Home
Links
Contact
About us
Impressum
Site Map?


Afrikaans?
عربي
Bahasa Indones.
Deutsch
English
Français
Hausa/هَوُسَا
עברית
O‘zbek
Peul?
Português
Русский
தமிழ்
Türkçe
Yorùbá
中文



Home (Old)
Content (Old)


Indonesian (Old)
English (Old)
German (Old)
Russian (Old)

Home -- Indonesian -- 09. Comparisons -- 4.04 Second Commandment: Do Not Make Idols
This page in: -- Afrikaans -- Arabic? -- Armenian? -- Azeri? -- Bulgarian? -- Cebuano? -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Gujarati? -- Hebrew -- INDONESIAN -- Norwegian? -- Polish? -- Russian -- Serbian? -- Spanish? -- Tamil -- Turkish? -- Uzbek -- Yiddish? -- Yoruba

Previous part -- Next part

09. PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KEKRISTENAN
Perbandingan 4 - DASA TITAH

4.04 - TITAH KEDUA: JANGAN MEMBUAT BERHALA



"Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku”. (Keluaran 20:4-6)

Titah kedua melengkapi dan mengembangkan titah pertama. Karena itu, bagian ini sering dianggap oleh beberapa sistem dogmatis sebagai bagian dari titah yang pertama. Namun beberapa penafsir masih melihat titah kedua ini sebagai sesuatu yang paling sulit karena sangat sering disalahpahami.


4.04.1 - Mengenai Gambar-Gambar Kristen

Orang-orang Muslim dan orang-orang Yahudi menuduh sebagian besar orang-orang Kristen melanggar perintah dari Yang Mahatinggi. Mereka menuduh kita, “Kalianlah orang-orang yang melanggar perintah terutama dari Allah. Kalian melukis gambar-gambar Yang Mahakuasa dan menunjukkan kepada orang-orang lain hasil-hasil dari imajinasi yang sangat tidak memadai.” Aplikasi yang benar dari perintah ini sudah menyebabkan banyak kontroversi bahkan di kalangan denominasi-denominasi Kristen sendiri. Ada anggota-anggota dari gereja-gereja tertentu yang menyerang gereja lainnya dan membakar benda-benda yang mereka anggap sakral. Kita harus mengakui bahwa Allah, dalam kemuliaan-Nya yang besar, tidak akan bisa digambarkan. Setiap gambaran tentang Allah hanya akan menjadi hinaan dan merendahkan keagungan keilahian-Nya. Gambaran tentang orang-orang kudus dan para malaikat seringkali hanyalah kesia-siaan. Allah jauh lebih agung, lebih suci, lebih mahakuasa dibandingkan dengan apa yang bisa kita pikirkan di dalam imajinasi kita. Ia sepenuhnya berbeda dari apa yang bisa digambarkan oleh manusia. Ini bahkan termasuk juga lukisan-lukisan dari artis yang sangat hebat seperti Michelangelo!

Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia dengan dua cara di dalam Alkitab. Yang pertama, Ia menyatakan diri-Nya melalui firman yang diucapkan-Nya dan yang kedua, melalui penglihatan bagi para pelihat. Di dalam Perjanjian Lama Tuhan lebih sering menyatakan diri-Nya melalui firman-Nya yang penuh kuasa, dan hanya sedikit yang melalui penglihatan. Tetapi ketika Anak Allah dimuliakan ke dalam kemuliaan-Nya yang sebenarnya di hadapan para rasul-Nya, mereka tersungkur ke tanah seperti orang mati karena kekudusan Ilahi dinyatakan dan menyingkapkan kecemaran mereka. Siapa saja yang mendapatkan penglihatan tidak akan bisa menjelaskan sepenuhnya apa yang mereka lihat. Mereka hanya bisa menjelaskannya dengan penggambaran saja.


4.04.2 - Melawan Penyembahan Terhadap Berhala dan Gambaran-Gambaran

Kalau kita memperhatikan titah kedua secara seksama, kita bisa melihat bahwa titah itu tidak melarang pembuatan gambaran tentang Allah. Namun, titah itu memberikan peringatan kepada kita terhadap setiap bentuk penyembahan berhala. Mereka yang menghormati atau menyembah allah lain, patung-patung atau gambaran pahatan apapun akan menjadi sasaran kemurkaan-Nya.

Patung-patung pahatan besar berdiri di puncak-puncak gunung di Timur Dekat pada masa Perjanjian Lama. Patung-patung itu dibuat dari batu dan dipakai di dalam ibadah. Patung-patung itu juga dibuat dari kayu, batu, perak atau emas di rumah-rumah di mana mereka disembah. Tetapi barangsiapa tidak sungguh-sungguh percaya kepada Allah yang tunggal dan benar, sebenarnya mereka membukakan pintu bagi Dia untuk meninggalkan rumah mereka, dan dengan segera roh-roh jahat akan bergegas masuk. Orang-orang Yunani pada masa Yesus berkumpul di sekeliling dewa mereka untuk berkanjang di dalam nafsu perjinahan mereka. Sebelumnya, orang-orang Mesir, Asyur, dan Babel melakukan hal yang sama. Inilah sebabnya Musa dan para nabi mengadakan peperangan yang sengit melawan penyembahan berhala. Hari ini kita masih bisa melihat berhala-berhala itu, yang sudah dikutuk oleh para nabi di masa lalu, sebagai pertunjukan di museum di Kairo, Bagdad dan Beirut. Berhala-berhala itu menjadi obyek ketertarikan para turis, membuat jumlah orang yang mengunjungi tangga ke Akropolis dan makam raja-raja jauh melebihi kunjungan dari orang-orang Yunani dan Mesir kuno ke sana. Orang berusaha untuk membuat apa yang tidak nampak menjadi kelihatan, dan seringkali tidak merasa puas hanya dengan khotbah dari Firman Allah. Orang lebih ingin melihat daripada sekedar mendengar. Apa yang tidak nampak dan tidak bisa disentuh menjadi sesuatu yang asing bagi mereka. Inilah salah satu alasan mengapa televisi menjadi cobaan bagi banyak orang yang ingin bisa mentaati titah yang kedua.


4.04.3 - Gambar-gambar yang Dilarang oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Muslim

Televisi, video dan majalah-majalah dengan cepat diserap dan diterima dengan penuh kesenangan di dunia Muslim meski sudah ada larangan untuk adanya gambar-gambar sejak 1.350 tahun yang lalu. Larangan terhadap adanya gambar-gambar ini sudah menumbuhkan seni ornamentasi Arab, yang sangat nyata nampak di dalam buaya Islami baik di Arab Saudi, di mesjid-mesjid di Cina, dan istana-istana di Maroko dan juga di Afrika Utara. Efek dari titah kedua terhadap orang-orang Muslim bisa dilihat dari gambar-gambar bunga dan taman-taman dalam bentuk yang geometris di kertas, kayu, logam dan batu. Karpet dari Timur khususnya, dengan disain yang indah tentang taman dan gambaran-gambaran tentang surga, sudah sangat dikagumi di seluruh dunia.

Orang-orang Muslim di Arab Saudi harus memakai gambaran manusia tanpa kepala untuk tanda lalu lintas yang menunjuk kepada tempat pejalan kaki atau persimpangan. Masih menjadi pelanggaran hukum untuk menggambar kepala bahkan sampai saat ini. Tetapi di Iran, Turki dan India, orang-orang Muslim tidak merasa begitu terikat dengan larangan-larangan dari Al-Quran itu. Mereka bahkan melukis gambar-gambar Muhammad dan Jibril, yang sangat dilarang di kalangan Arab Muslim sampai hari ini. Ketika baru-baru ini sebuah negara di Aram membuat sebuah film tentang Muhammad, mereka tidak boleh menampakkan wajahnya. Keseluruhan film dibuat seolah-olah Muhammad sendiri yang melihat semua kejadian dengan matanya sendiri dan berbicara dengan suaranya sendiri. Ia tidak pernah dimunculkan sebagai suatu pribadi. Untuk alasan ini, para produser film Kristen harus sangat berhati-hati ketika membuat gambaran tentang para nabi Allah, malaikat atau Kristus di dalam film-film untuk orang-orang Muslim.

Orang-orang Yahudi juga sudah menerapkan titah kedua sepenuhnya dengan tidak membuat gambar tentang Allah. Ketika Titus, seorang jenderal Romawi, menaklukkan Yerusalem pada tahun 70 M dan masuk ke bait Allah, ia masuk ke dalam ruangan mahakudus karena berharap akan menemukan patung emas dan banyak perkakas berharga. Namun ia menjadi sangat kecewa. Ruangan mahakudus itu kosong karena Allah adalah roh, dan bukan benda. Ia tidak bisa dikungkung atau dibatasi menjadi sebuah gambar atau patung.


4.04.4 - Apakah Gambar-Gambar Kristus Bertentangan dengan Kitab Suci?

Orang-orang Kristen tidak memberikan penafsiran yang sama terhadap titah kedua ini dengan yang dibuat oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Muslim. Kristus menjadi manusia pada saat Ia dilahirkan. Semua orang bisa melihat Dia ia menegaskan, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9). Tujuan dari seluruh penciptaan digenapi di dalam Kristus. Alkitab menyatakan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:27). Adam dan Hawa ditunjuk untuk menjadi representasi Allah. Gambaran manusia dimaksudkan untuk merefleksikan kemuliaan Allah bahkan sampai saat ini.

Kita memiliki hak istimewa untuk menikmati ciptaan Allah dan kita bisa melukis bunga, binatang, atau manusia milik-Nya. Tetapi kita jangan sampai menuhankan mereka atau menyembah mereka. Semua makhluk tetaplah makhluk. Mereka tidak akan pernah mencapai tingkatan menjadi sang Pencipta sendiri dan tidak akan pernah layak disembah. Gambaran Allah di dalam manusia sudah dicemarkan setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, ketika dosa masuk ke dalam dunia kita. Tetapi Yesus, Adam yang kedua, memulihkan gambaran Allah di dalam manusia. Tidak heran kalau Paulus menyebut Yesus, “gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kolose 1:15).

Yesus lahir, mati dan bangkit bagi semua manusia. Jadi semua orang diijinkan untuk menggambarkan Dia sesuai dengan konsepnya sendiri, dengan bentuk Afrika, Timur, Eropa, atau Timur Dekat. Ia adalah gambaran Allah dalam bentuk seorang manusia di dalam semua budaya. Sukacita, damai sejahtera, dan kesabaran-Nya bukan hanya sekedar teori, tetapi sangat praktis. Di dalam Kristus, Allah sudah menjadi dekat dengan kita. Ia tidak lagi menyatakan diri sebagai dewa perang yang kejam, atau dengan wajah yang mengerikan, tetapi sebagai Anak Domba Allah yang rela memikul murka Allah bagi kita dan mati bagi dosa-dosa kita sehingga kita bisa hidup dengan Dia sampai selamanya. Ia sudah mengajarkan kepada kita arti dari pengorbanan. Kayu salib sudah menjadi lambang dari kasih Ilahi. Kebangkitan Kristus dari kubur digenapkan dengan penampakan-Nya, yang menunjukkan kepada kita tubuh rohani tetapi yang juga bisa kelihatan yang dimiliki-Nya (Lukas 24:39).


4.04.5 - Gambaran Kristus di dalam Para Pengikut-Nya

Yesus memenuhi hati para pengikut-Nya dengan Roh-Nya yang lembut sehingga kasih, kekudusan dan sukacita Allah bisa nyata di dalam kehidupan mereka. Ia sudah menetapkan kita untuk menjadi gambaran Allah di tengah-tengah dunia yang dipenuhi dengan kebencian dan kematian. Ia sudah memberikan kepada kita hak istimewa untuk menjadi “surat Kristus” yang berbicara melalui perilaku kita kepada keluarga, tetangga dan sahabat-sahabat kita. Yesus sudah meletakkan gambar-Nya sendiri di dalam kita sehingga kita bisa menunjukkan sifat-sifat-Nya. Barangsiapa bertemu dengan para pengikut Yesus yang aktif di Afrika, Asia, Eropa atau Amerika atau dimanapun mereka berada akan bisa melihat dan mengenali terang damai sejahtera Kristus yang bersinar di wajah mereka. Ketika roh dari Tuhan Yesus yang sudah disalibkan dan bangkit itu berdiam di dalam hati seseorang, kaya atau miskin, bisa membaca atau tidak, tua atau muda, ia akan menunjukkan terang dari surga. Tidak cukup untuk menggolongkan dunia ini menjadi kaya atau miskin, kapitalis atau sosialis; justru lebih baik untuk membagi dunia menjadi dua kelompok yaitu kelompok orang-orang yang sudah dilahirkan kembali dan kelompok orang-orang yang masih mati di dalam dosa. Dimanapun Kristus menemukan tempat kediaman bagi diri-Nya di dalam hati manusia, kehidupan Allah akan dimanifestasikan di dalam dirinya dan akan dilihat oleh semua orang.

Roh Kudus tidak menuntun kita untuk memegahkan diri kita sendiri, tetapi menolong kita untuk memuliakan Anak Allah. Kita jangan sampai menarik perhatian kepada diri sendiri seolah-olah kitalah yang menjadi pusat dunia ini. Semua kemuliaan harus dikembalikan kepada Anak Domba yang disembelih bagi kita. Maria, ibu Yesus, dan juga semua orang kudus lainnya, akan melarang manusia memberikan penghormatan kepada patung dan gambar mereka. Mereka akan menghancurkan gambar dan patung yang disembah itu kalau mereka bisa menemukannya, di altar, di rumah atau di tempat umum. Tiada sesuatupun yang memancarkan kemuliaan Allah selain Yesus. Tidak ada yang baik selain Allah sendiri. Kita sudah dibenarkan dan dikuduskan hanya oleh kasih karunia-Nya saja. Sangat bertentangan dengan Alkitab kalau kita berdoa kepada Maria atau kepada orang-orang kudus lainnya dan meminta mereka menjadi pengantara bagi kita. Hal itu merupakan pelanggaran yang sangat jelas terhadap titah yang kedua karena kita tidak lagi bersandar sepenuhnya kepada Bapa dan justru membagi kepercayaan kita kepada-Nya dengan kepada makhluk-mahkhluk fana saja. Tidak ada gambar, patung, tempat kenangan atau relik apapun yang bisa melakukan mujizat atau memberikan kesembuhan. Allah hanya menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus Anak-Nya. Semua berhala, bahkan di dalam gereja sekalipun, menjadi kekejian dalam pandangan Allah.

Di dalam perjanjian yang baru, kita mengalami hubungan pribadi dengan Allah Bapa kita sebagai anak-anak-Nya yang kekasih. Hak istimewa ini diberikan secara pasti hanya melalui kematian Yesus sebagai pendamai bagi kita dan syafaat-Nya sebagai Imam besar yang ada di sebelah kanan Bapa-Nya. Sang Anak sudah membuat hubungan langsung antara kita dengan Allah. Barangsiapa tidak mau memanfaatkan hal itu berarti tidak percaya kepada Allah sebagai Bapa. Kita sudah menerima kasih karunia, kebenaran, pengampunan, dan kehidupan hanya dari Bapa dan Anak-Nya, melalui Roh-Nya. Untuk hal ini kita harus bersyukur kepada Allah Tritunggal saja, dengan sepenuh hati kita.


4.04.6 - Kecemburuan Allah

Perbedaan yang ada di antara orang-orang yang mengasihi Allah dengan orang-orang yang meninggalkan Allah bisa dilihat di dalam perbedaan antara ancaman akan penghukuman dengan janji berkat di dalam titah yang kedua ini. Di sini, sekali lagi, Allah menyebut diri-Nya sebagai “Aku,” yang menunjukkan bahwa Dia adalah Pribadi yang hidup yang memiliki kehendak dan kemampuan untuk berfirman. Ia menegaskan bahwa diri-Nya adalah Tuan yang setia yang tidak akan berubah dan yang mengendalikan segala sesuatu. Ia sudah mengikatkan diri-Nya kepada kita dalam sebuah perjanjian yang kekal dan menghendaki agar kita juga akan sepenuhnya tunduk dan setia.

Allah menuntut kasih kita kepada-Nya. Ia menolak untuk membagi ketundukkan kita kepada-Nya dengan berhala apapun, dengan pendiri agama, raja, emas atau perak. Ia adalah satu-satunya Allah, dan tidak ada Juruselamat lain selain Dia!


4.04.7 - Mereka Yang Membenci Allah akan Jatuh

Celakalah mereka yang meremehkan kasih Allah atau menganggapnya sepele! Mereka adalah seperti ranting yang dipotong dari pokoknya. Mereka akan menjadi semakin kering, layu, dan mereka akan berakhir di dalam api yang kekal. Kalau kita menolak untuk tetap tinggal di dalam Allah, yang adalah sumber kita, kita sedang melakukan pengkhianatan rohani karena kita membuka diri kita terhadap roh-roh asing, berhala atau roh-roh jahat, dan menjadikan diri kita ilah bagi diri sendiri. Allah tidak mau berbagi kemuliaan dengan siapapun selain Anak-Nya dan Roh Kudus-Nya. Tidak ada Pencipta lain. Ia sajalah Hakim yang kekal dan selamanya.

Kalau seseorang tidak mau berbalik kembali kepada Allah yang sejati, dan bahkan berpaling kepada ilah lain atau kepada dirinya sendiri seolah-olah dia adalah pusat dari segala sesuatu di alam semesta, ia akan menjadi congkak dan mengeraskan hati sehingga tidak bisa mengasihi Penciptanya. Orang yang demikian akan menjadi jahat dan kejam. Ia mengambil keuntungan dari orang lain dan bukannya melayani mereka. Barangsiapa tidak mengasihi Allah tidak akan bisa mengasihi sesamanya. Ia tidak akan bisa memahami dunia dan masalah rohaninya karena ia tidak memiliki standar yang benar. Sebagai akibatnya, hati nuraninya menjadi keras, moralnya menjadi menurun. Keadaannya akan menjadi semakin buruk dan bahkan lebih buruk daripada binatang di dalam perjuangannya yang keras untuk tetap bisa bertahan.

Allah membiarkan mereka yang tetap mau memisahkan diri dari-Nya untuk kemudian terjatuh, setelah Ia memperingatkan mereka dan seringkali menunjukkan kasih-Nya kepada mereka. Ia menyerahkan mereka kepada hawa nafsu dan keinginan hati mereka sendiri sehingga mereka akan membinasakan diri mereka sendiri. Raja Saul dan Yudas Iskariot menjadi contoh utama tentang hal ini. Prinsip Ilahi dari penghakiman ini berlaku baik bagi seorang pribadi maupun bagi sebuah bangsa. Bahkan pasangan sekalipun sering juga dipengaruhi untuk melakukan kejahatan oleh pasangannya, dan kemudian, mempengaruhi juga anak-anak mereka. Demikian juga kesalehan akan diwariskan dari satu generasi kepada generasi selanjutnya. Sebuah keluarga yang didominasi oleh kekikiran atau iri hati akan termanifestasi di dalam suasana dan juga perilaku mereka. Apakah keadaan sebuah keluarga dipengaruhi oleh humanisme kepura-puraan atau sosialisme atheis akibatnya akan tetap sama. Roh yang menguasai sebuah keluarga bisa dilihat di dalam mata anak-anak mereka. Beberapa keluarga sudah terlibat di dalam nujum, sihir, atau perdukunan dengan harapan bahwa mereka bisa mendapatkan kesembuhan, atau menemukan sesuatu yang tersembunyi. Semua praktek yang demikian dikutuk oleh Yesus namun Ia tidak akan menolak jika ada orang yang mau bertobat. Namun, Ia dengan sukacita menerima orang itu dan membebaskannya dari kutuk Iblis. Yesus mengatakan, “Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yohanes 8:36). Kuasa Kristus jauh melebihi pemahaman kita. Ia sajalah yang bisa mematahkan semua belenggu kuasa jahat.

Allah mengajarkan kepada kita bahwa kekerasan hati keluarga akan dihukum sampai kepada keturunan ketiga dan keempat kecuali kalau terjadi pertobatan yang sejati dan keluarga itu berbalik kepada Allah. Seringkali anak-anak dan bahkan orang dewasa menjadi produk dari rangkaian keturunan yang tidak takut akan Tuhan. Akan tetapi, kita tidak boleh mengecam mereka yang memiliki kecemaran di dalam hati mereka, tetapi kita perlu berusaha untuk memahami latar belakang mereka dan mengasihi mereka. Ada orang-orang Yahudi dan orang-orang Muslim yang diindoktrinasi dengan pengajaran dari nenek moyang mereka yang dengan tegas menolak Anak Allah. Mereka hidup dalam ikatan belenggu bersama terhadap dosa dan menolak Juruselamat dunia. Barangsiapa ingin dimerdekakan dari kuasa anti Kristus yang demikian harus melepaskan diri ikatan awal dari belenggu itu dan memutuskan semua ikatan budaya itu di dalam nama Yesus. Ketika kita melepaskan diri dari perlindungan keluarga dan dari rasa aman negara kita, kita akan melihat bahwa Allah adalah sungguh-sungguh Bapa bagi kita. Ia akan mengambil tanggungjawab bagi masa depan kita. Ia senantiasa memberikan jaminan kepada kita, “Akulah TUHAN Allahmu, Bapamu yang mengasihimu sampai kekal. Aku mengenalmu, Aku mengenal namamu, engkau milik-Ku, berpeganglah kepada-Ku, dan lepaskan semua kecemaran dan kekejian itu sepenuhnya. Percayalah kepada kesetiaan dan kuasa-Ku, dan engkau akan dimerdekakan dan aman sampai selama-lamanya.”


4.04.8 - Kelimpahan Berkat bagi Mereka yang Mengasihi Allah

Kalau seseorang mengasihi Allah dan menghormati Dia, ia akan merenungkan firman-Nya dan hidup dengan kekuatan-Nya. Barangsiapa memahami dalamnya kasih karunia-Nya bagi kita akan senantiasa bersyukur kepada-Nya atas pembebasan dan kesabaran-Nya. Kita dengan fasih menyatakan kasih kita kepada-Nya dengan menunjukkan ucapan syukur dari dalam hati kita. Seorang percaya yang penuh dengan syukur akan menemukan harta yang mulia, kuasa, berkat dan tuntunan di dalam Firman Allah setiap harinya. Apa pandangan anda kalau ada seorang mempelai perempuan yang, setelah menerima surat dari mempelai laki-lakinya, sama sekali tidak pernah membuka surat itu dan bahkan melupakannya? Kita bisa mengatakan bahwa mempelai perempuan itu tidak mengasihi sang mempelai laki-laki. Namun mempelai perempuan yang setia akan menunggu dengan tidak sabar untuk menerima surat dari suaminya. Setiap kali ia menerima sebuah surat, ia akan langsung membukanya, membacanya berulangkali dan memperhatikan kata-kata tertentu, yang dengan segera akan tertanam secara mendalam di dalam ingatannya. Ketika kita mengasihi Allah, kita mempelajari firman-Nya seolah-olah firman itu adalah surat cinta dari surga yang ditulis secara khusus untuk kita. Kita akan senantiasa membacanya dan menghafal bagian-bagian yang tertentu. Hati kita akan dipenuhi dengan Firman Allah, yang menguatkan kita untuk memenuhi kehendak-Nya.

Jika orang tua berdoa secara sungguh-sungguh untuk keluarga mereka maka mereka sedang membawa berkat dari Yesus ke dalam kehidupan anggota keluarganya. Anak-anak mereka tidak akan tumbuh sebagai anak-anak yang tidak takut akan Tuhan atau yang tidak perduli. Justru, mereka akan memiliki dasar yang kuat. Tentu saja, orang tua tidak bisa memaksa anak-anak mereka untuk percaya kepada Kristus, apalagi mencoba membuang kejahatan mereka dengan memukuli mereka. Tetapi teladan dari orang tua yang penuh dengan kasih akan secara perlahan tetapi mendalam terpatri di dalam pikiran mereka. Anak-anak seringkali lebih mengingat perilaku orang tua mereka dibandingkan dengan perkataan mereka. Mata seorang ibu seringkali berbicara lebih keras dibandingkan dengan perkataannya, dan kasihnya menjangkau bahkan melewati alam maut sekalipun.

Allah berjanji bahwa mereka yang mengasihi Dia akan diberkati sampai seribu keturunan! Janji ini menawarkan ketenangan yang besar kepada para orang tua ketika mereka harus membesarkan anak-anak mereka di jaman yang penuh dengan godaan dan kecemaran. Kuasa kasih Allah akan menembus kegelapan seperti cahaya matahari menembus masuk ke ruangan yang gelap. Warisan rohani di dalam keluarga akan dilipat-gandakan ketika orang tua di dalam rumah itu adalah orang percaya yang berdoa.

Pernahkah anda mencoba untuk menghitung berapa tahun yang ada dalam seribu keturunan? Kalau kita menetapkan 25 tahun untuk satu keturunan, maka akan ada 25.000 tahun kelimpahan berkat Allah sebagai hasil dari seorang yang sungguh-sungguh percaya. Atau kalau kita berpikir mengenai cucu di dalam sebuah keluarga, maka kita akan melihat ada begitu banyak keturunan, seperti sebuah batalion rohani, semuanya mendapatkan berkat melalui orang tua yang taat dan percaya. Allah memberikan jaminan kepada orang-orang percaya yang setia bahwa semua orang percaya yang setia akan menjadi sumber kasih kepada ratusan orang. Seorang pengikut Yesus tidak akan pernah mengaku menjadi mata air kesalehan, tetapi ia akan menganggap dirinya sebagai saluran saja dari kasih karunia Allah. Atas kelimpahan-Nya, Allah memberikan kasih karunia demi kasih karunia secara tanpa syarat kepada mereka yang mengasihi dan percaya kepada-Nya.

Kalau kita sudah mengalami hasil dari berkat karena orang tua jasmani atau orang tua rohani di dalam kehidupan kita, maka kita bisa menghargai perbedaan kebudayaan di dunia ini. Dimana Firman Allah memiliki pengaruh bagi semua desa atau kota ratusan tahun lalu, anda masih akan bisa melihat dan merasakannya. Dimana orang-orang sudah dimerdekakan oleh Yesus maka mereka akan menaikkan ucapan syukur dan saling melayani. Ketika Allah bisa mempengaruhi sebuah kebudayaan tertentu dengan Roh Kudus-Nya, maka keluarga, sekolah, ekonomi dan politik juga dipengaruhi dengan cara yang lebih dari yang bisa kita pahami.

Yang sebaliknya juga terjadi di negara-negara yang menuhankan allah yang berlumuran darah seperti di India atau yang memuja nenek moyang mereka seperti di Cina atau Afrika, dimana penyembahan berhala dan mantra-mantra dibuat untuk keamanan. Masyarakat yang demikian didominasi oleh rasa takut, perbudakan dan kecemasan. Terlalu sering kehormatan wanita dicampakkan ke tanah ketika laki-laki berkuasa atasnya. Perang suku menghambat kemajuan, dan yang miskin menjadi semakin miskin. Kalau anda masuk ke dalam sebuah desa Muslim, Hindu atau Kristen, anda akan bisa langsung merasakan suasana rohani di tempat itu. Bahkan binatang bisa merasakan ketika mereka dipukuli tanpa belas kasihan atau saat mereka diperlakukan dengan lemah-lembut.


4.04.9 - Kesimpulan: Pemisahan yang Sangat Penting

Berkat dari orang tua yang percaya bisa dilihat ketika terjadi di dalam pribadi-pribadi atau keluarga-keluarga yang leluhurnya memiliki kasih yang kokoh kepada Allah. Leluhur yang demikian berdoa dan bekerja keras dan menjalani kehidupan yang baik sampai mereka masuk ke usia tua. Dan memang, sebuah garis pemisah memisahkan antara mereka yang mengasihi Allah dengan mereka yang membenci Dia di seluruh dunia. Kalau anda sungguh-sungguh percaya kepada Allah Bapa, anda akan bersandar kepada-Nya seperti seorang anak dan kemudian menghasilkan buah-buah kasih-Nya. Namun kalau seseorang menolak panggilan Allah, maka ia akan menjadi tersesat dari kebenaran. Sangat tidak mengejutkan untuk melihat kasih banyak orang menjadi dingin di jaman ini. Kalau seseorang tidak kembali kepada Allah maka ia akan menjadi sumber kejahatan. Teori-teori yang berbahaya akan dimunculkan sebagai akibat dari pemberontakannya melawan Allah. Karl Marx pernah menjadi seorang yang saleh di masa mudanya, tetapi ketika ia terjebak di dalam nujum dan masuk ke dunia okultisme, ia membawa jutaan orang kepada kesesatan, yaitu orang-orang yang memilih materialisme yang mati sebagai jalan hidupnya. Namun, para pengikutnya tidak akan bisa membangun surga di dunia ini, meskipun mereka sampai mengacungkan tinju mereka di hadapan wajah Allah. Barangsiapa yang menyangkal Allah, sumber sejati dari kasih dan kehidupan, serta menuhankan manusia dan bukannya menyembah Allah akan menumbuhkan kepahitan dan kebencian di dalam hatinya dan dengan itu akan menuai murka dari Yang Mahakudus pada hari penghakiman.

www.Grace-and-Truth.net

Page last modified on September 06, 2013, at 11:34 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.50)