Home
Links
Contact
About us
Impressum
Site Map?


Afrikaans?
عربي
Bahasa Indones.
Deutsch
English
Français
Hausa/هَوُسَا
עברית
O‘zbek
Peul?
Português
Русский
தமிழ்
Türkçe
Yorùbá
中文



Home (Old)
Content (Old)


Indonesian (Old)
English (Old)
German (Old)
Russian (Old)

Home -- Indonesian -- 09. Comparisons -- 4.05 Third Commandment: Do Not Take the Name of God in Vain
This page in: -- Afrikaans -- Arabic? -- Armenian? -- Azeri? -- Bulgarian? -- Cebuano? -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Gujarati? -- Hebrew -- INDONESIAN -- Norwegian? -- Polish? -- Russian -- Serbian? -- Spanish? -- Tamil -- Turkish? -- Uzbek -- Yiddish? -- Yoruba

Previous part -- Next part

09. PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KEKRISTENAN
Perbandingan 4 - DASA TITAH

4.05 - TITAH KETIGA: JANGAN MENYEBUT NAMA TUHAN DENGAN SEMBARANGAN



"Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (Keluaran 20:7)


4.05.1 - Nama Allah

Manusia tidak akan bisa hidup tanpa Penciptanya. Manusia diciptakan seturut dengan gambar Allah, tetapi kemudian meninggalkan Dia. Sejak saat itu, manusia sudah mengembara di padang gurun dunia ini, mencari rumahnya yang hilang dan merindukan sumbernya yang tersembunyi. Sejak itu manusia sudah menciptakan ribuan allah pengganti yang berwajah mengerikan yang merefleksikan ketakutan dan kerinduan manusia yang tak terkatakan. Manusia menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan mantra, meramal garis tangan dan membaca ramalan bintang, yang tidak menghasilkan perlindungan baginya. Orang-orang Muslim mencium batu hitam dengan penuh penghormatan seolah-olah di dalam batu itu berdiam suatu roh dari surga. Orang-orang Budha menyembah patung Budha yang tersenyum tanpa peduli akan kebutaan rohani para pengikutnya.

Pernyataan TUHAN akan diri-Nya, “Akulah Yahweh, TUHAN” seharusnya menghentikan pencarian manusia. Pernyataan diri-Nya di semak belukar yang menyala sangatlah bersejarah, karena TUHAN menyatakan diri-Nya dan memberitahukan nama-Nya. Ada banyak pernyataan Allah di sepanjang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Alkitab memberikan kepada kita 638 nama dan sebutan bagi Allah Tritunggal. Dalam bahasa Semitis maka masing-masing sebutan merupakan nama yang tersendiri. Jadi, Allah bukan hanya benar, tetapi Dia adalah Yang Benar yang merupakan pusat berkumpulnya semua kebenaran. Ia bukan saja kudus, tetapi Dia adalah Yang Kudus yang penuh dengan kekudusan. Masing-masing nama itu memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Namun nama yang lebih sering muncul dibandingkan dengan nama yang lainnya adalah Yahweh (6.828 kali di dalam Perjanjian Lama). Nama ini berarti Yang Mahakuasa Pemelihara, Yang Kudus, Tak Bercacat dan Tuhan atas sejarah, yang tidak pernah dan tidak akan pernah berubah dalam kasih setia-Nya.


4.05.2 - Tuhan di dalam Perjanjian Baru

TUHAN sendiri berinkarnasi sebagai manusia dalam pribadi Yesus dari Nazaret, di dalam Perjanjian Baru. Para malaikat, nabi, dan semua orang percaya mengakui dan setuju bahwa “Yesus adalah Tuhan.” Namun Yesus tidak memuliakan diri-Nya sendiri, tetapi senantiasa memuliakan Bapa Surgawi-Nya. Bahkan, Ia mengajarkan kepada kita untuk berdoa, “Bapa kami yang ada di surga, dikuduskanlah nama-Mu.” Dalam doa ini, nama Bapa dimuliakan, ditinggikan dan dikuduskan melebihi dan melampaui semua nama yang lain. Pernyataan Allah Bapa oleh Yesus sudah mengangkat kita kepada pemahaman yang paling tinggi akan Allah.

Tuhan Yesus adalah kerendahan hati yang berinkarnasi. Ia menggenapi pendamaian antara Yang Kudus itu dengan orang-orang berdosa melalui kematian-Nya di kayu salib yang hina. “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa” (Filipi 2:9-11). Roh Kudus sudah memuliakan nama asli Yesus dan sejak itu meneguhkan kepada kita kesatuan dari Allah, sang Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kesatuan kasih itu dengan sempurna menjelaskan hakekat Allah kita. Daud pernah mendengar pernyataan itu, “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." (Mazmur 110:1).


4.05.3 - Apa Artinya Mengenal Nama Allah?

Kalau seseorang datang ke sebuah kota asing, ia akan senang kalau ia memiliki alamat dari seseorang yang dikenalnya di sana. Ia bisa menelpon temannya itu dan meminta petunjuk pertolongan. Berbahagialah orang yang mengenal nama Allah yang benar dan menyimpan “nomor telepon-Nya” (Mazmur 50:15). “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." Tuhan kita yang hidup di surga tidak pernah tertidur, dan Ia sangat rindu menantikan telepon rohani kita.

Setiap pertemuan yang kita lakukan dengan Allah yang Kudus dengan jelas membukakan keterlibatan kita di dalam dosa, kesepian dan kesesatan kita. Keagungan kekudusan-Nya menyatakan moralitas kita yang dangkal dan menunjukkan rasa kemanusiaan kita yang palsu sebagaimana adanya. Kebaikan Allah mendorong kita untuk mengakui dosa-dosa kita dan kerendahan hati-Nya menyingkapkan kecongkakan kita yang berbisa. Mengenal nama Allah memungkinkan orang-orang yang sudah hancur itu untuk kembali berhubungan secara pribadi dengan Allah.

Iman kita yang berkembang kepada Allah akan menolong kita berpegang teguh kepada titah-Nya yang ketiga sebagaimana yang dikatakan-Nya, “Akulah TUHAN, Allahmu,” dimana kata empunya “mu” di sini menunjukkan bahwa Allah yang Mahakudus itu sudah menghubungkan diri-Nya dengan makhluk-Nya, orang-orang berdosa, yang tidak layak dan lemah. Ia memberikan jaminan kepada manusia akan kesetiaan dan perlindungan-Nya. Menurut Perjanjian Baru, Ia memasukkan kita ke dalam keluarga Allah, dimana Yesus adalah Kepala dan kita adalah anggota-anggota dari tubuh rohani-Nya. Allah Bapa menghendaki agar memiliki satu pikiran dan satu roh dengan anak-anak-Nya dan untuk bekerja di dalam diri mereka menyelamatkan angkatan yang jahat ini. Di dalam kasih karunia-Nya, Ia memberikan kepada mereka kuasa untuk percaya dan bertindak di dalam nama-Nya.


4.05.4 - Menyebut nama TUHAN dengan sembarangan

Kita hidup di dalam dunia yang sudah sangat dalam dipengaruhi oleh pernyataan Allah di dalam Alkitab. Namun sedikit saja orang yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya dengan segenap hati. Kalau seseorang tidak diam di hadapan Allah, ia kemudian akan menyebut nama TUHAN dengan sembarangan. Orang-orang yang demikian memanfaatkan Allah tanpa peduli seolah-olah mereka membayar dengan uang yang tak berharga. Bahkan orang-orang Kristen yang dilahirkan kembali memiliki kemungkinan untuk mendukakan Roh Kudus dengan perkataan yang sia-sia. Hukum yang ketiga ini memperingatkan dan juga menjaga kita dari mengucapkan nama TUHAN dengan sembarangan.

Orang-orang Kristen nominal mengucapkan nama Allah tanpa henti tetapi juga tanpa berpikir saat mereka mengatakan, “Ya Allah! Demi Allah!” dan sebagainya. Mereka seperti anak-anak yang bermain-main dengan telepon, memencet nomor telepon, tetapi tidak berbicara dengan orang yang sudah bergegas untuk menerima telepon itu. Tentu saja kalau anak-anak itu melakukannya berulangkali, orang yang menerima telepon itu akan menjadi marah dan kemudian tidak mau lagi mendengar deringan telepon yang mengganggu itu. Allah mendengar ketika kita menyebut nama-Nya. Apa yang anda pikirkan ketika anda menyebutkan nama-Nya? Kalau anda memakai nama Allah tanpa memikirkannya, itu menunjukkan betapa kecilnya kehidupan anda di hadapan TUHAN.


4.05.5 - Orang-orang Muslim Menyebutkan Nama Allah

Seorang Muslim harus sering mengucapkan nama Allah, dengan garapan bahwa mereka akan dibenarkan dan dianggap sebagai layak dipercaya, benar, dan setia. Orang itu percaya bahwa semakin sering ia mengucapkan nama Allah maka semakin banyak dosanya yang diampuni. Keyakinan ini dinyatakan di dalam bentuk penyembahan yang dangkal dimana penyebutan nama Allah secara sembarangan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sangat penting untuk memahami pada titik ini bahwa seorang Muslim tidak memiliki hubungan yang bersifat pribadi dengan Allah. Percakapannya dengan Allah hanyalah seperti gumaman seorang hamba yang menanggapi tuannya yang sangat terhormat, namun ia sendiri tidak tahu apakah tuannya itu mendengarkannya atau tidak.

Lebih lagi, doa harian mereka hanyalah ritual hafalan saja. Rata-rata orang Muslim harus mengucapkan Fatihah (surat Al-Fatihah) tujuh belas kali, baik di dalam hati maupun dengan bersuara, pada saat ia shalat sebanyak lima kali dalam sehari. Hampir satu miliar orang-orang Muslim harus mengucapkan al-Fatihah dalam bahasa Arab di seluruh dunia, meskipun lebih dari 800 juta orang Muslim tidak memahami bahasa Arab. Sayangnya Doa Bapa Kami juga seringkali diucapkan tanpa berpikir oleh beberapa orang dan di dalam beberapa gereja pada saat ibadah mereka.


4.05.6 - Doa-Doa yang Meragukan dan Perdebatan yang Tak Berguna

Bukan hanya orang-orang Muslim yang menghafalkan ritual doa mereka tanpa berpikir, tetapi orang Kristen yang tak terhingga jumlahnya juga mengucapkan doa mereka seperti seorang ibu yang menina-bobokan anaknya. Betapa beraninya kita menyebut nama Allah tanpa mengharapkan jawaban dari-Nya, atau berbicara kepada-Nya sementara sedang berpikir tentang bisnis atau hal-hal yang tidak penting? Kalau, sebagai contoh, kita memiliki kesempatan untuk bertemu dengan kepala negara kita dan berbicara secara pribadi dengannya, tidakkah kita akan memikirkan terlebih dahulu apa yang akan kita katakan dan sungguh-sungguh mempertimbangkan dengan matang sebelum kita mengucapkannya? Apakah Allah kurang penting dibandingkan manusia? Kalau seseorang berdoa tanpa berpikir, ia merendahkan Allah.

Para teolog kadangkala berada di ambang batas melanggar hukum yang ketiga dan mendukakan Roh Kudus ketika mereka mempelajari Alkitab dan mendiskusikan sifat-sifat dan karya mujizat yang dilakukan oleh Allah dengan cara seolah-olah mereka sedang mendiskusikan eksperimen laboratorium ilmiah tanpa merasakan kehadiran-Nya. Kita tidak bisa melakukan pembicaraan dengan cara obyektif dan netral tentang Allah karena Ia bukanlah sebuah konsep atau suatu barang. Ia adalah pribadi yang hidup dan senantiasa bersama dengan kita. Ia mendengar pembicaraan kita dan Ia mengenal pikiran kita dari jauh. Karena itu, setiap pembelajaran teologis yang tidak disertai takut akan Allah dan hormat kepada-Nya tidak diragukan lagi akan membawa kepada pelanggaran terhadap hukum yang ketiga ini.


4.05.7 - Pemakaian yang Berdosa Terhadap Nama Allah

Celakalah barangsiapa yang dengan sengaja memutar-balikkan Firman Allah, menghina atau menjadikannya bahan candaan! Mereka akan menjadi orang yang menghina Nama di atas segala nama itu dan tidak menunjukkan rasa takut serta hormat kepada-Nya. Karena itu, kita jangan pernah bergabung dengan orang-orang lain dalam menertawakan Firman Allah. Namun, kita seharusnya menegur mereka ketika mereka mengejek dan kita berdiri bagi Allah. Para penulis buku dan pembuat film mengetahui dampak yang sangat besar di dalam kata-kata keagamaan dan banyak memakainya di dalam produksi mereka. Tetapi mereka tidak secara harfiah memaknai kata-kata seperti “dosa”, “neraka”, “binasa,” tetapi memenuhinya dengan makna sekuler. Kata-kata mereka sendiri akan kembali kepada mereka dan menghukum mereka.

Manusia sering menjadi marah kepada orang-orang lain, dan dalam kemarahan mereka, mereka mengutuk dengan kata-kata seperti Tuhan, Allah atau Yesus. Mereka bersumpah atau berbicara tentang kecelakaan dan banyak hal yang bersifat rohani tanpa sungguh-sungguh memikirkannya. Seorang pendeta pernah berjalan melewati seorang tukang batu dan mendengar dia menyumpah dan mengutuk, karena itu ia bertanya kepada tukang itu, “Apakah engkau selalu berdoa dengan suara keras begitu?” Tukang kayu itu menjadi bingung dan langsung menukas, “Aku tidak berdoa.” Karena itu pendeta itu melanjutkan, “Tetapi saya mendengar engkau memanggil nama Allah dan Ia pasti akan menjawabmu.” Tukang itu langsung berhenti dari apa yang sedang dilakukannya.

Terlalu sering orang memakai kata-kata sumpahan secara sembrono terhadap orang lain dan bahkan terhadap saudara mereka sendiri. Kebencian yang sangat mendalam terkandung di dalam kata-kata itu. Yesus menganggap kutuk yang demikian sama dengan pembunuhan karena perkataan itu merendahkan gambaran Allah di dalam manusia.


4.05.8 - Peringatan Allah: Hukuman yang Keras

Titah yang ketiga mengandung peringatan yang sangat keras, “Allah akan menghukum mereka yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Meski ada peringatan demikian, beberapa orang tetap mengucapkan nama Allah untuk menutupi berbagai pekerjaan jahat mereka dan dengan sengaja memakai nama-Nya untuk menjadi alasan pembenaran dalam ketidakdilan mereka. Celakalah manusia yang mengucapkan nama Tuhan secara sembarangan untuk menutupi dusta dan kemunafikan mereka! Manusia jaman ini sangat sulit untuk mempercayai sesamanya karena mereka tidak mengatakan kebenaran bahkan ketika mereka sedang bersumpah di dalam nama Tuhan. Yesus dengan jelas melarang kita untuk bersumpah, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Matius 5:37). Kalau kita bersumpah dan berdusta, kita tidak hanya berdusta kepada manusia tetapi juga kepada Allah. Sumpah palsu termasuk di dalam kategori hukum ketiga yang memperingatkan kita akan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Inilah sebabnya Alkitab mengatakan, “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan.” Kita semua perlu takut akan Tuhan agar tidak terjatuh ke dalam dosa.

Allah merendahkan orang yang mengenal Dia tetapi tidak memanggil nama-Nya pada saat berada dalam masalah atau mengharapkan jawaban-Nya memberikan tuntunan, tetapi justru langsung pergi kepada tukang ramalan yang mengucapkan nama TUHAN secara sembarangan dan mengaku bisa melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan (Ulangan 18:9). Allah mengatakan, “Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya” (Imamat 20:6). Juga dilarang untuk mengadakan hubungan dengan orang yang sudah meninggal dan menerima berita dari mereka. Dosa-dosa yang demikian jelas sekali memisahkan manusia dari Allah dan membuka hati orang itu kepada Iblis dan roh jahatnya. Dalam pandangan Allah, kekejian demikian itu seperti perjinahan. Hal itu merupakan sesuatu yang sangat buruk seperti seorang laki-laki yang tidak setia kepada isterinya dan memakai uang isterinya untuk berjinah dengan wanita tuna susila. Tidak mengejutkan bahwa kemudian Tuhan menyebut tindakan yang demikian sebagai “perjinahan rohani” (Imamat 20:6) dan orang-orang yang demikian disebut sebagai angkatan yang jahat dan pezinah.”

Di Afrika dan Asia orang-orang membawa jimat untuk melindungi diri mereka dari si jahat. Mereka membayarkan sejumlah besar uang untuk membeli jimat itu dan kemudian mempercayainya. Mereka juga menuliskan “surat mantra” untuk membuat usaha mereka berhasil dan menumbuhkan cinta di antara pasangan. Bangsa-bangsa yang mempraktekkan takhayul yang demikian tidak sungguh-sungguh mengenal Allah. Di beberapa negara mereka bahkan menunjukkan praktek sihir, takhayul dan perdukunan mereka di pertunjukan televisi. Kita, sebagai orang-orang Kristen, menganggap pertunjukkan dan pengajaran yang demikian sebagai serangan Iblis kepada penonton yang naif. Apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah membuka pintu neraka. Tuhan dengan jelas memberikan peringatan kepada kita tentang bahaya hal itu karena semua itu dengan jelas memisahkan kita dari Dia. Hanya Yesus yang bisa membebaskan manusia dari ikatan yang demikian. Membaca ramalan bintang, garis tangan, dan ramalan untuk bisa mendapat pertolongan dari roh-roh sebenarnya adalah jalan pintas menuju neraka. Ada banyak peramal di berbagai hotel di India yang menanti untuk membaca nasib dari setiap tamu. Mereka juga melukiskan gambar mata yang ditembus dengan panah untuk mengusir mata jahat. Beberapa orang menggantung jimat di mobil mereka, tapal kuda di rumah mereka, dan kayu sentuhan untuk mengusir bencana. Orang-orang yang demikian lebih percaya kepada kuasa kegelapan dibandingkan dengan percaya kepada pemeliharaan Allah Bapa Surgawi mereka. Mereka ada di dalam belenggu kuasa jaman ini karena apa yang mereka lakukan itu.


4.05.9 - Menghujat Allah

Beberapa orang terlalu berlebihan dalam mengucapkan nama Allah ketika mereka menyumpahi Allah dan Kristus-Nya. Mereka menyekutukan diri dengan kelompok yang melawan nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Iblis adalah musuh bebuyutan Allah. Menghujat Allah adalah sebuah bentuk ketundukkan kepada roh-roh jahat yang mengalir seperti aliran kotoran dari neraka. Kalau seseorang harus membaca sebuah surat yang panjang dimana di dalamnya nama Kristus dikutuki, ia akan merasakan hembusan nafas neraka di wajahnya. Di dalam Imamat 24:14-16 kita bisa membaca, “Bawalah orang yang mengutuk itu ke luar perkemahan dan semua orang yang mendengar haruslah meletakkan tangannya ke atas kepala orang itu, sesudahnya haruslah seluruh jemaah itu melontari dia dengan batu. Engkau harus mengatakan kepada orang Israel, begini: Setiap orang yang mengutuki Allah harus menanggung kesalahannya sendiri. Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati.”

Kita perlu rendah hati dan berhati-hati ketika berbicara atau menilai seorang penghujat. Banyak orang yang dirasuki roh jahat sangat dibutakan sehingga mereka mengira sedang melayani Allah sementara sebenarnya mereka sedang memerangi Dia dan Mesias-Nya (Yohanes 15:19-21; 16:1-3). Para pemimpin yang dianggap saleh dan bijaksana adalah orang-orang yang menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus, dengan mengatakan bahwa Dia sudah menghujat Allah. Meski mereka adalah para pemimpin agama, mereka tidak memahami bahwa Yesus adalah Anak Tunggal Allah. Karena semangat mereka bagi Allah, mereka menghujat Mesias yang diurapi-Nya. Mereka meludahi wajah-Nya dan memukul kepala-Nya. Para pemimpin bangsa di jaman dahulu itu tidak memahami atau menerima Tuhan mereka, yang hadir di antara mereka. Justru, mereka menolak dan menyalibkan Dia. Sayangnya, banyak di antara mereka yang masih menyangkali Dia.

Seperti anak-anak Yakub itu, orang-orang Muslim berpikir bahwa mereka menghujat Allah kalau mereka percaya kepada keilahian Kristus yang tersalib. Mereka sudah mewarisi penyimpangan dari orang-orang Yahudi dan berjuang melawan Allah Tritunggal. Tetapi mereka menyatakan dan menunjukkan penghujatan mereka kepada Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus melalui kebencian mereka kepada doktrin Tritunggal. Di sisi lain, kaum Hindu menolak kedaulatan mutlak yang khusus dimiliki Kristus ketika mereka menganggap Dia hanya sebagai salah satu di antara banyak dewa.

Beberapa orang Kristen yang undur kebablasan dalam penghujatan mereka sampai mereka menyembah Iblis. Selama penyembahan mereka, mereka akan mengadakan pesta yang liar dan bahkan mempersembahkan darah kepada Iblis. Mereka menyimpangkan dan meniru kata-kata dan makna Doa Bapa Kami ketika mereka menyembah Iblis. Demikianlah kuasa kegelapan mencapai semua orang yang dengan sengaja menolak keselamatan dari Allah di dalam Kristus.

Tetapi di dalam Kristus ada perlindungan yang tidak bisa ditembus oleh neraka. Gembala Baik kita mengatakan, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:27-30).

Orang-orang Yahudi ingin mentaati hukum ketiga ini dengan sangat ketat sehingga mereka takut untuk mengucapkan nama Allah yang kuasa karena takut salah atau keliru. Kita semua tahu empat huruf Ibrani untuk nama Allah adalah YHWH. Karena menghindar huruf-huruf yang sakral itu, sejak sekitar tahun 300 SM orang-orang Yahudi berusaha untuk menghindari pengucapannya ketika membaca Kitab Suci, dan menggantinya dengan kata “Adonai.” Kata “Jehovah” adalah kata buatan manusia yang merupakan peleburan dari huruf hidup untuk kata “Adonai” ke dalam konsonan “YHWH.” Kata itu baru muncul pada sekitar tahun 1520 M. Nama dan pengucapan aslinya diperkirakan adalah “Yahweh.”

Ini mungkin membuat kita menjadi bingung: Apakah kita memang boleh mengucapkan nama Allah? Bagaimana kita bisa mengucapkan nama Allah dengan benar agar tidak jatuh ke dalam penghukuman?


4.05.10 - Mengucapkan Nama Allah dengan Benar

Hukum ketiga tidak pernah melarang kita mengucapkan nama Allah dengan semangat yang benar. Inilah janji yang besar dari Allah, “Engkau tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan kalau engkau menyebutnya dengan iman, kasih, dan ucapan syukur.” Tuhan akan memakai kesaksian iman anda sebagai saluran pengampunan dan pembaharuan hidup sahabat-sahabat anda. Nama-Nya tidak memiliki kuasa magis yang bisa kita pakai sesuai dengan keinginan dan kemauan kita. Tuhan yang hidup bertindak melalui nama-Nya sesuai dengan pengetahuan dan rancangan-Nya. Rasul Petrus berkata kepada orang yang lumpuh, “Dalam nama Yesus Kristus dari Nazaret, bangkit dan berjalanlah.” Ia kemudian juga mengatakan kepada para tua-tua dan pemimpin bangsa itu, “Di dalam nama Yesus Kristus dari Nazaret maka orang ini bisa sembuh dan berdiri di hadapanmu” (Kisah Para Rasul 3:6, 16; 4:10). Kita perlu memperdalam pengetahuan kita tentang nama Yesus dan kuasa-Nya. Schlatter, seorang teolog terkenal, sudah mempelajari teks Perjanjian Baru bahasa Yunani dan menghafalkannya, tetapi di akhir hidupnya ia menuliskan sebuah buku berjudul, Apakah Kita Mengenal Yesus? Kita jangan sampai menyebutkan nama Yesus secara sembarangan, tetapi kita harus mengenal Tuhan secara lebih mendalam. Mari kita bertumbuh semakin dalam di dalam Firman-Nya dengan penuh doa. Mari kita merenungkan setiap kata, dan kemudian Allah akan berbicara kepada kita melalui firman-Nya, yang berakar dalam di dalam hati kita.

Sangat menolong bagi kita untuk menjadi saksi yang lebih baik bagi Yesus kalau kita menghafal seluruh pasal-pasal dan ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karena Firman Allah berkuasa dan memberikan kepada kita hikmat Roh Kudus. Berbahagialah orang-orang yang memenuhi pikiran bawah sadar dan ingatannya dengan Firman Allah. Lebih lagi, kesaksian orang-orang percaya dan biografi orang-orang yang dewasa di dalam Allah akan menginspirasi kita untuk memahami nama Allah dan karya-Nya dengan lebih baik, yang akan menguatkan iman kita. Kita menjadi berbahagia ketika kita merenungkan Firman Allah dengan teratur dan sahabat-sahabat kita juga akan bersukacita karena kesaksian iman kita.

Ketika kita mendengar Firman Allah, kita tidak lagi sendiri, tetapi kita akan semakin mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Kita bisa memanggil nama-Nya secara langsung karena kita mengenal nama-Nya. Ia berbicara kepada kita melalui Alkitab kita menjawab-Nya di dalam doa kita. Betapa luar biasa hak itu, bahwa kita bisa berbicara langsung dengan sang Pencipta kita tentang setiap dosa, sakit, masalah dan cobaan kita, dan Dia mendengarkan kita. Nasehat-Nya jauh lebih baik daripada nasehat dokter atau psikolog. Ia mengasihi kita lebih dalam dibandingkan ayah dunia kita. Ia menghapuskan segala dosa kita melalui kematian pendamaian dari Yesus, dan Ia memberikan kepada kita kuasa kehidupan kekal melalui berdiamnya Roh Kudus.


4.05.11 - Pujilah Allah dengan Segenap Hati dan Pikiran Kita!

Apakah kita sungguh-sungguh memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dengan hati yang tulus? Mari kita mengingat bahwa Allah yang Mahakuasa adalah Bapa kita, Anak-Nya yang tunggal adalah Pembebas kita dan Roh Kudus adalah Penghibur kekal dan kekuatan kita, dan mari kita tetap bersyukur atas semua itu. Bukannya menyembah Allah dengan penuh ketakutan dan gemetar, kita harus menyembah Dia seperti anak-anak yang bersukacita atas pekerjaan-Nya karena berkat pengharapan mereka dan penebusan mereka yang sudah digenapkan; kita tidak lagi ada dalam keadaan mati di dalam dosa, tetapi hidup selamanya di dalam Kristus. Jadi, kalau anda tidak bisa bernyanyi dengan kelompok paduan suara, anda bisa menyanyi sendiri, dan kalau anda tidak bisa menyanyi dengan bibir anda, bernyanyilah di dalam hati anda. Ketika ada orang yang menyebutkan nama Bapa, Anak dan Roh Kudus dengan penuh keyakinan, di dalam doa maupun dalam pujian penuh sukacita, mereka menghormati Allah yang Mahakuasa dan memperkenankan Dia dengan pujian kepada-Nya.

Ketika seseorang tidak mengenal Allah, atau hatinya sudah dikeraskan atau hati nuraninya sudah bersalah karena menyembunyikan dosa-dosa, ia harus mendengar nasehat yang diberikan oleh Rasul Petrus, “Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (Kisah Para Rasul 2:21). Kita mendapatkan hak istimewa untuk berbicara secara langsung dengan Allah, Bapa kita, di dalam nama Yesus dan Ia akan menjawab kita. Kita datang mendekat kepada Allah karena Ia sudah mendekat kepada kita. Nama Allah, “Bapa kami” memberikan jaminan bahwa semua berkat surgawi sudah dipersiapkan bagi kita. Nama Yesus menggoncangkan dasar-dasar pondasi neraka karena Ia sudah menaklukkan dosa, maut dan si jahat. Roh Kudus memuliakan Anak Allah karena di dalam nama-Nya Ia memberikan kepada kita kehidupan kekal dan kekuatan yang unik dari Allah. Ia juga memberikan kepada kita keamanan, kesucian, sukacita dan damai sejahtera. Sebagaimana matahari memancarkan cahaya yang tak terhitung jumlahnya ke dunia setiap hari, demikianlah nama Allah Tritunggal kita memberikan kasih karunia demi kasih karunia kepada kita. Siapa yang tidak mau bersyukur kepada Bapa dan memuji Anak-Nya, dan berdoa di dalam kuasa Roh Kudus? Bukalah diri anda kepada Roh penghibur dari Tuhan, dan kemudian anda akan melihat bagaimana Allah sungguh-sungguh menjawab doa-doa anda. Naikkan pujian di dalam nama Yesus, yang diterima oleh Bapa anda. Ucapkan syukur kepada-Nya dan pujilah Dia, karena Ia mengasihi anda, sudah menebus anda dan memberikan kehidupan kekal kepada anda.


4.05.12 - Kesaksian Iman Kepada Orang-orang lain

Siapa yang bisa berdiam diri ketika hatinya melimpah dengan ucapan syukur dan pujian? Dan siapa yang bisa menyimpan pengalaman keselamatan hanya bagi dirinya sendiri ketika ia tahu bahwa Allah menghendaki agar semua manusia diselamatkan? Penjangkauan bagi orang yang terhilang bukanlah pilihan kita, tetapi Tuhan Yesus sendiri yang memerintahkan kita untuk pergi dan memberitakan Kabar Baik itu kepada semua orang. Kemenangan Yesus Kristus di kayu salib serta kebesaran-Nya haruslah diberitakan. Rasul Petrus memberikan nasehat kepada kita, “siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu” (1 Petrus 3:15). Yesus juga memberikan peringatan kepada kita, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga” (Matius 10:32-33).

Ketika Rasul Paulus menjadi sangat lelah karena serangan dari seteru-seterunya, Tuhan menampakkan diri kepadanya di waktu malam dan menghiburkan dia, “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” (Kisah Para Rasul 18:9-10). Tuhan menguatkannya, “Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku” (Kisah Para Rasul 26:17-18).

Pada sore hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus memberikan kuasa Ilahi-Nya kepada para murid yang ketakutan di dalam sebuah ruangan yang terkunci, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yohanes 20:21-23). Kalau anda menghafalkan ayat-ayat itu dan merenungkannya di dalam hati, anda akan menerima kekuatan dan tuntunan tentang bagaimana cara yang paling baik dan paling efektif untuk melakukan pemberitaan Injil di antara orang-orang percaya yang melawan dan orang-orang terhilang yang tidak mengenal Tuhan.


4.05.13 - Melayani di dalam Nama Tuhan

Ketika Tuhan berbicara kepada kita melalui Firman-Nya dan kita menanggapinya di dalam doa dan pujian serta mengakui nama-Nya yang kudus di depan sahabat-sahabat dan seteru-seteru kita, maka kita akan mengalami kuasa dari nama itu. Di dalam nama Yesus, para rasul menyembuhkan orang sakit, mengusir setan-setan, membangkitkan orang mati, dan Yesus sendiri meredakan bada di laut dengan perkataan-Nya. Ia melipatgandakan lima roti untuk memberi makan ribuan orang. Ia mengampuni orang-orang berdosa yang bertobat dan memberkati mereka dengan kehidupan kekal. Yesus menegaskan, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yohanes 5:17). Kita bukan hanya mengucapkan nama-Nya, tetapi Ia juga bekerja di dalam kelemahan kita. Setiap kali Bapa, Anak dan Roh Kudus berdiam di dalam hati orang-orang percaya, Allah melakukan mujizat dan keajaiban melalui kehidupannya. Tidak peduli betapapun kecilnya anak-anak-Nya karena Bapa sendirilah yang menggenapkan pekerjaan-Nya.

Semua saksi yang efektif dan benar didasari oleh kesaksian dari kehidupan orang-orang percaya: kita memuji Allah dan pada saat yang sama juga tidak taat kepada-Nya. Roh Kudus mendorong kita untuk melakukan perbuatan kudus dan menyucikan kita karena Ia sendiri kudus. Yesus mengajarkan kepada kita untuk menaikkan bagian yang pertama dari Doa Bapa Kami, untuk menyucikan atau “menguduskan” nama Tuhan dengan mulut dan perilaku kita. Doa kita akan menjadi dusta dan kesaksian kita tidak layak kalau kehidupan kita menyangkali kuasa Allah dan tidak menunjukkan kerendahan hati yang tulus.

Memang, kita melakukan dosa bertentangan dengan kehendak kita, tetapi tetap saja kita rusak di hadapan Yang Kudus. Dosa-dosa kita bukanlah perkara kecil di dalam pandangan Allah dan kita harus senantiasa mengingat bahwa kita mendukakan Dia dengan pelanggaran kita. Tetapi Roh Kudus berdiam di dalam kehidupan semua orang yang bertobat dan menghiburkan dia, dan meyakinkan dia bahwa darah Yesus sudah membasuhkannya dari segala dosa (1 Yohanes 1:9). Firman Bapa menguatkan kita untuk terus memiliki iman dan hidup di dalam nama Allah Tritunggal. Kita mengalami pengudusan kita karena nilai dari kesabaran dan kasih-Nya yang mengatasi segalanya.

Apakah anda sungguh-sungguh mengenal dan memahami nama Allah? Apakah nama-Nya yang kudus ada di lidah anda? Apakah Roh Tuhan berdiam di dalam hati anda? Hanya dengan itu sajalah anda bisa mengucapkan nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dengan cara yang benar dengan penuh hormat dan kasih. Kiranya Tuhan menjaga anda dari penyebutan nama-Nya secara sembarangan dan menuntun anda untuk memuji Dia dengan penuh sukacita di sepanjang kehidupan anda.

www.Grace-and-Truth.net

Page last modified on September 06, 2013, at 11:33 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.50)