini, tidak memperhatikan bahwa Yerusalem dan Hebron terpisah 2000 km jauhnya dari Mekkah. Mustahil sering melakukan perjalanan pergi pulang dari dan ke kota-kota itu melewati padang gurun jazirah Arab yang mematikan. Walau ada kenyataan itu, Ka’bah tetap sangat ditinggikan sebagai kediaman Abraham, yang menurut Islam adalah orang Muslim yang pertama (Sura 2:148-150).

Muhammad menyatakan kiblat sembahyang yang baru sebagai sebuah hukum dan kewajiban dari Allah (Sura 2:149). Sejak saat itu, semua Muslim ketika bersembahyang dan juga dalam doa-doa pribadi mereka, di semua tempat di bumi, harus bersujud ke arah Ka’bah di Mekkah, jika tidak demikian maka doa dan ibadah mereka tidak valid dan sia-sia (Sura 2:148-150).

Dengan berpaling dari Yerusalem dan mengarahkan para pengikutnya ke Mekkah, Muhammad secara tidak langsung mengakui bahwa bukanlah Yahweh yaitu Tuhan dalam Perjanjian Lama, melainkan Allah di Mekkah-lah yang merupakan satusatunya Tuhan orang Muslim (Sura 9:28-29). Dengan berpaling 180 derajat Muhammad menciptakan sebuah agama baru yang independen dan komunitas religiusnya sendiri (Sura 2:143). Di Yerusalem, menurut beberapa tradisi, ia yakin bahwa ada tangga spiritual yang mencapai surga. Tetapi di Medina ia meyakinkan para pengikutnya bahwa mereka semua dipastikan akan masuk neraka (Sura 19:71-72). Kemungkinan besar ia merasa bahwa Syariahnya merupakan gambaran jalan yang luas yang membawa kepada kehancuran karena tidak ada seorang Muslimpun yang dapat dibenarkan melalui hukumnya ini. Tidak seorang Muslimpun yang mengucapkan kesemua 17 unit doa setiap hari dalam lima waktu sembahyang, maka hukum Islam yang mempunyai sifat mendakwa akan menghakimi semua orang Muslim (Roma 3:20, Galatia 2:16, 3:10; Yakobus 2:10, Roma 4:15).

2.06 -- Jumat – hari sembahyang utama bagi orang Muslim

Qur’an menetapkan hari Jumat sebagai hari ibadah umat Muslim. selama jam sembahyang pada hari Jumat semua urusan dan pekerjaan harus berhenti. Tetapi setelah selesai sembahyang Jumat di mesjid atau di jalan-jalan, semua pekerjaan dapat dilanjutkan kembali (Sura 62:9-10). Orang Muslim harus berpakaian rapi untuk mengikuti sembahyang berjamaah (Sura 7:31). Seorang ayah harus mendorong anggota-anggota keluarganya untuk berpartisipasi dalam ibadah, sekalipun mereka tidak berminat untuk itu (Sura 20:132).

Muhammad telah memilih hari Jumat bagi para pengikutnya orang Muslim sebagai sikap oposisi terhadap hari Sabat orang Yahudi dan hari Minggu orang Kristen. Ia tidak ingin dikacaukan dengan salah satu diantara mereka. Hari Jumat dalam Islam tidak mempunyai dasar Alkitab sebagai hari peristirahatan dimana semua jenis pekerjaan harus dihentikan. Sebagaimana Tuhan beristirahat setelah Ia menciptakan seluruh dunia dan melihat bahwa segala sesuatunya sungguh amat baik, demikianlah semua anggota ikatan Perjanjian yang Lama beristirahat sebagai pengakuan akan kemuliaan, kuasa dan hikmat Yahweh dalam ciptaan-Nya dan beribadah kepada-Nya sebagai keikutsertaan dalam istirahat-Nya. Pemahaman ini sama sekali tidak ada dalam Islam.

Dasar Perjanjian Baru untuk hari Minggu yaitu kebangkitan Kristus dan pernyataan ciptaan baru di dalam Dia juga tidak ada dalam Islam. Qur’an menyangkali kebangkitan Yesus Kristus dari kematian dan mengklaim bahwa ‘Isa hanya jatuh tertidur dan kemudian terangkat dengan tubuh dan jiwa kepada Allah. Dalam Islam tidak ada ciptaan baru dan tidak ada pembaharuan spiritual orang percaya; mereka hanya mengharapkan penciptaan mereka kembali yang sama persis dengan kehidupan mereka yang lama. Mereka mengharapkan adanya peningkatan kemampuan seksual bagi kaum pria di firdaus.

Baik istirahat dan damai hari Sabtu, kebangkitan Kristus dengan ciptaan baru pada hari Minggu tidak memberikan hari Jumat orang Muslim sebuah makna spiritual, maka hari ibadah mereka tetap menjadi oposisi yang berkelanjutan kepada Tuhan Sang Bapa, Putra dan Roh Kudus.

2.07 -- Konteks ibadah/sembahyang berjamaah

Konteks doa-doa yang teroganisir secara liturgis dalam Islam pada dasarnya berbeda dengan doa-doa dalam Alkitab. Ibadah orang Muslim tidak mempunyai kesamaan apapun dengan doa-doa orang Kristen yang dibangun di atas permintaan, syafaat, ucapan syukur dan pemujaan. Ibadah Muslim terdiri dari teriakan pujian untuk memuliakan Yang Maha Kuasa yang tinggi bertahta di atas para hamba-Nya bagaikan seorang sultan yang berdaulat.

Qur’an sering menuntut adanya pujian bagi Allah (Sura 3:191; 15:98; 20:130; 24:36; 25:58; 40:55; 50:39-40; 56:74; 87:1; 110:3 dsb). Dalam kerangka ini, para ahli hukum telah memformulasikan dua frase penyembahan:

Terpujilah Tuhanku Yang Maha Tinggi! (subhaana rabbi al-a’laa)

Terpujilah Tuhanku, Yang Besar! (subhaana rabbi al-‘aziim)

Frase yang pertama diucapkan setiap hari dalam 17 unit doa hingga 102 kali (!) sedangkan yang kedua disaksikan 51 kali (!). kedua seruan pujian ini adalah isi dan subyek utama dalam ibadah Islam.

Aneh sekali melihat bahwa bukanlah “Allah” yang diagungkan tetapi “Tuhan” dalam bentuk: “Tuhanku!” kemungkinan besar Muhammad telah mendengar dari orang Yahudi bahwa ekspresi Semitis untuk Tuhan “Elohim” adalah sebuah ekspresi umum bagi semua sesembahan di Timur Dekat yang muncul 2600 kali dalam Perjanjian Lama sedangkan nama Tuhan yang sesungguhnya yaitu “Yahweh” muncul 6828 kali dalam kitab-kitab Perjanjian yang Lama. Yahweh diterjemahkan dengan TUHAN (al-rabb) ke dalam bahasa Arab. Namun demikian nama ini tidak pernah muncul dalam Qur’an dengan artikel sebagai “Tuhan itu” (= “the Lord”), tetapi hanya dengan sebuah akhiran (suffix) atau dalam bentuk genitif.

Dalam ibadah-ibadah orang Muslim, Yang Maha Kuasa ditinggikan sebagai “Tuhanku”. Nama ini serupa dengan seruan seorang hamba yang tunduk kepada tuannya, menghormatinya dan memujinya. Orang Muslim tidak dapat memahami diri mereka sebagai anak-anak Tuhan karena Allah dalam Islam tidak pernah digambarkan sebagai bapa mereka. Mereka diciptakan sebagai budak-budak yang menyembah untuk memuliakan Sang Pencipta, Penguasa dan Hakim dunia.

2.08 -- Meninggikan Allah

Puji-pujian yang dinaikkan juga berhubungan dengan seruan lebih lanjut: “Allahu Akbar” yang muncul 68 kali dalam sembahyang harian. Kata ini juga diserukan 30 kali dari menara-menara mesjid di atas semua atap-atap rumah di kota dan di desa, biasanya dengan pengeras suara. Ekspresi ini tidak dapat diterjemahkan dengan “Allah itu besar” dan juga tidak berarti “Dia-lah yang terbesar”; namun lebih mengandung arti: “Allah adalah yang terbesar/terhebat” sehingga merepresentasikan sebuah perbandingan yang merelatifkan dan mengkerdilkan segala sesuatu yang lain.

Allah di dalam Islam dipandang lebih indah daripada pemandangan yang paling indah, lebih kuat dari semua bom hidrogen, lebih kaya dari semua yang memiliki emas dan perak dan lebih bijaksana dari semua filsuf. Ia melampaui semua pemahaman dan pengertian manusia. Allah dalam Islam melampaui semua dan segala sesuatu, bahkan Yesus dan Roh Kudus yang dipuji oleh para hamba-Nya yang taat. Dengan mengakui kalimat tersebut sekitar 100 kali sehari, pujian dan pengagungan pada Allah dalam ibadah-ibadah Islam menjadi sempurna.

Ucapan syukur pribadi kepada Yang Maha Kuasa tidak disebutkan dalam sembahyang harian walaupun Qur’an seringkali menyaksikan pentingnya bersyukur pada Sang Pencipta (Sura 16:78; 23:78; 28:71; 56:70; 67:23, dll), kepada sang Penyedia (Sura 16:14; 22:36; 30:46; 35:12; 45:12, dll), Sang Pemberi hukum (Sura 2:185; 5:6, 89, dll), dan Yang menolong agar berkemenangan. Kemungkinan besar, para ahli hukum Qur’an menyimpulkan bahwa pengagungan terhadap Allah meliputi semua semua ucapan syukur atas karya cipta-Nya.

Dalam memuji Allah selama bersembahyang, pengampunan dosa, pembenaran oleh anugerah, penyucian hati nurani, pembaharuan pikiran dan pemberian hidup kekal sama sekali tidak ada. Semua yang dilakukan Yesus dan apa yang diberikan Roh Kudus kepada kita tidak ditemukan dalam ibadah-ibadah Muslim. Yesus sebagai inkarnasi kasih dan kebenaran Tuhan tidak dipuji dan demikian pula terhadap Roh Kudus sebagai kekuatan Tuhan. Disini kita menemukan sebuah jurang/lubang yang kosong dalam Islam. Orang Muslim tidak peduli jika Tuhan adalah Bapa kita dan bahwa posisi kita terhadap Sang Pencipta, Penguasa dan Hakim dunia telah sangat berubah. Kita tidak menyembah Yang Maha Kuasa karena takut tetapi karena Ia mengasihi kita. Kasih-Nya yang kudus telah membangkitkan kasih yang setia sebagai gema dalam kita, pujian yang tulus dan ucapan syukur yang kekal.

Orang Muslim tidak mengenal Tuhan yang sesungguhnya. Namun, mereka memanggil-Nya Allah, Tuhan mereka, Yang Ditinggikan (Sura 87:1), Yang Berkuasa (Sura 56:74), Yang Pemurah (Sura 3:129; 17:110 dsb), dan Yang Satu-satunya. Ia dapat dipanggil dengan ke-99 nama-Nya yang indah dalam doa-doa pribadi (Sura 3:135; 17:110, dsb), namun demikian orang Muslim tidak mengetahui siapakah Allah sesungguhnya. Semua nama-Nya hanyalah merupakan bayangan dari diri-Nya. Ia tetap tidak terselidiki, jauh dan tidak dapat dijangkau. Allah dalam Islam adalah Tuhan yang jauh, tidak dikenal dan asing. Dalam Islam tidak ada Bapa, tidak ada Putra dan tidak ada Roh Kudus. Kesatuan Trinitas yang Kudus ditolak oleh orang Muslim, maka kita harus mengakui: Allah dalam Islam bukanlah Tuhan yang sejati! Ia bukanlah Tuhan. Ia menyebut dirinya Allah, tetapi ia senantiasa menolak Tuhan yang sejati. Semua wahyunya adalah tidak benar dan ibadah kepadanya adalah sebuah kesalahan.

Qur’an melarang penyembahan kepada semua makhluk hidup (Sura 41:37) dan oleh karena itu menolak iman dalam Yesus dan Roh Kudus “makhluk hidup”. Dengan pernyataan-pernyataan ini, Allah menyatakan dirinya sendiri sebagai roh anti-Kristen yang selalu memerangi Roh Kudus (1 Yoh.2:22-25; 4:1-5). Roh yang najis ini, di dalam Islam ingin disembah dan ingin agar hanya dia yang dipuji (Sura 72:18-19; Matius 4:9-10).

2.09 -- Doa-doa tersembunyi dalam Islam

Aneh sekali, dalam sembahyang harian sebagaimana dalam Fatihah yang merupakan doa utama orang Muslim, tidak ada permohonan pengampunan dosa. Kekurangan ini dapat membuka mata kita! Pengakuan dosa adalah sesuatu yang tidak dikenal dan tidak dihargai dalam Islam. Walau demikian, Qur’an merekomendasikan orang Muslim untuk meminta pemngampunan bagi kesalahankesalahan mereka (Sura 3:133-136, 191-195 dll), Allah bahkan memerintahkan Muhammad untuk meminta pengampunan atas dosa-dosanya (Sura 40:55; 47:19; 48:2; 110:3). Dalam Qur’an permohonan-permohonan untuk mendapat pengampunan sama sekali tidak mengandung pengakuan akan keberdosaan total dan bahwa semua manusia sudah terhilang. Orang Muslim memang hanya memahami dosa sebagai kesalahan dan pelanggaran. Mereka tidak berdoa dengan hati yang hancur dan pertobatan yang mendalam seperti Daud dalam Mazmur 51:1-17.

Bagi orang Muslim, konsekuensi spiritual dari pembenaran kita, yaitu mengampuni semua musuh kita atas semua kesalahan mereka kepada kita kedengarannya aneh/asing dan salah (Mat. 6:12, 14-15; 18:21-35). Terlebih lagi, Qur’an memerintahkan pembalasan dendam dengan menumpahkan darah atau menerima uang darah (Sura 2:178, 194; 4:92; 16:126; 17:33, 35; 42:40, dll). Pemahaman mengenai hukum dalam Islam lebih kuat daripada pengenalan terhadap kemurahan dan kasih.

2.10 -- Doa dan iman dalam Islam

Qur’an menuntut agar doa dan ibadah kepada Allah harus didasarkan atas iman (Sura 2:3-5, 177 dll). Pengakuan iman islami memuat 6 artikel: Allah, malaikatmalaikatnya, kitab-kitabnya, utusannya dan nabi-nabinya, predestinasinya dan Hari Kebangkitan dengan ditandai kenikmatan taman-taman surga dan siksa neraka (Sura 2:177, 285; 4:136; 9:26 dll). Nilai doa dalam Islam dikaitkan dengan iman kepada ke-6 artikel dasar tersebut di atas. Orang yang tidak membangun imannya atas dasar ini dikutuk sebagai orang kafir (Sura 4:136). Orang yang percaya pada Yesus Kristus Putra Tuhan dan keilahian Roh Kudus adalah orang yang terkutuk. Allah sendiri dan juga rohnya memerangi orang itu (Sura 2:97-98; 9:29 dll). Doadoanya tidak akan diterima Allah dan ibadahnya akan ditolak dan dipandang sebagai kemunafikan.

Iman islami mewajibkan pengakuan terhadap ketidakbersalahan Qur’an (Sura 2:2-5) dan bahwa Qur’an mengoreksi dan memperlengkapi semua kitab surgawi yang telah ada terlebih dahulu. Iman dan doa seorang Muslim juga akan tetap sia-sia kecuali ia percaya kepada Muhammad dan mematuhinya, serta kepada para Khalifah penggantinya dengan tanpa syarat (Sura 8;1, 46; 9:71; 24:56; 47:33; 48:17; 49:15; 61:10-12 dll). Tanpa adanya ketaatan berdasarkan iman Qur’an, alasan dan tujuan ibadah kepada Allah tidak ada sama sekali. Doa-doa meminta perlindungan dari bahaya dan kesembuhan dari penyakit hanya dianggap efektif diatas dasar ini (Sura 16:91; 114:1). Setiap kali memotong hewan harus dilakukan dalam nama Allah karena daging yang dipotong tidak secara ritual Islam, dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum (Sura 2:173; 5:3-5; 6:118-119, 145).

2.11 -- Doa dan donasi dalam Islam

Perintah-perintah Allah untuk berpartisipasi dalam doa dikaitkan dengan seringnya himbauan untuk memberi sumbangan dan membayar pajak religius lebih dari 20 kali (Sura 2:3, 43,83,177; 5:6, 12; 9:5,11,18,103; 13:22; 22:77-78; 23:8-9; 24:56; 32:16; 35:29; 42:38; 70:22-25; 98:5 dll). Muhammad menjelaskan:

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Sura 35:29-30).

Muhammad adalah seorang usahawan yang berpengalaman. Ia tidak ragu menyebut agamanya sebagai sebuah “urusan dagang” dengan Allah. Ibadah yang disertai dengan sumbangan baginya tampak lebih bernilai daripada doa-doa. Ia mengevaluasi ibadah-ibadah Islam tanpa memberi donasi atau pajak sebagai sesuatu yang lemah. Ia mengemukakan kepada para pengikutnya bahwa “berdoa dan menyumbangkan uang” harus terjalin dengan erat (Sura 23:1-6; 24:56; 32:15-16; 42:36-38)!

Dalam panggilannya untuk beribadah kepada Allah dan memberikan donasi kadangkala ia juga menuntut iman, ketaatan dan kesabaran. Berulangkali ia menganjurkan para pengikutnya untuk meletakkan pengharapan mereka kepada Allah dan percaya mereka masuk ke firdaus jika mereka mau mengatasi cinta mereka kepada uang, bersembahyang dengan teratur dan mewajibkan diri untuk memberikan sumbangan substansial (Sura 70:19-25). Ia diperintahkan oleh Allah:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman bagi jiwa mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Sura 9:103 dll).

Kemudian Allah mengajarinya:

...Bunuhlah orang-orang musyirikin itu dimana saja kamu jumpai mereka dan tangkaplah mereka. ..jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat maka berikanlah kepada mereka kebebasan untuk berjalan.. (Sura 9:5).

Menurut Qur’an, para musuh, setelah mereka bersembahyang dan memberi sumbangan uang akan menjadi teman! Karakter mereka tidak perlu diubah. Mereka dapat hidup sebagaimana sebelumnya, tetapi memenuhi tuntutan-tuntutan Syariah Islam, baru mereka dipandang sebagai saudara seiman (Sura 9:11).

Muhammad berusaha untuk memenangkan orang Yahudi bagi Islam agar ia dapat menguasai kekayaan mereka yang berlimpah. Ia berkata kepada mereka demi nama Allah:

...sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya Aku akan memasukkan kamu ke dalam surga... (Sura 5:12).

Selanjutnya ia meminta Para Ahli Kitab:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (Sura 98:5).

Semua orang beriman dan orang Yahudi diminta untuk:

Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu,dan perbuatlah kebaikan supaya kamu mendapat kemenangan! Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya...maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah... (Sura 22:77-78).

Jika membaca ayat-ayat ini anda akan menemukan bahwa dalam Islam bersembahyang dan menyumbangkan uang adalah solusi yang menyelamatkan bagi orang Muslim, para pendosa, musuh dan orang Yahudi. Ibadah dan donasi mereka dalam Islam membuktikan realita penundukkan diri mereka kepada Allah dan Muhammad.

2.12 -- Doa dan Perang Suci

Orang Muslim dapat beberapa kali membaca dalam Qur’an mereka mengenai perintah Allah untuk menjalankan misi bagi dunia (Sura 2:139; 8:39; 48:28; 61:9). Upaya penjangkauan ini tidak hanya dilakukan melalui perkataan dan perbuatan tetapi juga dengan senjata di tangan mereka. Sembahyang dan pedang sama-sama berasal dari Islam. Para pengikut Muhammad harus menjalani pencucian otak. Di Mekkah mereka dianiaya, merupakan kelompok minoritas yang berkumpul untuk bersembahyang, menderita dan mentolerir ejekan-ejekan musuh (Sura 2:216). Di Medina segalanya berubah. Muhammad membentuk sekelompok pasukan perang dari antara para pengikutnya, yang setelah kematiannya (pada 632 M), menaklukkan sebuah teritori yang lebih besar daripada benua Eropa. Bagaimanakah mereka dapat berubah dari sekelompok rekan yang setia berdoa menjadi pejuang-pejuang?

Kita dapat membacanya dalam Qur’an:

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (Sura 2:195).

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat) maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu, (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang segolongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu...(Sura 4:101-102).

Dalam Perang Suci bersembahyang mendapatkan pengecualian, boleh sementara duduk atau berdiri (Sura 4:103).

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung (Sura 8:45).

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tandatanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud...(Sura 48:29).

Membaca intisari ayat-ayat ini dan membandingkannya dengan pernyataan lain mengenai bersembahyang dalam Qur’an maka anda akan menyadari bahwa sembahyang, pemberian donasi (membayar zakat) dan berjuang dalam Perang Suci menggambarkan kekuatan-kekuatan utama bagi penyebaran Islam dan dasar dari kebenaran diri orang Muslim (Sura 2:177, 195; 3:92; 4:95; 22:77-78; 35:29; 98:5 dll).

2.13 -- Panggilan untuk bersembahyang

Sepuluh kali sehari para Muazin memanggil dari menara mesjid, “Marilah sholat! Marilah mencapai kemenangan!” Mereka menjanjikan keberhasilan dalam studi, dalam pernikahan dan pekerjaan bagi mereka yang bersembahyang secara teratur.

Jika banyak orang Muslim bersembahyang dan membayar pajak religi mereka maka negara Muslim akan mempunyai kesejahteraan. Di atas segala sesuatu, bersembahyang, memberi zakat dan berperang membawa kemenangan bagi Islam dan jalan masuk ke dalam taman-taman abadi (Sura 2:2-4; 3:101; 7:8, 156-157; 14:37; 23:1-11, 102; 35:29 dll). Dalam unit-unit liturgi sembahyang berjamah, orangorang yang bersembahyang mengucapkan 17 kali: “Allah mendengarkan orang yang memuji-Nya!” Mereka berharap ibadah mereka akan menjadi kunci bagi keberhasilan mereka dalam hidup ini dan di dunia yang akan datang.

Beberapa kali Qur’an berbicara mengenai kemenangan dan kesuksesan besar di masa mendatang ketika orang-orang Muslim yang saleh akan masuk ke dalam taman-taman firdaus dengan sungai-sungai, buah-buahan dan houris perawanperawan di firdaus). Ini adalah upah untuk doa-doa dan donasi mereka, untuk iman dan amal baik mereka, untuk perjuangan mereka dalam peperangan dan kematian mereka dalam Perang Suci (Sura 9:71-72; 44:57; 45:30; 61:12; 64:9; 85:11 dll). Qur’an bahkan menegaskan bahwa syafaat Kristus yang hidup akan menciptakan keberhasilan bagi orang-orang yang setia di kalangan orang beriman (Sura 5;118-119). Namun demikian tidak seorang Muslimpun, menurut Qur’an, yang akan masuk ke dalam surga namun yang terbaik bagi mereka adalah firdaus dengan beragam kesenangan dan kenikmatan duniawi (Sura 72:8).

Sayangnya, Muhammad sering membatasi janjinya secara drastis dengan menambahkan kata “mungkin”. Setelah tuntutannya supaya mendengarkan Qur’an, untuk berdoa, untuk membayar dan untuk taat, ia menambahkan: ”Barangkali dengan begitu kamu akan menemukan kasih karunia” (Sura 17:79; 22:77; 62:10 di samping ayat-ayat lainnya).

Dalam Islam tidak ada kepastian akan pengampunan dari dosa dan tidak ada pengetahuan akan keselamatan yang meyakinkan, atau pengharapan yang pasti akan hidup kekal sebagaimana para pengikut Kristus menerimanya. Allah menantang orang-orang Muslimnya hanya pada sebuah pengharapan kosong yang tidak jelas.

Di samping ketidakpastian ini, orang-orang Muslim memohon akan bimbingan Allah (Sura 1:5-6; 2:2-5; 3:101 di samping ayat-ayat lainnya). Mereka juga harus mencari damai dalam batin ketika menyembah yang Ditinggikan (Sura 70:22), dan berharap agar doa-doa dan persembahan yang mereka berikan akan menghapuskan perbuatan-perbuatan mereka yang jahat (Sura 11:114)! Ketika mengalami penganiayaan, mereka berpikir untuk merasakan kedekatan dengan Allah dalam doa (Sura 96:9-19) dan menantikan upah mereka (Sura 40:60). Mereka mencoba mengatasi ketakutan mereka akan Allah dan penghakimannya dengan cara bersujud padanya (Sura 22:35), dan coba mengatasi kegelisahan dan ketakutan mereka dengan cara menyerukan doa-doa individual (Sura 32:16).

Qur’an menjanjikan pada mereka bahwa doa-doa mereka akan membersihkan hati nurani dan akan ditambahkan pada rekening mereka di surga jika doa-doa mereka itu diikuti dengan pemberian-pemberian (Sura 5:6; 9:103; 29:45; 35:18; dan ayatayat lainnya).

Mereka bahkan datang pada Allah untuk memohonkan pengampunan atas hutanghutang dan pelanggaran mereka terhadap hukum Islam tanpa pernah memperoleh sebuah keyakinan batiniah bahwa mereka telah dibenarkan (Sura 9:102; 28:67; 66:8).

Islam bukanlah sebuah agama yang didasarkan atas anugerah dari seorang Juru Selamat tetapi sebuah usaha untuk memperoleh keselamatan dengan cara melaksanakan hukum. Dengan melakukan sholat, donasi dan berperang, orangorang Muslim berharap akan mendapatkan jalan masuk ke dalam taman-taman yang kekal (Sura 3:136; 5:12; 9:20-22, 88-89, 111; 13:22; 17:79; 19:34; 61:10-12).

2.14 -- Apa Yang Hilang Dalam Doa-Doa Orang Muslim?

Muhammad mendorong murid-muridnya untuk memikirkan apa yang mereka doakan karena liturgi yang mereka ulangi sebanyak 17 kali sehari itu seringkali berakhir dalam pemikiran yang tidak jelas. Doa-doa yang bebas, dengan pemikiran dan keputusan yang bersumber dari dalam diri sendiri, tidak terlihat dalam ibadah doa yang sifatnya resmi seperti itu (Sura 2:177).

Orang yang mempelajari liturgi-liturgi ibadah kepada Allah tidak akan menemukan doa syafaat bagi orang Muslim, Yahudi, Kristen atau siapapun juga. Bahkan kerabat, teman atau kenalan tidak disebutkan dalam syafaat kecuali permohonan berkat secara umum pada akhir liturgi ibadah.

Tidak adanya permohonan syafaat berkaitan dengan keyakinan Islam bahwa orang yang berdosa tidak berhak untuk mendoakan orang lain atau dengan rela hati turut menanggung beban (Sura 6:164; 17:15; 35:18; 39:7; 53:38). Jika seorang Muslim yakin akan pengampunan atas dosa-dosanya pada Hari Penghakiman, maka berdasarkan Qur’an, doa syafaat apapun akan sia-sia. Setiap orang harus mengusahakan keselamatannya sendiri dan menanggung hukuman atas dirinya sendiri.

Hak unik orang Kristen untuk bersyafaat tidak didasari atas kebenaran dan kasih mereka sendiri tetapi pada kurban penebusan Yesus Kristus dan pengampunan atas semua dosa mereka melalui kematian-Nya menggantikan mereka. Bahkan menurut Qur’an, oleh karena kesucian-Nya, kemurnian-Nya dan ketidakberdosaan-Nya, Yesus Kristus mendapat wewenang untuk menaikkan syafaat., untuk mati dengan ikhlas dan untuk bertindak sebagai Imam Besar. Tetapi Muhammad, oleh karena ia harus meminta pengampunan atas dosa-dosanya, tidak berwenang untuk bersyafaat bagi para pengikutnya atau mendamaikan mereka dengan Allah (Sura 40:55; 47:19; 48:2; 110:3). Dalam Islam tidak ada Roh Kudus sebagaimana dalam Perjanjian Baru. Oleh karena itu, kasih Tuhan tidak dapat dicurahkan ke dalam hati orang Muslim (Roma 5:5b). Tidak ada roh syafaat yang mendorong mereka untuk bersyafaat.

Namun demikian, lawan dari doa-doa syafaat dalam Islam adalah doa-doa kutuk Muhammad dalam Qur’an. Dalam sebuah formula kutuk ia meminta Allah untuk memerangi semua orang Kristen dan membunuh mereka selama mereka mengakui Kristus sebagai Putra Tuhan (Sura 9:30)! Muhammad “menguji” uskup Wadi Nadjran di hadapan delegasi 60 orang Kristen dan mendesak mereka untuk membawa anakanak laki-laki mereka dan para istri mereka dan berhadapan dengan pengadilan agama. Kemudian, Muhammad dengan para pengikutnya dan putra-putra mereka dan juga para istri mereka akan berbaris berhadapan dengan mereka (orang-orang Kristen itu) dan berdoa agar Allah membinasakan para pembohong dan menghancurkan mereka seperti anak-anak Korah (Sura 3:61). Orang Muslim juga menggunakan doa-doa kutuk dalam Perang Suci sebagaimana para Sheik mereka menggunakan ilmu hitam untuk melawan musuh-musuh Islam dan juga menjahati para misionaris.

Ke dalam kategori doa-doa negatif juga termasuk perintah Allah untuk tidak berdoa di kubur orang yang tidak beriman (Sura 9:84). Muhammad bahkan mengutuk jenazah para musuhnya yang diperintahkannya untuk dibuang ke dalam sebuah sumur yang kotor setelah usai Perang Badr. Orang Muslim tidak mengasihi musuhmusuh mereka (Sura 3;28; 4:89; 8:72-73; 60:1, dll). Ibadah-ibadah mereka seringkali dikaitkan dengan kebencian. Doa dalam Islam sama sekali tidak berarti mengampuni dan mengasihi, tetapi untuk meninggikan Allah dan berharap agar Ia mau memberkati para penyembah-Nya dan mengaruniakan mereka kesuksesan.

2.15 -- Para pendoa di dalam Alkitab dan Qur’an

Muhammad telah memasukkan beberapa kisah Alkitab ke dalam Qur’an, namun ia mengubahnya dan memberi warna Islam.

Allah di dalam Qur’an telah memerintahkan kepada Musa, setelah Ia muncul dalam semak yang menyala-nyala, untuk mempraktekkan doa-doa liturgis (orang Muslim) dan membayar pajak agama (Sura 20:12-14)! Pada mulanya, Yang Maha Kuasa telah menyatakan diri-Nya sendiri sebagai “Tuhan” kepada Musa tetapi kemudian mengakui bahwa dalam kenyataannya ia adalah Allah dan tidak ada Tuhan lain selain diri-Nya. Misteri nama Yahweh tetap tersembunyi dalam Islam, tetapi konsep tentang Allah menduduki tempat sentral. Juga hukum Musa bercampur-aduk dengan perintah-perintah Syariah (Sura 20:3-16).

Setiap orang Israel ditantang untuk memelihara ikatan perjanjian mereka dengan Allah, karena Ia menjaga ikatan perjanjian-Nya dengan mereka. Mereka harus takut kepada (bukan mengasihi) Allah, percaya kepada Qur’an yang mengkonfirmasi Taurat, dan harus menjalankan kewajiban bersembahyang dalam Islam, membayar pajak agama dan bersujud bersama-sama orang-orang yang bertelut menyembah Allah (Sura 2:40-43).

Imam Zakharia disebutkan beberapa kali dalam Qur’an, bahwa ia meminta diberi seorang putra yang baik, dan bahwa kemudian para malaikat, dalam sebuah ibadah menyatakan jawaban Allah atas permintaannya itu. Dalam peristiwa ini Muhammad mengaitkan doa pribadi (al-du’aa), doa/sembahyang berjamaah (al-salaat), untuk menunjukkan bahwa hanya dengan menyembah Allah orang dapat mengharapkan jawaban atas doa-doanya (Sura 3:38-39).

Dalam Qur’an, Maria Ibu Yesus digambarkan sebagai seorang wanita yang tekun berdoa, tidak pernah beranjak dari tempat doa di Bait Suci siang dan malam. Oleh karena ia selalu berdoa “dalam arah yang tepat” diperkirakan utusan Allah selalu menyediakan makanan untuknya secara teratur. Maria bersaksi, “Allah menyediakan kebutuhan harian bagi siapa yang dikehendaki-Nya, tanpa dipungut biaya”. Dalam konteksnya kesaksian berarti doa-doa reguler menjamin makanan sehari-hari (Sura 3:37).

Kemudian “para malaikat” menyatakan kepada Maria yang telah dipilih Allah, membersihkan dan mengangkatnya karena menjadi wanita terbaik dari semua wanita lain di dunia ini dan di akhirat. Ia harus tunduk kepada Allah, bersujud di hadapan-Nya dan bertelut bersama orang-orang yang menyembah-Nya. Muhammad meninggikan perawan Maria untuk mengintegrasikan gereja ortodoks kepada Islam. Pada saat yang sama ia memperkenalkan Maria sebagai teladan bagi semua wanita Muslim dengan menghadirkannya sebagai seorang wanita yang tekun berdoa dalam kerangka liturgi ibadah (Sura 3:42-43).

Dikemukakan juga bahwa Isa meresponi permintaan mendesak dari para murid-Nya dan berdoa kepada Allah agar disediakan sebuah meja yang penuh makanan dari surga untuk mereka. Allah langsung mendengarkan syafaat Putra Maria, yang berarti bahwa Qur’an bersaksi akan hak istimewa Kristus bahwa Ia berhak untuk menaikkan syafaat untuk para murid-Nya kepada Allah (Sura 5:112-115). Namun demikian, menurut Qur’an, Kristus tidak berdoa kepada Allah melainkan kepada Elohim, dalam bahasa Arab: Allahumma, karena nama ini bagi Muhammad nampaknya merupakan kunci terbaik untuk mendapatkan jawaban dari Allah.

Dalam Qur’an, Kristus setelah kematian-Nya terangkat ke surga. Dikatakan bahwa Ia bersyafaat bagi para pengikut-Nya yang bersalah, dalam sebuah dialog dengan Yang Maha Kuasa. Kristus meminta-Nya secara tidak langsung untuk mengampuni dosa-dosa mereka. Menurut Islam, Kristus hidup bersama Allah! Tetapi Muhammad mati! Fungsi Kristus sebagai Imam Besar muncul sebagai bayangan yang terdistorsi dalam Qur’an (Sura 5:116-119).

2.16 -- Perbedaan-perbedaan mendasar antara doa seorang Muslim dan doa orang Kristen!

Seorang Muslim tidak dapat mendekati Allah seperti seorang anak mendekati bapanya. Doa orang Muslim berdasarkan pada rasa hormat dan takut yang mendalam kepada Allah. Doa dalam Islam tidak sama dengan percakapan bebas dengan Bapa di surga yang siap mendengarkan anak-anak-Nya siang dan malam. Sembahyang lima waktu menurut syariah adalah kewajiban legal dengan kata-kata yang sudah ditetapkan. Orang yang mau menggenapi kewajiban ini akan dihormati di dunia ini dan di akhirat. Orang yang tidak menjalankannya akan dipisahkan dari berkat Yang Maha Kuasa dan dihukum dalam kekekalan. Ibadah kepada Allah adalah tulang punggung Islam dan membuat penyerahan seorang Muslim kepada Tuhannya menjadi semakin nyata!

Orang Muslim tidak mengenal Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus, bahkan mereka menolak-Nya sebagai Bapa! Mereka berdoa ke arah yang salah! Mereka tidak mengenal juruselamat mereka yang telah menebus mereka! Mereka juga tidak mengakui dosa-dosa mereka dalam ibadah maupun dalam Fatiha. Mereka berusaha untuk membenarkan diri mereka sendiri melalui doa-doa mereka, donasi/zakat, dan berperang (berjihad). Roh Kudus asing bagi mereka. Keilahian-Nya disangkali. Oleh karena itu Roh Bapa dan Putra tidak berdoa di dalam diri mereka. Dalam Islam tidak ada kehidupan spiritual. Tidak ada kasih ilahi yang menolong mereka untuk mengampuni musuh-musuh mereka sebagaimana Tuhan telah mengampuni mereka.

Doa dalam Islam berarti pengagungan stereotip terhadap Allah tanpa ucapan syukur atas sebuah pertolongan tertentu dari-Nya, tanpa syafaat dan lagu pujian yang ikhlas. Di mesjid hampir-hampir tidak ada nyanyian, hanya sebelum demonstrasi atau perang untuk saling menguatkan diantara mereka. Orang Muslim tidak mengenal alasan untuk memuji Tuhan. Ketakjuban yang dalam pada Yang maha Kuasa mendominasi ibadah mereka.

Namun sebaliknya, ibadah yang berdasarkan Injil mengandung sukacita komprehensif dan memberikan harapan pasti akan hidup kekal. Anugerah Yesus Kristus dan kuasa Roh Kudus menciptakan sebuah atmosfir yang berbeda dari apa yang anda temukan dalam Islam. Penghiburan dari Tuhan yang menenteramkan memberi ruang bagi pertobatan sejati dan memerdekakan kita dari semua kesalahan melalui kematian Yesus Kristus yang menebus manusia. Bahkan dalam kehancuran kesombongan kita, kita dapat yakin seperti Daud yang berkata dalam Mazmur 51:14 Pulihkanlah padaku sukacita keselamatan-Mu, dan topanglah aku dengan roh kerelaan.

Allah dalam Islam bukanlah Tuhan yang sejati! Orang Muslim menolak anugerah Yesus Kristus, kasih Tuhan dan persekutuan dengan Roh Kudus. Oleh karena itu, atmosfir buruk yang membawa perbudakan kolektif ada dalam ibadah-ibadah orang Muslim. umat tidak menerima penebusan dan juga tidak mempunyai damai yang tinggal tetap.

2.17 -- Kuis

Jika anda telah mempelajari buklet ini dengan seksama, anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan mudah. Barangsiapa dapat menjawab 90% dari semua buklet yang berbeda dari seri ini dengan benar, dapat memperoleh sebuah sertifikat dari pusat kami mengenai:

Studi-studi Lanjutan
Dalam memahami akar-akar Qur’an mengenai Syariah Islam

Sebagai penyemangat untuk pelayanannya di masa depan bagi Kristus. Kami sangat menghargai jika anda mencantumkan referensi Qur’an dalam jawabanjawaban anda.

  1. Seberapa sering seorang Muslim bersembahyang dalam sehari?
  2. Apakah perbedaan antara sholat dan permohonan pribadi kepada Allah?
  3. Apakah seorang Muslim duduk, berdiri atau membungkuk ketika bersembahyang?
  4. Apakah arti kata Islam?
  5. Seberapa sering seorang Muslim bersujud kepada Allah dalam sembahyang lima waktu?
  6. Apakah nilai dari doa orang Muslim dalam sembahyang berjamaah?
  7. Menurut Qur’an dan Syariah pada waktu-waktu apakah dalam sehari seorang Muslim harus bersembahyang?
  8. Seberapa sering ia harus berdoa dengan liturgi yang sama setiap hari?
  9. Apa artinya bahwa seorang Muslim harus berwudhu sebelum bersembahyang?
  10. Apa yang anda pelajari dari Sura 5:6 mengenai wudhu (pembasuhan sebelum bersembahyang) dalam Islam?
  11. Menurut orang Muslim apa yang akan membersihkan nuraninya di samping menjalankan ritual doa?
  12. Mengapa semua doa tidak bernilai jika orang Muslim tidak bersembahyang menghadap arah kiblat yang benar?
  13. Mengapa orang Muslim mengklaim bahwa mereka telah membangun Ka’bah?
  14. Mengapa pada mulanya semua orang Muslim bersembahyang menghadap ke Yerusalem?
  15. Apa artinya bahwa Muhammad mengubah arah kiblat sembahyang dari Yerusalem ke Mekkah?
  16. Hari apakah yang menjadi hari ibadah orang Muslim?
  17. Mengapa tidak ada nilai Alkitabiah bagi hari ibadah orang Muslim dibandingkan dengan hari Sabat Yahudi dan Hari Minggu orang Kristen?
  18. Seberapa sering orang Muslim harus berdoa dengan mengucapkan “Terpujilah Tuhanku, Yang Maha Tinggi?” dan seberapa sering mereka harus mengatakan, “Terpujilah Tuhanku, Yang Maha Besar”?
  19. Apakah artinya pengulangan terus-menerus dari kedua seruan itu?
  20. Seberapa sering setiap harinya orang Muslim harus menyerukan “Allah adalah yang terbesar?”
  21. Mengapa orang Muslim tidak mengenal Tuhan yang sejati walau ada 99 nama Allah yang indah dan nama-nama tambahan bagi-Nya?
  22. Apa yang sama sekali tidak ada dalam sholat orang Muslim?
  23. Mengapa Qur’an menuntut agar orang Muslim dan pengagungan mereka kepada Allah harus berdasarkan pengakuan iman Muslim?
  24. Sebutkanlah 6 artikel pengakuan iman Muslim secara lengkap!
  25. Mengapa semua orang di dunia yang tidak berdoa menurut pengakuan iman Muslim adalah orang yang tidak beriman/kafir?
  26. Mengapa semua orang yang percaya kepada Kristus sebagai Putra Allah akan dikutuki?
  27. Mengapa seorang Muslim yang bersembahyang harus percaya bukan hanya kepada Allah tetapi juga kepada Muhammad dan taat kepadanya?
  28. Mengapa semua hewan harus dipotong dalam nama Allah?
  29. Ayat mana dalam Qur’an yang menunjukkan pada anda bahwa doa dan donasi religius berarti hubungan bisnis dengan Allah?
  30. Dimanakah dalam Qur’an anda dapat membaca bahwa donasi/zakat dapat membersihkan orang Muslim yang bersembahyang?
  31. Bagaimanakah Allah dapat berkata, “Aku menyertaimu jika kamu berdoa dan membayar dan jika kamu percaya kepada Muhammad dan memberikan padaku pinjaman yang baik”?
  32. Bagaimanakah sembahyang dan Perang suci berkaitan satu sama lain?
  33. Apakah keuntungan yang diharapkan seorang Muslim dalam hidupnya setiap hari dari doa-doanya?
  34. Apa yang ia harapkan dari penyembahannya untuk hidupnya di akhirat?
  35. Mengapa Muhammad setelah banyak memberikan janji mengatakan “mudahmudahan”, dan apakah artinya ini?
  36. Mengapa orang Muslim meminta tuntunan dari Allah, damai dan perkenanan-Nya bagi mereka?
  37. Mengapa mereka tidak mempunyai jaminan apapun untuk pembenaran mereka di hadapan Allah?
  38. Apakah artinya bahwa doa Muslim tidak mengenal syafaat untuk orang lain?
  39. Apakah alasannya sehingga orang Kristen dapat mengampuni dosa-dosa orang-orang yang bersalah kepada mereka, sementara orang Muslim harus membalas dendam?
  40. Dimanakah di dalam Qur’an ada tertulis bahwa Muhammad menciptakan dan menggunakan doa-doa kutukan?
  41. Mengapa orang Muslim tidak diijinkan untuk mengasihi musuh-musuh mereka?
  42. Siapakah para pendoa dalam Alkitab yang disebutkan dalam Qur’an?
  43. Apakah perbedaan-perbedaan mendasar antara doa orang Muslim dengan doa orang Kristen?

Semua orang yang berpartisipasi dalam kuis ini diijinkan untuk menggunakan buku apa saja yang dipilihnya dan untuk bertanya pada orang yang dipercayainya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Kami menantikan jawaban tertulis anda termasuk alamat lengkap anda di surat atau surat elektronik anda. Kami mendoakan anda kepada Yesus, Tuhan yang hidup, agar Ia memanggil, mengutus, menuntun, menguatkan, melindungi dan menyertai anda setiap hari dalam hidup anda!

Dalam pelayanan-Nya,
Hamba-hamba Tuhan

Kirimkan jawaban anda ke:

GRACE AND TRUTH
P.O.Box 1806
70708 Fellbach
GERMANY

Atau melalui e-mail ke:
info@grace-and-truth.net

www.Grace-and-Truth.net

Page last modified on July 03, 2013, at 08:18 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.50)