Home
Links
Contact
About us
Impressum
Site Map?


Afrikaans?
عربي
Bahasa Indones.
Deutsch
English
Français
Hausa/هَوُسَا
עברית
O‘zbek
Peul?
Português
Русский
தமிழ்
Türkçe
Yorùbá
中文



Home (Old)
Content (Old)


Indonesian (Old)
English (Old)
German (Old)
Russian (Old)

Home -- Indonesian -- 03. Basic Differences -- 2 The call from the Minaret

This page in: -- Arabic? -- Chinese -- English -- French? -- German? -- INDONESIAN -- Portuguese -- Russian

Previous booklet - Next booklet

03. BASIC DIFFERENCES BETWEEN ISLAM AND CHRISTIANITY

2 - PANGGILAN DARI MINARET (MENARA MESJID): APAKAH ARTINYA ITU?

Hamba-hamba Tuhan



2.01 -- PANGGILAN DARI MINARET (MENARA MESJID): APAKAH ARTINYA ITU?

Hamba-hamba Tuhan

“...dan kamu akan mengetahui Kebenaran, dan Kebenaran itu akan
memerdekakan kamu."
(Yohanes 8:32)

Ketika minyak, disebabkan efek Perang Yom Kippur tahun 1973, naik menjadi empat kali harga normal, dan terus menjadi semakin mahal, maka ketegasan para Muslim pun semakin meningkat. Berdasarkan Hukum Islam (Syariah), 20 persen dari penghasilan bersih produksi minyak harus diinvestasikan untuk mendukung pengembangan agama Islam (Sura 8:41). Maka sejak saat itu, mesjid-mesjid menjamur di seluruh kontinen.

Setiap pagi, saat fajar akan merekah, segera setelah “seseorang dapat membedakan antara sebuah benang putih dan benang hitam”, muezzin (pengumandang azan), memanggil dari menara mesjid untuk menyembah Allah. Di kota-kota dan di desa-desa, suara loudspeaker mereka terdengar sangat keras di atap-atap rumah: “Sholat lebih baik daripada tidur!” Lima kali sehari, ajakan untuk sholat turun dari menara-menara itu: saat fajar, tengah hari, sekitar jam 3 sore, saat matahari tenggelam dan pada malam hari (2 jam kemudian).

Kata “minaret” berasal dari bahasa Arab “manarat”, artinya “mercu suar”. Sama halnya seperti sorotan dari lampu navigasional dipakai untuk mencegah kapal agar tidak kandas atau menabrak karang, demikian juga minaret akan memimpin semua Muslim untuk tetap tinggal di sekitar Islam dan mengajak semua orang-orang non-Muslim yang tersesat untuk bertobat dan memilih “jalan yang lurus” menuju Firdaus. Islam memandang dirinya sebagai “agama yang memanggil”, mengundang semua manusia (Din al-Da’wa), dan memiliki sebuah ideologi misionari yang penuh keyakinan serta bersifat memaksa (Sura 2:193; 8:31; 61:9-11).

Karena panggilan yang disuarakan jutaan kali dari menara-menara mesjid harus diucapkan dalam bahasa Arab, maka pertama-tama kita akan menterjemahkan doa yang diucapkan oleh muezzin tersebut:

Allah adalah lebih besar! Allah adalah lebih besar!
Allah adalah lebih besar! Allah adalah lebih besar!
Aku bersaksi: Tiada Tuhan selain Allah!
Aku bersaksi: Tiada Tuhan selain Allah!
Aku bersaksi: Muhammad adalah Rasul Allah!
Aku bersaksi: Muhammad adalah Rasul Allah!
Bangunlah untuk berdoa! Bangunlah untuk menjadi sukses!
Bangunlah untuk berdoa! Bangunlah untuk menjadi sukses!
Allah adalah lebih besar! Allah adalah lebih besar!

Pendahuluannya terdiri dari empat kali panggilan: “Allah adalah lebih besar!” Bagian terakhir merupakan pengulangan dari pendahuluan yang diucapkan dua kali. Semua seruan yang lainnya diulangi dua kali. Berikut ini, prinsip-prinsip sentral dari iman Islamik ini akan dijelaskan.

2.02 -- Allah adalah lebih besar!

Ringkasan dari pengakuan Islamik ini diulangi sebanyak enam kali dari panggilan yang diserukan oleh muezzin, dan diumumkan dari minaret tiga puluh kali dalam sehari. Penegasan ini seringkali salah diterjemahkan sebagai “Allah adalah besar!” atau “Allah Maha besar/Yang terbesar!” Jika Allah hanya “besar”, maka itu artinya ada mahluk lain yang lebih besar (daripada Dia). Sebaliknya, jika Ia dipanggil “Yang Terbesar”, maka ia akan berada dalam satu kategori dengan ciptaanNya sendiri. Tidak, Allah adalah besar melampaui semua hal yang bisa diperbandingkan!

a) Allah ditinggikan di atas semua ciptaanNya: Implikasi dari seruan iman Islamik ini adalah sebagai berikut: Allah, Yang Maha Kuasa, adalah Pencipta dari alam semesta (Sura 39:5, 67:2-3; dsb.)! Punya Dialah kemakmuran dan kekayaan. Kepemilikan dan otoritasnya melampaui segala sesuatu (Sura 31:26; 47:38). Dialah yang memiliki kekuatan dan kemuliaan. Kekuasaan dan penyembahan adalah milikNya seorang (Sura 55:27). Ia memiliki lebih banyak pengetahuan dan hikmat dibandingkan dengan semua ahli filsafat (Sura 2:282; 9:60, dsb.). Ia lebih menakutkan daripada semua bom nuklir dan hidrogen (Sura 57:2; 64:1; 67:1-2; dsb.)

b) Allah adalah lebih besar daripada semua roh dalam dunia supranatural: Kematian diyakini berada dibawah kendaliNya. Tak ada seorang pun yang mati secara kebetulan. Allah membunuh siapa pun yang Ia kehendaki (Sura 30:40; 40:68; dsb.). Bahkan Setan adalah budakNya sebagaimana halnya semua ciptaan yang lain (Sura 25:2). Keinginan Allah adalah untuk memenuhi neraka dengan manusia dan roh-roh (Sura 32:13)! Semua malaikat ada dibawah perintahNya. Qur’an berbicara mengenai Roh Kudus sebagai budak Allah juga (Sura 17:85; 97:4). Sebagaimana halnya “Jibril” (Gabriel) dianggap sebagai oknum yang telah menyampaikan pewahyuan dari Tuhannya kepada Zakaria, Maria, Kristus dan Muhammad. Roh-roh yang percaya kepada Qur’an dianggap sebagai Muslim. Namun demikian, mereka tidak memiliki akses ke Surga (Sura 72:8-14). Orang-orang Muslim percaya ketika Neil Armstrong keluar dari pesawat ruang angkasa dan menginjakkan kaki di bulan, ia mendengar seruan: “Allah adalah lebih besar”. Ketika ia kemudian ditanya melalui telepon, Armstrong menjawab bahwa ia tidak mendengar suara atau bunyi apa pun. Namun demikian, orangorang Muslim masih tetap meyakini bahwa seruan “Allah adalah lebih besar!” memenuhi seluruh alam semesta!

c) Allah adalah lebih besar dari apapun pengertian mengenai Dia: Semua pemikiran, pengetahuan dan tulisan mengenai pencipta, Tuhan dan hakim dunia tampaknya dalam Islam tidak mencukupi. Setiap statement teologis secara realitas akan gugur dan pada akhirnya akan dianggap palsu. Beberapa nama dari ke-99 nama-nama Allah yang paling indah berkontradiksi satu sama lain, sehingga, menurut al-Ghazali, Allah itu pastilah segala sesuatu dan bukan segala sesuatu. Ia tidak dapat diselami. Ia tetap secara total berbeda; agung, sangat jauh, Tuhan yang tidak terjangkau, jauh melampaui kategori-kategori dan emosi-emosi manusia (Sura 47:4-5).

Ia tetap dianggap sebagai Tuhan yang adil, kendati Ia menyesatkan siapa pun yang Ia inginkan. Ia membimbing ke jalan yang lurus siapa pun yang ia inginkan (Sura 6:39; 13:27; 14:14). Ia menggantikan wahyu-wahyu yang Ia sampaikan sebelumnya dengan wahyu-wahyu yang lebih baik, yang cocok dengan situasi yang berlaku kemudian. Sekitar 240 ayat-ayat dalam Qur’an telah dibatalkan dengan wahyu-wahyu kemudian (Sura 16:101-103). Yang Maha Kuasa sanggup menghancurkan hamba-hambaNya, utusan-utusan dan agen-agen pewahyuanNya saat Ia menganggap tepat untuk melakukannya. Berdasarkan Qur’an, Yesus juga dikategorikan sebagai manusia, yang bisa Tuhan hapuskan pada satu waktu, sebagaimana yang Ia kehendaki (Sura 5:17). Allah jauh melampaui ide-ide manusia mengenai keadilan. Ia adalah penipu daya yang paling cerdik dari semuanya (Sura 3:54; 8:30)! Ia tidak bertanggungjawab kepada siapa pun.

d) Allah bahkan lebih besar daripada iman Kristen: Dalam Islam, putera Maria tidak disebut Yesus melainkan “Isa”. Dengan mengganti nama ini, maka Islam telah merampok keilahianNya, eksistensiNya yang kekal dan kuasa penyelamatanNya (Sura 4:171; 5:72; 9:30). Qur’an mempresentasikan ‘Isa sebagai sebuah roh Allah yang diciptakan’, yang ditiupkan ke rahim Maria (Sura 3:47,59). Semua mujizat-mujizatNya dianggap bisa terjadi dengan seijin Yang Maha Kuasa dan dengan pertolongan rohNya (Sura 5:110). Berdasarkan teologi Islam, ’Isa tidak disalibkan, tetapi dengan diam-diam dibuat tidak sadar dan kemudian dilahirkan pada TuhanNya dalam kondisi hidup (Sura 3:55; 4:157-158). Berdasarkan tradisi, Ia akan kembali pada akhir zaman untuk membunuh anti-Kristus dan untuk mengubahkan orang-orang tak bertuhan menjadi Islam. Allah dianggap lebih besar daripada ‘Isa, yang akan tetap untuk selama-lamanya menjadi hambaNya. Dalam Islam, Roh Kudus bukanlah kudus dalam diriNya sendiri, tetapi hanya disebut “sebuah roh dari Yang Kudus” (Sura 2:87.253; 5:110; 16:102). Sebagaimana halnya Jibril (Gabriel) ia berada dibawah otoritas Yang Maha Mulia dan pada Hari Penghakiman ia harus berdiri dalam sebuah antrian yang panjang bersama-sama dengan semua malaikat, dengan diam menantikan vonis yang akan dijatuhkan padanya (Sura 78:38)

Allah dalam Islam bukanlah Tuhan Sang Bapa. Ia tidak dikandung dan juga tidak dilahirkan. Tak ada yang menyamaiNya (Sura 112:3-4). Ia bukanlah Tuhan Yang adalah kasih adanya, yang ingin membangun sebuah hubungan pribadi dengan orang-orang Muslim, agar Ia bisa mengadakan perjanjian dengan mereka. Ia menunjukkan belas kasihan kepada siapa saja yang Ia pilih, tetapi tetap jauh keberadaanNya dengan ciptaanNya. Allah tidak hadir di Firdaus atau di Surganya Muslim. Ia jauh menjulang di atas mereka dan untuk selamanya Ia akan tetap tidak bisa diakses.

Setiap pembaca yang cerdas yang memperbandingkan outline singkat ini dengan referensi-referensi Qur’anik akan tiba pada kesimpulan bahwa: Allah dalam Islam bukanlah Tuhan di Alkitab.

2.03 -- Tidak ada Tuhan selain Allah

Setelah keempat bagian “kebesaran Allah” (takbir), muezzin akan menyerukan dengan suara yang keras iman Islamik mereka. Ketika melakukan hal ini, mereka tidak sedang mengajukan sebuah diskusi teologis, tetapi sebaliknya, mempresentasikan kepada semua Muslim, bahwa mereka sedang mengucapkan pengakuan akan pondasi dan kultur dari agama mereka. Siapa pun yang mendengarkan panggilan ini, harus mengulangi deklarasi iman Islamik dengan bibirnya atau di dalam hatinya. Kapan pun pengakuan ini diserukan, diperdengarkan atau diterima, pemerintahan Allah telah dimulai, sesuai dengan pemahaman Islamik.

Siapa pun yang dengan sadar mengucapkan kesaksian ini dua kali di hadapan para Muslim, maka dengan ini ia menjadi seorang Muslim! Pengulangan dari artikel iman ini tidak hanya merupakan bagian pertama dari pengakuan (Kredo) Islamik, tetapi ia juga memiliki jangkauan yang jauh, yang secara legal merupakan karakter yang mengikat.

Muslim memberikan kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (Sura 59:23). Dengan melakukan hal ini, mereka memasuki konflik yang sama seperti yang pernah dialami Musa dan nabi-nabi Perjanjian Lama. Muhammad ingin menghapuskan politeisme di Ka’aba yang ada di Mekah, dan mendirikan sebuah agama modern yang merupakan sinkritisme antara Yudaisme, Kekristenan dan komunitas-komunitas agama lainnya. Ia percaya kepada satu-satunya Tuhan, sebagaimana halnya orang-orang Yahudi mengakuiNya dan dengan keras menyangkali kemungkinan bahwa Yang Satu itu ada dalam Tiga (Sura 4:171; 5:73,116). Muhammad mengecam iman kepada Trinitas yang Kudus sebagai sebuah penghujatan yang tidak bisa diampuni. Misteri kasih Tuhan yang berinkarnasi dalam puteraNya Yesus, agar semua yang percaya padaNya bisa menerima Roh Kudus, tidak cocok dengan konsep dari nabi Arab ini (Sura 9:29).

Karena itu, panggilan dari minaret memiliki implikasi sebagai sebuah penolakan yang sangat mencolok terhadap Tuhan sebagai Sang Bapa, Anak dan Roh Kudus! Kesaksian dari para muezzin berisi sebuah pesan anti-Kristen dan anti-spiritual, yang merobek semua mimpi-mimpi humanistik dari Pencerahan hingga tinggal serpihan-serpihan. Allah Islam tidak akan pernah merupakan Bapa dari Yesus Kristus! Panggilan dari minaret ibarat ribuan serangan yang dilakukan secara terus-menerus terhadap keyakinan dari setiap orang Kristen! Sayangnya, hanya sedikit orang yang memahami hal ini.

2.04 -- Muhammad adalah UtusanNya

Para muezzin tidak hanya menyatakan iman mereka kepada Allah, tetapi juga iman mereka kepada Muhammad, yang, berdasarkan pengakuan Islamik, ia bukan hanya seorang nabi, tetapi merupakan Utusan Allah. Bahkan Muhammad sendiri memahami dirinya sebagai seorang pengawas yang memberikan peringatan kepada umat akan kedatangan hari penghakiman (Sura 13:7; 38:4,65; 50:2, dsb.). Ia menyaksikan hukum Islamik (Syariah) sebagai satu-satunya kemungkinan bagi murid-muridnya untuk bisa diselamatkan dari penghukuman Hakim yang kekal. Muhammad tidak pernah menyebut dirinya sebagai penyelamat, pembebas atau seorang mediator, melainkan memandang dirinya sebagai utusan atau wakil Allah, mencoba untuk membimbing semua Muslim ke Firdaus melalui mentaati hukum-hukumnya (Sura 1:6; 5:48, 45:18).

Muhammad tidak hanya menuntut kepada para pengikutnya untuk mempercayai dan beriman kepada dirinya sendiri, tetapi juga ketaatan dan penyerahan tanpa syarat terhadap otoritasnya (Sura 4:59, 150-152; 7:158; 47:33; 49:14; 57:28). Banyak dari para idealis yang meyakini bahwa Islam mengajarkan iman hanya kepada Allah. Ini adalah sebuah kesalahan. Qur’an juga menuntut sebuah ketaatan iman secara menyeluruh kepada Muhammad. Setiap Muslim harus hidup sama seperti nabinya hidup. Ia harus, diumpamakan “mengenakan” Muhammad! Cara hidupnya (Sunnah) merupakan sumber kedua dari Syariah. Karena itu Muhammad menjadi standard dan tujuan dari agamanya.

Islam bukanlah agama dalam pengertian sebagai Pencerahan, melainkan sebuah ideologi dimana agama dan politik, ibadah dan Perang Suci, iman dan legislasi dianggap sebagai sebuah kesatuan. Tujuan Islam yang tetap adalah negara berdasarkan agama (Sura 2:193; 8:39; 49:14). Hukum menuntut sebuah otoritas eksekutif, sama halnya dengan negara Islamik membutuhkan sebuah hukum juga). Untuk alasan inilah, agama dan politik harus merupakan satu kesatuan. Muhammad memahami dirinya baik sebagai seorang nabi dan juga seorang negarawan. Musa adalah satu dari role model yang paling penting baginya.

Hassan al-Banna, pendiri dari Persaudaraan Muslim di Mesir, mengajarkan bahwa seorang beriman yang berdoa, berpuasa dan membayar pajak keagamaannya, masih tetap gagal untuk menjadi seorang Muslim yang baik. Hanya ketika Syariah dilaksanakan di negara dimana ia hidup, maka imannya pun akan bisa mencapai kesempurnaan. Semua praktek-praktek keagamaan lainnya hanya merupakan tahap awal dari Islam yang sesungguhnya. Untuk alasan ini, iman kepada Muhammad selalu tertuju pada sebuah negara agama.

2.05 -- Marilah berdoa!

Sepuluh kali sehari, orang-orang Muslim mendengar panggilan ini dari para muezzin mereka. Hal ini tidak berarti bahwa mereka dipanggil untuk melakukan doa pribadi dengan tidak bersuara, tetapi untuk beribadah di mesjid sebanyak lima kali. Siapa pun yang tidak bisa pergi ke mesjid, bisa melaksanakan ritual doa yang diwajibkan ini di rumah mereka, di pesawat terbang atau di tempat-tempat umum. Ritual doa jika memungkinkan harus diucapkan dalam bahasa Arab. Semua Muslim diwajibkan untuk berdoa, karena beribadah kepada Allah ada tertulis dalam hukum!

Setiap waktu doa didahului dengan melakukan wudhu (pembersihan) sesuai dengan ritual yang ditentukan (Sura 5:6). Muhammad Hamidullah menggambarkan ritual ini dalam bukunya “Introduksi kepada Islam” sebagai berikut: “Langkah pertama adalah memformulasikan penekanan mengenai pemurnian, dengan mengatakan “bismillah” (dengan nama Allah), mencuci tangan hingga pergelangan, membasuh mulut dengan air, membersihkan lubang hidung dengan air, membasuh muka dari jidat hingga dagu dan dari telinga yang satu ke telinga yang lain, membasuh lengan kanan dan kemudian lengan kiri hingga siku (inklusif), menyapukan jari-jari yang basah ke muka dan lubang telinga (dan berdasarkan pengajaran beberapa sekolah, juga termasuk leher), kemudian pertama-tama mencuci kaki sebelah kanan dan kemudian sebelah kiri hingga pergelangan – melakukan setiap aksi ini sebanyak tiga kali (kecuali airnya tidak mencukupi, dimana dalam sejumlah kasus sekali pun sudah dianggap mencukupi).”

Jika rangkaian pembasuhan dilaksanakan tidak benar, maka doa dari individu tersebut menjadi batal. Jika air sepenuhnya kurang, seseorang boleh membasuh muka dan tangannya dengan pasir atau batu (tayammum) sebagai pernyataan kesungguhan dan untuk menggantikan ritual pemurnian diri. Setelah melakukan wudhu hingga berakhirnya ritual doa, kecuali untuk bernafas dan mengeluarkan kata-kata, tak ada satu pun yang boleh keluar dari tubuh seorang Muslim, sebab jika tidak maka ibadahnya menjadi batal.

Seorang Muslim tahu bahwa ia tidak bisa datang menghampiri Allah seperti apa adanya dia. Ia harus memurnikan dirinya sendiri dari kepala hingga kaki. Pembaharuan pikiran dan pengudusan hati tidak dikenal dalam Islam. Karena itu, pengudusan harian untuk berdoa tetap bersifat eksternal dan “hanya di permukaan saja”, tidak memproduksi sebuah pertobatan yang dalam atau sebuah perubahan karakter, atau sebuah pemurnian keinginan.

Ke-lima doa wajib dari orang-orang Muslim secara praktis tidak melibatkan komunikasi dengan Tuhan. Doa itu terdiri dari liturgi-liturgi yang sudah ditentukan, yang bertujuan untuk memuliakan Allah dan penyerahan diri para individu kepada ketuhananNya. Sebuah pengakuan dosa atau sebuah syafaat bagi mereka yang tengah mengalami kesusahan hampir-hampir tidak ditemukan dalam ritual doa/sholat.

Pada awalnya, orang-orang yang hendak sholat di mesjid akan berdiri di barisannya dan berkonsentrasi dengan apa yang akan mereka katakan atau doakan. Kemudian, mereka akan memberikan pengakuan pada permulaan lingkaran doa bahwa “Allah adalah lebih besar!” Setelah itu, dengan tidak bersuara mereka akan mengucapkan untuk diri mereka sendiri Al-Fatiha, doa utama Islam (Sura al-Fatiha 1:1-6), atau Sura kesetiaan (Sura al-Ikhlas 112:1-4), keduanya berisi sebuah penyangkalan langsung terhadap Trinitas.

Para pemuja/umat kemudian merangkum doa yang mereka naikkan dengan tidak bersuara dengan sebuah seruan “Allah adalah lebih besar”!, menundukkan kepala mereka selagi mereka berdiri dan berbicara dalam hati: “Kemuliaan bagi Tuhanku yang besar!

Setelah itu mereka kembali menegakkan kepalanya dan berkata, “Allah mendengarkan setiap orang yang memuliakanNya!”, kemudian mereka mengulangi kalimat, “Allah adalah lebih besar!”, kemudian berlutut dan sujud, menyentuh dahi mereka ke tanah (Sura 17:107; 22:77; 48:29). Kemudian setiap orang berkata tiga kali, “Kemuliaan bagi Tuhan Yang Maha Tinggi!

Masih berlutut, mereka menegakkan kembali bagian atas tubuh mereka dan mengucapkan pengakuan, “Allah adalah lebih besar!” Kemudian mereka sujud ke tanah untuk kedua kalinya dan kembali mengucapkan doksologi Islam sebanyak tiga kali, “Kemuliaan bagi Tuhan yang Maha Tinggi!

Setelah menyelesaikan lingkaran doa yang pertama, mereka kembali berdiri dan mengulangi lingkaran berikutnya dengan seruan “Allah adalah lebih besar!”, kemudian kembali mengulangi katakata dan gerak tubuh yang sama persis dengan sebelumnya.

Berdasarkan peraturan dari orang-orang Maliki, dimana termasuk di dalamnya kebanyakan Muslim Afrika, liturgi doa yang bersifat tetap ini diulangi dua kali pada waktu fajar, empat kali pada tengah hari, empat kali pada sore hari, tiga kali pada waktu matahari terbenam, dan empat kali pada malam hari. Seluruhnya, liturgi doa yang sama dilakukan sebanyak 17 kali dalam sehari.

Pada penutupan setiap sesi doa, para penyembah mengucapkan Kredo mereka dalam sebuah versi yang diperpanjang, yang menegaskan penolakan mereka akan ketuhanan Kristus dan ketuhanan Roh Kudus. Akhirnya, setiap penyembah menyalami rekan di sebelah kanannya dengan damai Allah.

Dengan cara ini, dalam satu hari, orang-orang Muslim mengucapkan lebih dari 100 kali, “Kemuliaan bagi Tuhan Yang Maha Tinggi!”, 68 kali pengakuan, “Allah adalah yang lebih besar!”, 51 kali mereka mengulangi, “Kemuliaan bagi Tuhan Yang Besar!”, 17 kali mereka menegaskan, “Allah mendengarkan orang-orang yang memujiNya!”, 5 kali mereka mengulangi Pengakuan (Kredo) Islamik, dan mengulangi pernyataan salam damai, yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang Muslim saja. Di sini, sebuah prinsip dari pendidikan Islamik menjadi bukti: Pengulangan yang terus-menerus membawa kepada konsolidasi dan memenuhi pemikiran bawah sadar! Pemikiran rasional dan doa individual jarang dilakukan; kecuali sebuah liturgi sederhana yang dimaksudkan untuk menolong mereka yang buta huruf untuk memuliakan Allah dan menyerahkan diri mereka kepadaNya.

Penyembahan kepada Allah berpuncak pada sikap sujud Muslim, menundukkan dahi mereka hingga menyentuh tanah. Selama lima kali melakukan sholat, mereka sujud di hadapan Allah hingga 34 kali sehari. Tujuan dari praktek ini adalah untuk membawa seluruh hidup mereka kepada Sang Pencipta, Tuhan dan Hakim. Mereka sepenuhnya adalah milikNya. Seorang Muslim tidak lagi menjadi seorang yang bebas. Ia telah meletakkan dirinya ke dalam tangan Allah. Ia terikat padaNya. Ia adalah budak dan harta milikNya. Islam artinya penundukan, penyerahan, atau kepatuhan. Dalam doa-doa harian yang dilakukan, penyerahan menjadi sebuah realitas. Doa resmi adalah tulang punggung dari agama ini.

Namun demikian, Allah dalam Islam bukanlah Bapa dari Yesus Kristus. Ia adalah ilah yang lain di samping Bapa, Anak dan Roh Kudus. Hal ini berarti bahwa, ketika orang-orang Muslim menyerah kepada Allah, mereka sedang menyerahkan diri mereka ke dalam kuasa dari sebuah roh yang anti-Kristen, yang sekarang menguasai mereka. Inilah alasan bagi ikatan korporat dari kebanyakan orang-orang Muslim. Ritual doa harian yang mereka lakukan, menegaskan akan perbudakan yang mereka alami, dan yang mengendalikan mereka kepada ketaatan buta kepada perkataan-perkataan Qur’an.

2.06 -- Bangkit menuju kesuksesan!

9 kali dalam sehari, pengharapan Islamik dikumandangkan dalam panggilan Muezzin, “Siapa pun yang melakukan sholat (berdoa) akan berhasil.” Hal ini terutama mengandung makna bahwa bidang kehidupan sehari-hari akan diberkati, yaitu: kesehatan yang baik, lulus dalam ujian, efektif di pekerjaan dan keberuntungan dalam cinta, lahirnya banyak anak laki-laki, perencanaan politik dan ekonomi yang berhasil, dan kemenangan yang mulia dalam apa yang dinamakan sebagai Perang Suci (jihad). Jangkauan penuh dari keinginan duniawi Muslim juga dimasukkan dalam panggilan ini, “Bangkitlah untuk berdoa – bangkitlah menuju kesuksesan!

Mengenai hidup sesudah mati, panggilan untuk berdoa ini berusaha untuk meraih pengampunan dosa melalui penyembahan reguler kepada Allah. Tujuan lain dari pemujaan adalah sukses yang bisa dilihat dalam penyebaran Islam. Lebih jauh lagi, penekanan dari doa seperti ini adalah untuk memanipulasi roh-roh (jin) untuk tujuan personal dan kutukan spesifik terhadap musuh (Sura 3:61). Harapan dari para penyembah, melalui ibadahnya adalah untuk mendapatkan sebuah putusan yang ringan pada Hari Penghakiman, yaitu untuk dibebaskan dari api Neraka (Sura 19:72), dan untuk memperoleh akses kepada kegembiraan dan kesenangan dari Taman Firdaus (Sura 9:111).

Menjadi sangat jelas, dari apa yang baru saja disampaikan, bahwa Islam adalah sebuah bentuk pembenaran berdasarkan perbuatan. Keselamatan yang ia tawarkan bukanlah berasal lewat anugerah, melainkan melalui prestasi religius personal. Seorang Muslim berharap bahwa perbuatan-perbuatannya yang baik akan meringankan perbuatanperbuatannya yang jahat (Sura 11:114). Ia percaya bahwa ia akan dibenarkan melalui memuja Allah (Sura 5:12; 35:29-30; dsb.). Dengan berpuasa pada bulan Ramadhan, membayar pajak keagamaan, dan juga memberikan sedekah kepada fakir miskin, merupakan ekspresi dari penebusan diri yang sengaja dilakukan dan telah dikalkulasikan sebelumnya. Doa adalah sebuah perjanjian dengan Allah yang, lebih cepat daripada komputer, mencatat nomor dan intensitas dari ibadah para pemuja serta menimbangnya dengan dosa-dosa dan kelalaian di sisi yang lain (Sura 4:6,86; 6:62; 24:39).

Lima kali waktu sholat bukanlah sesuatu yang dilakukan dengan sukarela atau sesuatu yang dilakukan karena bimbingan roh: ini adalah sebuah kewajiban dan sebuah hukum. Waktunya sudah ditetapkan dan liturginya pun sudah ditentukan. Setiap Muslim harus tunduk pada persyaratanpersyaratan syariah (hukum Islam). Ketaatan mereka secara persis, dikatakan bisa menyelamatkan seseorang dari penghakiman Allah. Islam adalah agama yang ada di bawah hukum dan bukan ditemukan melalui anugerah dari seorang Penyelamat (Sura 5:9; 22:50; 29:7; 33:35; dsb.).

Di sinilah terletak kesalahan utama Islam. Sementara ritual pembasuhan (wudhu) sebelum waktu sholat hanya bisa memurnikan kulit dan bukan hati, karena itu doa dalam Islam tidak bisa memproduksi keselamatan sepenuhnya. Muslim tidak menyadari kerusakan dirinya karena ia tidak menyadari Tuhan Yang Maha Kudus yang adalah kasih. Ia meraba-raba di tempat yang berkabut sebab ia tidak berjalan dalam terang Alkitab. Ia membayangkan bahwa ia cukup baik untuk menyelamatkan dirinya dari penghakiman Allah. Ia tidak tahu bahwa ia dilahirkan dalam kondisi berdosa dan bahwa apa pun yang ia lakukan telah dinodai oleh dosa (Kejadian 6:5; 8:21; Mazmur 51:5). Ia menolak Sang Penyelamat, Yesus Kristus dan menolak keselamatan yang dibangun berdasarkan anugerah cuma-cuma dari Bapa, yang sudah dipersiapkan baginya. Muslim tidak bisa memahami pujian Rasul Paulus yang menulis himne berikut ini:

Terberkatilah Elohim dan Bapa Tuhan kita YESUS Kristus, yang telah
memberkati kita dengan segala berkat rohani di alam semesta di
dalam Kristus. (Efesus 1:3 – ILT)

Orang Kristen tidak berdoa supaya mereka akan diselamatkan atau meraih kesuksesan pada waktunya dan dalam kekekalan; sebaliknya mereka berterimakasih kepada Bapa mereka di surga karena Ia sudah menyelamatkan mereka melalui puteraNya Yesus Kristus. Setelah kematian di kayu salib untuk penebusan yang dilakukan oleh PuteraNya, ia membuka lebar-lebar pintu gerbang surga untuk mereka yang menyembahNya dan untuk para lawan (Kis 2:17-21). Tujuan dari doa yang kita naikkan adalah untuk mengekspresikan ucapan terimakasih kita atas keselamatan yang menyeluruh melalui pencurahan Roh Kudus di dalam hati kita. Kita tidak menyembah Tuhan supaya Ia berbelas-kasihan kepada kita, tetapi sebaliknya kita mengasihi dan memujiNya karena Ia telah membenarkan kita dan melahirkan kita kembali melalui RohNya. Kita berdoa supaya seluruh kehidupan kita akan menjadi pujian bagi kemuliaan anugerahNya (Efesus 1:13-14)

2.07 -- Allah adalah lebih besar!

Di akhir dari panggilan mereka untuk melaksanakan sholat, para muezzin kembali menyerukan sebanyak dua kali, “Allah adalah lebih besar!” Seluruhnya sebanyak 98 kali sehari Allah ditinggikan dari menara-menara mesjid.

Penyembahan kepada Allah ini kadang-kadang bisa memimpin pada sebuah perpecahan dalam sebuah suku jika beberapa dari anggotanya menolak untuk memeluk Islam. Para partisan Hizbullah dianggap telah menerima porsi yang spesial dari roh Allah, sebab mereka lebih suka komunitas Muslim untuk terikat dengan saudara-saudari mereka yang belum percaya pada Islam. Jika saudara-saudari mereka ini tetap menolak iman Islam, maka para gerilyawan pejuang ini diminta untuk meninggalkan atau menyerang mereka (Sura 58:22).

a) Allah dianggap lebih besar daripada sebuah negara Islamik liberal yang menolak untuk mengaplikasikan syariah dalam integritasnya. Panggilan para muezzin adalah menghasut para pendengar untuk mengadakan revolusi, yaitu jika sebuah pemerintahan Muslim menyangkali otoritas syariah. Dalam sebuah negara non-Islamik, orang beriman diharapkan untuk mempersembahkan masyarakat tidak percaya yang ada di sekeliling mereka melalui nama dengan tujuan untuk menginfiltrasi mereka dari dalam.

b) Allah juga dianggap lebih besar daripada ketakutan dan keraguan dari kebanyakan orang-orang Muslim untuk menantang musuh-musuh Islam dibawah keanehan yang berlebih-lebihan. Mereka dijanjikan bahwa para malaikat akan menolong mereka ketika terjadi peperangan. Mereka dipanggil untuk mempercayai kemenangan minoritas Islamik melawan setiap mayoritas anti-Islamik. Bukan saja bahwa mereka akan mengalahkan musuhmusuh Islam, tetapi bahwa Allah sendiri akan berperang melawan mereka dan menghancurkan mereka melalui intervensi mereka (Sura 8:17). Ayat ini membuka lebar-lebar pintu kepada terorisme dengan mendefinisikan tindakan kekerasan yang keji dan disengaja sebagai ibadah kepada Allah.

c) Allah dianggap lebih besar dari semua penyembah berhala, orang-orang tidak percaya, orang beriman yang setengah hati, Yahudi dan Kristen. Semuanya ditantang oleh para muezzin untuk mengambil bagian dalam doa-doa harian. Sikap tunduk mereka di hadapan Allah menjadi tanda luar dari pertobatan mereka. Namun demikian, Qur’an mendeklarasikan sebuah perang tanpa belas kasihan pada siapa pun yang menolak untuk menerima iman (Sura 2:191-193; 8:60; 9:5,12-14,29). Meskipun demikian, orang Yahudi dan Kristen, jika mereka tunduk, mereka memiliki hak untuk diperlakukan sebagai warga negara kelas dua di sebuah negara Islamik.

d) Allah dianggap lebih besar dari semua illah. Otoritasnya atas alam semesta tidak tertandingi. Kedua perintah misionari dalam Qur’an mempersyaratkan orang-orang Muslim untuk menggunakan kekerasan yang dipersenjatai hingga tidak ada lagi godaan untuk melakukan kemurtadan dan ketundukan kepada Allah meliputi seluruh dunia (Sura 2:193; 8:39).

Hukuman yang menyakitkan dan mempermalukan di dunia sekarang dan dunia yang akan datang menanti mereka yang mencoba terlebih dahulu memeriksa Islam (Sura 2:7; 9:101; 33:57; 45:9; 58:5.16 dsb.). Di Indonesia, lusinan orang Muslim meneriakkan kalimat “Allah hu Akbar” (Allah adalah lebih besar) sebelum mereka memperkosa gadis-gadis Kristen keturunan Cina sebagai sebuah hukuman yang mereka anggap sah karena menolak Islam. Saddam Husein mengenakan sebuah rompi anti peluru ketika ia menubuatkan kemenangan Allah atas Amerika Serikat dan Inggris. Di dinding tepat di belakangnya tidak ada apa-apa kecuali sebuah bendera bertuliskan “Allah adalah lebih besar.” Bagi dia dan Osama Bin Laden, penggunaan senjata-senjata penghancur massal ABC merupakan sebuah ibadah kepada Allah.

e) Apakah Allah juga lebih besar daripada Islam? Bentuk singkat dari iman Islamik juga berisi beberapa lubang yang berbahaya. Kaum Sufi (para mistik Islam) dalam asosiasi-asosiasi (turuq), mencoba untuk mengalami sebuah kesadaran personal yang lebih besar dalam penyembahan mereka melampaui peraturan-peraturan kaku syariah dan liturgi yang monoton di mesjid, yang mana bagi mereka, Allah sendiri melebihi hukum-hukumNya dan peraturanperaturan keagamaan. Beberapa dari mereka bahkan mencoba, melalui mempraktekkan meditasi, untuk masuk dalam kontak dengan Allah sendiri, untuk mempenetrasi Dia atau untuk mencapai ruang dari roh-roh “di luar” Dia. Mereka menganggap pemahaman tradisional mengenai Allah seumpama sebuah kulit/cangkang luar, yang mereka coba untuk penetrasikan. Mereka mengabaikan fakta bahwa banyak dari mereka, ketika berada dalam proses itu, mengalami kerasukan (Sura 3:7,23; 5:59; 24:35-36, dsb.).

f) Apakah Allah juga lebih besar dari diriNya sendiri? Allah dalam Qur’an, menyebut diriNya sebagai Yang Angkuh atau Yang Arogan (Sura 59:23). Panggilan para muezzin dan liturgi sholat mengatakan bahwa Allah tidak saja besar, tetapi bahwa kebesaranNya secara konstan semakin meluas. Bukankah roh yang angkuh ini adalah dosa dari si Setan, yang pada akhirnya akan memimpin pada kejatuhan yang besar dan membawa serta semua pengikutnya bersamanya ke Neraka?!

Yesus sebaliknya sangat berlawanan. Ia mengosongkan diriNya sendiri dan menjadi seorang bayi di palungan (Lukas 2:9-12). Ia menjadi hamba dan mengucapkan rekomendasi berikut: “Belajarlah padaku, karena Aku ini lemah lembut dan rendah hati” (Matius 11:29). Ia merendahkan diriNya hingga pada titik bagaimana Ia dicemoohkan oleh orang banyak, diludahi, disiksa dan akhirnya mati di kayu salib untuk menggantikan kita (Yesaya 53:3-12; Matius 26:66-67; Lukas 22:63-65). Karena Ia telah turun dan merendahkan diriNya sedemikian rupa, maka Elohim (YAHWEH) sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya di dalam Nama YESUS, setiap lutut, yang surgawi dan duniawi dan yang di bawah bumi, akan bertelut, dan setiap lidah mengaku bahwa YESUS Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Elohim Bapa (Filipi 2:6-11).

Kerendahan hati Yesus membebaskan para pengikutNya dari arogansi Setan dan mengajari mereka, bahwa Tuhan sejati bukanlah Tuhan yang congkak, melainkan Tuhan yang rendah hati. Salib membebaskan kita dari pembenaran melalui amal yang sangat memberatkan, dan membuka pintu bagi kehidupan dibawah anugerah. Kerendahan hati Yesus Kristus menunjukkan pada kita, bahwa persekutuan dalam Roh KasihNya adalah lebih kuat daripada sebuah tentara modern yang dipenuhi dengan pengkhianatan dan kekerasan (Matius 5:44; 26:52). Penyaliban dan kebangkitan Kristus sendiri adalah jawaban atas panggilan dari minaret. Ia telah merubah doa kita dari ibadah yang dipenuhi dengan ketakutan kepada Allah yang penuh dengan penghakiman dan hukuman, kepada pujian dan sujud kepada Trinitas yang Kudus.

2.08 -- Panggilan dari lonceng gereja

Jauh sebelum kemunculan Islam, orang-orang Kristen juga memiliki panggilan harian untuk berdoa dan berefleksi. Banyak menara yang memiliki dua, tiga bahkan lebih lonceng, yang dentangannya membawa pesan-pesan yang konkret.

Lonceng kematian yang dibunyikan dengan perlahan saat memberangkatkan jenazah anggota komunitas gereja mengingatkan kita akan doa Musa, “Maka beritahukanlah kepada kami agar menghitung hari-hari kami, supaya kami dapat membawa hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12)! Pada saat yang sama, dentangannya adalah sebuah panggilan untuk pertobatan, sebuah perubahan hati dan pulang ke rumah Tuhan. Pesannya akan masuk ke dalam kedua telinga dan hati: “Bertobatlah, karena kerajaan surga sudah mendekat!” (Matius 4:17).

Lonceng Penyaliban yang berbunyi di banyak tempat pada jam 9 pagi; yaitu waktu ketika Yesus dipaku di kayu salib (Markus 15:25; John 19:14), pada jam 11 siang, saat ketika kegelapan datang (Mat 27:45) dan pada jam 3 sore, saat ketika Yesus wafat (Mark 15:34), agar kita memahami bahwa dosa-dosa kita telah menyebabkan Tuhan dan Juru Selamat kita dipaku di atas kayu salib! Pada saat yang sama, lonceng penyaliban memberitakan kemenangan Yesus Kristus atas murka Tuhan, atas tuduhan Setan dan kuasa dosa, sehingga kita bisa dengan sukacita dan penuh syukur menerima anugerahNya yang cuma-cuma dan juga pembenaran yang seutuhnya (John 19:30; Ibrani 10:14).

Panggilan lonceng-doa yang berbunyi saat fajar merekah, pada siang dan malam hari, mengajak kita untuk mengucap syukur, menyembah, mengucapkan petisi dan syafaat, bagi pengakuan dosa dan pernyatan iman, supaya kita bisa dengan sadar menyelesaikan hari itu di hadapan wajah Tuhan dan Bapa kita. Lonceng yang sama, ketika ia berdentang pada jam 12 tengah hari, juga disebut oleh sejumlah jemaat gereja sebagai lonceng perlawanan, karena ia menantang setiap orang untuk tegar menghadapi cobaan dari si Anti-Kristus dengan doa, Firman Tuhan dan damai dalam persekutuan dengan orang-orang percaya (1 Yoh 2:22-25; 4:1-5).

Sebagai tambahan untuk kesemuanya ini, banyak gereja yang memiliki lonceng baptisan, yang dengan keras dan penuh sukacita bergemuruh ketika seorang anak atau seorang dewasa dibaptiskan, karena melalui iman dan baptisan, hidup kekal melalui Putera Elohim datang untuk tinggal di dalam kita (Matius 16:16; 28:19; Yoh 3:3,5,16).

Terkadang, gereja-gereja besar memiliki sebuah “lonceng Dominika”, yang berbunyi sebelum pelaksanaan ibadah pada hari Minggu, untuk mengingatkan jemaat akan kebangkitan Kristus dan proklamasi kemenanganNya atas maut. Pada saat yang sama, ia juga menyaksikan pengharapan yang pasti akan hidup kekal bagi setiap pengikut Yesus Kristus (1 Petrus 1:3-7).

Beberapa kubah gereja dan katedral juga memiliki sebuah “lonceng Gloriosa”. Pada hari-hari libur spesial, ia membawakan suara dari pujian yang tidak pernah berakhir dari orang-orang yang sudah ditebus, atas keselamatan yang sudah dianugerahkan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus ke setiap rumah di kota-kota dan desa-desa (Lukas 2:14; Wahyu 7:9-12).

Sebelum ibadah utama pada hari Minggu, semua lonceng (kecuali lonceng “gloriosa”), berdentang bersama-sama dan menyerukan pertobatan dan anugerah, untuk berdoa dan beribadah, untuk mempercayai kesetiaan Tuhan dan untuk menerima damaiNya yang kekal.

Setiap pendengar yang serius akan mengenali bahwa sebuah hari akan ditandai dengan 7 kali bunyi lonceng, memanggil kita untuk berada di hadapan hadirat Tuhan: bunyi lonceng pada pagi hari saat fajar merekah, bunyi lonceng pada jam 9 pagi, 11 siang, 12 tengah hari, 3 sore. Ketentuan dalam gereja nasional di Wurttemberg, ditulis pada tahun 1956, bukanlah sebuah rangkaian yang tetap, namun merupakan sebuah hak istimewa dan bisa ditambahkan atau dikurangi oleh gereja-gereja individual.

Satu hal yang pasti: lonceng tidak memanggil kita untuk memelihara hukum dengan sasaran untuk meraih pembenaran diri melalui pencapaian pribadi. Juga mereka tidak mengajak kita agar melakukan perang suci dengan tujuan menegakkan teokrasi (pemerintahan Tuhan). Sebaliknya, mereka berkontribusi untuk kemuliaan Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam Trinitas Yang Kudus (Efesus 2:4-10).

Apa yang muncul dalam pemikiran kita ketika kita mendengar suara lonceng? Siapakah yang mengerti suara mereka sebagai sebuah pengingat dan sebuah pendorong untuk kita melaksanakan doa secara hening? Dan siapa yang mendoakan banyak orang yang ada di tengahtengah kita, yang sudah lupa bagaimana harus berdoa? Siapakah yang memikirkan para pekerja asing dan orang-orang Muslim yang tinggal di sekitar kita? Ketika lonceng di negara kita tidak lagi berdentang, sebagaimana yang terjadi di bekas negara Uni Sovyet selama bertahuntahun, banyak yang merasakannya bahwa, di tengah-tengah stress yang setiap hari kita alami, sesuatu yang esensial sedang hilang.

2.09 -- Kuis

Para pembaca yang terkasih,
Jika anda sudah mempelajari buku ini dengan seksama, maka anda akan dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Siapa pun yang menjawab 90 persen dari semua pertanyaan di buku yang berbeda dari seri ini dengan benar, bisa mendapatkan sebuah sertifikat dari kantor pusat kami.

Studi Lanjut
Mengenai Perbedaan-Perbedaan Dasar
antara Islam dan Kekristenan

Sebagai sebuah peneguhan untuk pelayanan lebih jauh bagi Kristus, kami menghargai jika anda memasukkan juga referensi-referensi Qur’anik dalam jawaban anda.

  1. Tuliskanlah terjemahan Inggris dari setiap panggilan dari minaret.
  2. Apa arti seruan “Allahu akbar” dalam perspektif semua ciptaan?
  3. Hingga tingkatan apa Allah lebih besar dari semua roh-roh dan juga lebih besar dari Roh Kudus?
  4. Hingga tingkatan apa Allah lebih besar dari setiap pemikiran tentang Dia? Apa artinya konsepsi ini bagi pengetahuan mengenai Tuhan, dalam Islam?
  5. Bagaimana Qur’an menjustifikasi bahwa Allah lebih besar dibandingkan Kristus dan lebih besar dibandingkan iman di dalam Dia?
  6. Mengapa Muslim berperang secara fanatik untuk iman mereka bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?
  7. Mengapa seorang Muslim harus percaya kepada Muhammad dan mentaatinya?
  8. Apakah artinya panggilan “marilah berdoa”?
  9. Mengapa seorang Muslim harus membasuh dirinya sebelum melaksanakan sholat sesuai dengan peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan?
  10. Berapa kali seorang Muslim dalam sehari harus berdoa dengan menggunakan liturgi doa yang sudah disusun?
  11. Apakah artinya bahwa seorang Muslim harus mengulangi dalam sehari 100 kali kalimat “terpujilah Tuhanku, Yang maha Tinggi?”

Kirimkan jawaban anda ke:

GRACE AND TRUTH
P.O.Box 1806
70708 Fellbach
Germany

Atau melalui e-mail ke:
Info@grace-and-truth.net

www.Grace-and-Truth.net

Page last modified on June 19, 2013, at 10:11 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.50)