Home
Links
Contact
About us
Impressum
Site Map?


Afrikaans?
عربي
Bahasa Indones.
Deutsch
English
Français
Hausa/هَوُسَا
עברית
O‘zbek
Peul?
Português
Русский
தமிழ்
Türkçe
Yorùbá
中文



Home (Old)
Content (Old)


Indonesian (Old)
English (Old)
German (Old)
Russian (Old)

Home -- Indonesian -- 09. Comparisons -- 4.08 Sixth Commandment: Do Not Murder
This page in: -- Afrikaans -- Arabic? -- Armenian? -- Azeri? -- Bulgarian? -- Cebuano? -- Chinese? -- English -- Farsi? -- French -- German -- Gujarati? -- Hebrew -- INDONESIAN -- Norwegian? -- Polish? -- Russian -- Serbian? -- Spanish? -- Tamil -- Turkish? -- Uzbek -- Yiddish? -- Yoruba

Previous part -- Next part

09. PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KEKRISTENAN
Perbandingan 4 - DASA TITAH

4.08 - TITAH KEENAM: JANGAN MEMBUNUH



"Jangan Membunuh." (Keluaran 20:13)


4.08.1 - Luar biasa Tetapi Nyata

Manusia pertama yang dilahirkan oleh seorang perempuan dan dikasihi oleh ayahnya adalah orang yang membunuh saudaranya. Alkitab mengungkapkan kejahatan yang keji ini dan kecemaran yang berakar mendalam di dalam hati manusia. Semua manusia membawa di dalam dirinya warisan sifat-sifat untuk menjadi pembunuh. Sejak Adam, manusia sudah hidup terpisah dari Allah sebagai seorang yang memusatkan diri sendiri dan didorong oleh nafsu dan harapannya sendiri. Secara tidak sadar ia berpikir bahwa dirinya lebih berarti dan juga standar bagi orang-orang lain. Kalau seseorang nampak lebih kuat, lebih bijaksana, lebih saleh atau lebih cantik, ia akan menjadi iri hati dan membenci orang itu. Masing-masing pribadi ingin menjadi yang paling hebat untuk bisa dikagumi dan dipuja oleh orang-orang lain. Tetapi kesombongan dan merasa diri paling benar adalah sifat-sifat yang sangat merusak.

Yesus menyebut Iblis sebagai “pembunuh sejak semula,” karena Iblis sudah membuat manusia menjauh dari persekutuan awalnya dengan Allah. Sejak itu, maut sudah mengendalikan manusia, “karena upah dosa adalah maut.” Tetapi Allah menyiapkan jalan bagi kita untuk kembali kepada-Nya dengan nilai-nilai kasih dan keadilan-Nya. Semua orang yang mau mengambil kesempatan itu akan diselamatkan, dibaharui pikirannya dan yang mau menerima Allah sebagai pusat di dalam kehidupannya akan menerima kehidupan kekal saat ini juga. Hal ini akan memberikan tujuan dan makna bagi kehidupannya.

Manusia memiliki banyak motivsi dan alasan untuk membunuh. Yesus menyatakan bahwa membunuh adalah yang pertama dari begitu banyak pikiran jahat yang kelur dari hati manusia (Matius 15:19). Tetapi di dalam kekudusa-Nya Allah melawan kejahatan manusia dan melarangnya menjalankan maksudnya ketika Ia memberikan titah ini, “Jangan membunuh.” Karena itu, semua jenis pembunuhan, bahkan bunuh diri, adalah bertentangan dengan kehendak Allah dan dianggap sebagai tindakan yang secara terbuka memberontak terhadap Allah sendiri. Lebih lagi, kalau seseorang memperlakukan orang lain dengan sangat buruk, tidak perduli kalau mereka menjadi kelaparan dan tidak mau memberikan peringatan akan bahaya yang sedang mndekat, ia juga bisa masuk dalam kategori melakukan pembunuhan. Kalau seseorang melukai orang lain, menaruh racun di makananya atau mendorong orang lain untuk melakukan pembunuhan, ia akan duduk bersama-sama dengan kelompok para pembunuh di bangku penghakiman kekal nanti. Bahkan ketika seseorang melukai orang lain dan dengan itu memperpendek masa hidupnya, menurut Alkitab ia juga termasuk melakukan pembunuhan (Roma 13:1-18). Allah meminta pertanggungjawaban atas sesama kita sehingga kita tidak bisa mengelak dan mengatakan seperti yang dikatakan oleh Kain, “Apakah aku penjaga adikku?”


4.08.2 - Hukuman dan Pembalasan Dendam

Hukuman mati di dalam Perjanjian Lama dijatuhkan sebagai pencegahan dan penggenapan hukum terhadap para pembunuh (Keluaran 21:12,14,18). Kebanyakan orang di jaman itu hidup di dalam suku-suku yang membutuhkan semacam jaminan untuk tetap bisa hidup. Ketakutan untuk terlibat di dalam perselisihan berdarah menjadi cara untuk melindungi pribadi-pribadi. Hukum “mati ganti mata, gigi ganti gigi” menentukan jenis hukuman yang proporsional dengan tingkat kerusakan yang terjadi. Tetapi hukuman akan menjadi berlipat ganda dalam kasus pembunuhan terhadap pemimpin dari sebuat suku. Lamekh menuntut 77 orang harus dibunuh kalau ada yang membunuhnya (Kejadian 4:23-24). Beberapa suku masih menerapkan hal ini dalam kasus pembunuhan terhadap salah satu pemimpin mereka.

Dalam budaya Semitis pembunuhan merupakan kejahatan yang tidak bisa diampuni dan tidak bisa diperdamaikan kecuali dengan menumpahkan darah seseorang. Pengampunan justru menjadi ketidakadilan. Orang akan mengambil keuntungan dari rasa bersalah orang lain. Kebencian terhadap musuh akan dipelihara dari generasi kepada generasi selanjutnya bahkan kalaupun seluruh bangsa terlibat di dalamnya. Pemikiran yang demikian sudah menjadi sesuatu yang mengherankan bagi orang-orang Kristen, baik di Timur maupun di Barat. Kita memiliki budaya yang berbeda karena Kristus sudah mencurahkan darah-Nya untuk menghapuskan semua kesalahan dari setiap pembunuh.

Pembunuh selalu ada dalam keadaan yang memprihatinkan karena ia dibebani oleh rasa bersalahnya. Roh dari mereka yang dibunuhnya akan menghantui pikiran atau mimpinya. Suatu malam seorang penembak jitu dari masa Perang Dunia II melihat tengkorak-tengkorak dari orang-orang yang dibunuhnya menggelundung ke arahnya dan mata mereka yang kosong menatapnya. Kalau seorang pembunuh kembali ke desanya yang Muslim, bahkan setelah generasi berganti, ia harus tetap siap untuk dibunuh oleh anak laki-laki orang yang sudah dibunuhnya. Pembunuhan tidak mengasilkan apapun. Tetapi tidak cukup untuk menakut-nakuti atau mengancam agar orang tidak membunuh sesamanya. Semua pikiran jahat harus dibuang dari dalam hati manusia dan digantikan dengan pikiran yang baru. Yesus memahami maksud hati manusia dan dan yang dimaksudkan-Nya adalah secara tidak langsung menghukum mati semua orang, ketika Ia mengatakan, “Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja” (Matius 19:17; Markus 10:18; Lukas 18:19). Tetapi pada saat yang sama Ia memikul dosa kita seperti seorang pembunuh dan meletakkan Roh-Nya yang manis di dalam hati kita, yang bisa memperbaharui hati kita dan membuang pikiran pembunuhan. Yesus memberikan kepada kita hati yang baru dan roh yang murni, dan menjadikan kita sebagai orang-orang percaya, yang bisa mentaati perintah-perintah-Nya dan mengasihi musuh-musuh kita.


4.08.3 - Perspektif Kristen tentang Pembunuhan dan Rekonsiliasi

Di dalam Khotbah di Bukit Yesus mengajarkan bahwa bukan hanya membunuh tubuh manusia yang termasuk kejahatan tetapi penghinaan juga termasuk pembunuhan rohani. Hal itu memiliki dampak yang panjang seperti racun. Segala jenis penghinaan, dusta kebencian, ancaman yang dilakukan, tindakan kepahitan, sumpah serapah, pengkhianatan atas kepercayaan dan pelecehan adalah tindakan yang mematikian secara rohani. Semua itu pertama-tama meracuni hati orang yang mengeluarkan kata-kata itu, dan kemudian meracuni pikiran orang yang menjadi sasarannya. Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Matius 5:22). Melalui perkataan ini Yesus menyatakan bahwa kita semua bersalah dan akan dihakimi sebagai orang-orang yang berhati jahat dengan roh pembunuhan, yang layak dibuang ke dalam neraka.

Kita harus bertobat dan mengakui bahwa kita semua memiliki pikiran pembunuhan di dalam hati kita. Kemarahan, iri hati, berkeras dalam pertengkaran yang penuh kebencian, keinginan untuk membalas dendam, kekejaman dan kebrutalan adalah perasaan-perasaan dan tindakan yang dilakukan bukan hanya oleh orang-orang dewasa tetapi juga oleh anak-anak. Tidak heran Yohanes mengatakan, “Barangsiapa membenci saudaranya adalah seorang pembunuh” (1 Yohanes 3:15). Kita harus menguji diri kita sendiri dengan jujur dan melihat apakah kita memiliki perasaan kebencian terhadap orang-orang lain dan meminta agar Allah mengalahkan sepenuhnya kebencian kita. Kalau tidak demikian, maka pikiran jahat akan bisa dengan mudah berakar di dalam hati kita dan melemahkan kita. Yesus menghendaki semua orang yang mengucapkan Doa Bapa Kami untuk mengampuni orang lain sepenuhnya sebagaimana Allah sudah mengampuni segala dosa kita. Allah menghendaki kita untuk mengampuni. Kehendak kita untuk mengampuni akan menolong kita menaklukkan dan keputusan kita untuk mengampuni akan mengalahkan kehendak untuk membinasakan musuh-musuh kita. Anda mungkin setuju untuk memaafkan musuh-musuh anda tetapi anda masih tidak bisa melupakan kejahatannya. Berhati-hatilah! Dalam hal ini kita seperti meminta Allah mengampuni dosa-dosa kita tetapi tidak melupakan dosa-dosa itu. Atau mungkin kita mengatakan, “Aku mau mengampuni kesalahan temanku dan melupakan semua kejahatan yang dilakukannya tetapi aku tidak mau bertemu dengan dia lagi!” apakah anda mau datang kepada Allah, tetapi sama sekali tidak mau bertemu atau melihat Dia lagi? Apakah anda mau Dia memperlakukan anda dengan cara yang sama anda memperlakukan musuh-musuh anda?

Yesus hanya memberikan kepada kita satu jalan saja untuk mendapatkan damai sejahtera, sebagaimana yang dikatakan-Nya, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga” (Matius 5:44-45). Kita tidak bisa mengalahkan kebencian kecuali dengan kuasa kasih Ilahi yang nyata di dalam hati orang percaya yang merasa menyesal. Karena itu, Yesus dengan sangat jelas mengatakan kepada kita, “Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Matius 6:15).

Mengapa orang-orang Kristen bisa mengampuni musuh-musuh mereka atas segala kesalahan mereka padahal sebenarnya mereka harus dihukum? Tidakkah hal demikian merupakan ketidakadilan dalam pandangan surga? Benar sekali! Allah tidak akan membiarkan dosa tidak mendapatkan hukuman, sebagaimana tertulis, “Tanpa penumpahan darah tidak akan ada pengampunan dosa.” Untuk itulah Yesus menanggung segala dosa kita dan memikul penghukuman bagi kita. Firman Allah mengatakan, “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:5). Yesus, Anak Allah, menanggung dosa-dosa pribadi kita dan dosa-dosa semua orang yang menghina dan semua pembunuh. Itulah sebabnya kita memiliki hak untuk mengampuni dosa-dosa semua orang tanpa kecuali. Kita tidak lagi memiliki hak atau kewajiban untuk mencari keadilan dengan melakukan pembalasan. Di dalam penderitaan dan kematian-Nya sebagai pengganti, Yesus menggenapkan semua persyaratan keadilan Ilahi. Ia adalah damai sejahtera kita. Barangsiapa masih berjuang untuk hak-haknya dan mencari keadilan untuk dirinya sendiri sedang menghukum dirinya. Kasih sajalah yang menjadi penggenapan hukum. Menjauh dari kasih berarti masuk kembali ke dalam penghukuman. Yesus saja yang menciptakan pikiran dan kehendak yang baru di dalam kehidupan para pengikut-Nya dan menolong mereka untuk mengampuni sebagaimana Allah sudah mengampuni.


4.08.4 - Agama Pedang

Semua orang yang melihat kasih anugerah pengampunan yang diberikan Yesus akan sangat terkejut ketika melihat bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk melakukan pembalasan berdarah. Perang suci dengan pembunuhan yang terencana adalah perintah ilahi menurut Islam. Islam mengijinkan dilakukannya pembunuhan atas nama agama dan menjadikannya kewajiban bagi seorang Muslim. Muhammad menuliskan di dalam Al-Quran, “Tawanlah dan bunuhlah mereka dimana saja kamu menemukannya” (Surat anNisa 4:89,91 atau al-Baqara 2:191). Roh Kristus tidak berbicara melalui perkataan yang demikian, tetapi roh dari “pembunuh yang sejak dari mulanya.”

Muhammad membunuh musuh-musuhnya, satu demi satu, dan secara pribadi ikut dalam 27 kali serangan. Bahkan, ia ia membiarkan orang banyak menggali kubur orang-orang Yahudi di Medinah yang dituduhnya melakukan pengkhianatan dalam Perang Khandaq.

Sejak Perang Badar, orang-orang Muslim yang membunuh musuh-musuh mereka dalam perang suci dibenaran melalui perkataan Muhammad. “bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar” (Surat al-Anfal 8:17). Orang-orang Muslim moderat tidak setuju dengan tafsiran langsung dari ayat ini, tetapi para teroris agama memakainya untuk membenarkan diri mereka di depan pengadilan. Wahyu yang diterima Muhammad memberikan pembenaran untuk setiap pembunuhan yang dilakukan dalam perang suci. Lebih dari itu, siapa saja di antara mereka yang mati dalam perang Islami melawan orang-orang kafir akan langsung masuk ke Firdaus, dimana kenikmatan sensual yang tidak ada taranya menantikannya. Di sisi lain, orang-orang Muslim tidak diperbolehkan membunuh orang Muslim lainnya secara sengaja karena pembunuhan yang demikian tidak terampunkan menurut hukum Islam. Tetapi para penyembah berhala dan orang-orang bukan Muslim sama sekali tidak diberi perlindungan. Membunuh seorang animis dianggap sebagai perbuatan kebaikan yang akan membuat pembunuhnya menerima pahala surgawi.

Dalam hukum Islam kita menemukan sebuah konsep keadilan yang asing bagi kita. Harga yang mahal untuk darah yang tercurah, al-dyia, bisa dibayar untuk menggantikan pembalasan. Tetapi bahkan dalah kecelakaan lalu lintas dan tabrakan mobil, hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi masih tetap berlaku, baik secara sah maupun tidak sah, di negara-negara yang memberlakukan hukum Islam. Jarang sekali terjadi adanya kompromi, karena hukum Islam menuntut pendamaian dengan caranya sendiri, yang menuntut agar kebenaran dan keadilan dilaksanakan tanpa belas kasihan. Orang-orang Muslim tidak memiliki pengganti berupa Anak Domba Allah yang meneguhkan penebusan kekal. Mereka tidak mengenal kasih karunia Allah yang sudah mengalahkan tuntutan kebenaran. Karena itu mereka harus memberlakukan hukum tanpa belas kasihan.


4.08.5 - Khotbah di Bukit Melawan Jihad

Kehidupan di dalam Perjanjian Lama didasarkan kepada keadilan. Hukum Musa mencakup seluruh aspek kehidupan, bukan hanya kehidupan sipil tetapi juga sistem keagamaan. Karena itu pejabat keagamaan negara diperlukan untuk menegakkan pembayaran denda atas pelanggaran terhadap hukum. Perang agama menjadi sesuatu yang tak terelakkan sebagai akibat dari pemahaman Perjanjian Lama dan Islam akan hukum dan pemerintahan. Tetapi sejak Yesus Kristus memberitakan bahwa semua orang harus mengasihi musuh-musuh mereka, dan melakukan hal itu, maka semua perang agama kehilangan legitimasi Ilahinya. Perang Salib adalah sebuah dosa dan langkah mundur karena mengkaitkan kewenangan politik dengan kewenangan agama. Yesus tidak mengutus para murid-Nya ke dunia untuk memberitakan Injil dengan bersenjatkan pedang. Sebaliknya, Ia mengatakan kepada Petrus, “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Matius 26:52). Yesus dengan rela naik ke kayu salib dan mati, meski Ia adalah orang benar, dan menolak untuk membinasakan musuh-musuh-Nya dengan sepasukan malaikat. Roh Kristus sangat bertentangan dengan roh Muhammad. Yesus memberitakan di Khotbah di Bukit, “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:38,39). Jadi, Yesus mengalahkan cara hidup yang lama, yang menuntut hak untuk membela diri. Kelemahan tubuh Kristus di dalam penyaliban-Nya, dan kuasa rohani-Nya di dalam kasih, iman dan pengharapan adalah satu-satunya jalan untuk menaklukkan Iblis, dan menggenapi keseluruhan tuntutan hukum Ilahi.

Seorang Kristen menghadapi pertanyaan yang kritis ini: Apa yang harus saya lakukan kalau saya harus mengikuti wajib militer dan dituntut untuk memakai senjata modern dan kemungkinan nantinya harus berperang dalam peperangan? Apa artinya hal itu bagi seorang warga negara yang percaya kepada Kristus dalam sebuah negara yang besar atau bagi seorang Kristen yang minoritas di dalam sebuah negara non Kristen? Dalam masa yang berbeda-beda dalam sejarah, orang-orang percaya memberikan jawaban yang berbeda-beda terhadap pertanyaan yang sangat sulit ini. Beberapa saudara siap untuk dilemparkan ke dalam penjara karena mereka mengedepankan perdamaian dan bahkan siap untuk mati sebagai martir bagi Kristus. Orang-orang lain ingin mentaati pemerintah sebagai kekuasaan yang ditempatkan Allah di atas mereka. Mereka menganggap bahwa hukum atas pembunuhan adalah hukum yang berkaitan dengan kehidupan pribadi dan hanya menyangkut kehidupan pribadi mereka sendiri. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak membenci siapapun, dan hanya mau membela negara mereka. Mereka berusaha keras untuk mengasihi musuh mereka dan pada saat yang sama juga setia kepada negara mereka. Mereka menganggap Kerajaan Allah yang akan datang adalah kerajaan rohani yang kekal, tetapi mengakui bahwa pemerintahan dunia sekarang ini adalah sesuatu yang sangat perlu ada. Semua orang yang mendapatkan kesulitan untuk menjawab pertanyaan ini harus sungguh-sungguh meminta tuntunan Allah. Ia akan mendapatkan jawaban yang tepat baginya. Tetapi orang-orang percaya itu harus berhati-hati agar jangan sampai ia menganggap rendah orang-orang Kristen yang memiliki keputusan yang berbeda. Tanggungjawab untuk negara dan keluarga adalah juga perintah Allah sebagaimana juga mengasihi musuh.


4.08.6 - Para Pembunuh Modern

Khotbah di Bukit, yang berisi penjelasan tentang kerajaan di bawah perjanjian yang baru, hanya bisa dilaksanakan di dalam tingkatan pribadi. Nampaknya belum waktunya untuk hal itu dilaksanakan secara politis. Ketika seseorang menunjukkan kekerasan untuk mencapai kedamaian, hal itu menunjukkan bahwa ia salah dalam memahami Khotban di Bukit, khususnya mereka, yang karena dorongan kemanusiaan yang palsu, mendukung aborsi di seluruh dunia. Ini adalah kejahatan yang paling keji yang pernah terjadi di dalam sejarah manusia. Jutaan embrio yang hidup dibunuh di dalam rahim. Banyak ibu dan ayah yang menderita karena sengatan hati nurani mereka sendiri. Kita hidup dalam generasi pembunuh dan tanpa disadari kita menjadi bagian dari generasi yang demikian.

Puluhan ribu orang terlibat di dalam kecelakaan lalu lintas, bukan karena ketidak-sengajaan atau karena tekhnologi modern, tetapi karena kemabukan, mengendarai di atas batas kecepatan atau kelelahan. Kalau kita mau mentaati hukum keenam ini, kita harus mempertimbangkan kecelakaan lalu lintas sebagai pembunuhan dan dengan sungguh-sungguh harus berusaha untuk mengubah cara kita berkendara. Kita perlu berkendara dengan sikap pengendalian diri yang rendah hati, mencari perlindungan Allah dan meminta kesabaran dari-Nya.

Kita hidup di jaman polusi lingkungan, ketika udara, air dan bahan makanan terkena limbah racun. Mungkin wabah dari Allah bisa kita kurangi kalau kita merawat lingkungan kita dan mengangkat mata kita kepada Allah, meminta agar Ia menolong kita hidup baik. Ini cara kita melestarikan dunia kita dan berjuang untuk tidak merusak diri kita sendiri.

Makan berlebihan adalah rumus rahasia untuk membunuh diri sendiri yang dilakukan oleh ribuan orang yang hidup dalam masyarakat yang mewah, yang membunuh diri mereka secara perlahan-lahan. Orang-orang lainnya melibatkan diri dalam pelecehan seksual dan merusak tubuh, jiwa dan roh mereka sendiri. Barangsiapa yang iri hati atau mementingkan diri sendiri akan menderita depresi dan kesepian, yang juga akan memperpendek masa hidupnya. Juga, bekerja berlebihan, kesemberonoan dan sikap yang tidak bertanggungjawab atas diri sendiri juga merupakan tindakan merusak diri sendiri. Tidur tidak teratur dan kemalasan juga dosa terhadap tubuhnya karena kita adalah milik Allah, dan bukan milik diri kita sendiri.

Yesus mengajarkan keada kita tentang penyangkalan diri dan kesadaran diri ketika Ia mengatakan, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 16:25). Pauls menekankan, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”(Roma 14:17). Kehidupan rohani yang wajar akan menghasilkan pertumbuhan kehidupan jasmani yang wajar dan disertai dengan damai sejahtera hati dan pikiran.

Perintah keenam melarang segala jenis pembunuhan dan pada saat yang sama mendorong kita untuk terus melakukan perbuatan kasih. Titah itu berusaha membangkitkan di dalam kita rasa simpati kepada mereka yang hidup di dalam kekurangan yang amat sangat. Kita jangan sampai melewati orang yang membutuhkan seolah-olah kita tidak melihat mereka, tetapi mengambil waktu untuk sebanyak mungkin menolong mereka. Yesus, kasih Allah yang berinkarnasi, menunjukkan kepada kita bagaimana mengaplikasikan titah ini secara praktis. Roh-Nya akan menuntun kita kalau kita mmeinta hikmat dari-Nya. Yesus sajalah yang bisa mengubahkan para pembunuh menjadi anak-anak kekasih-Nya, dan menolong mereka menolong orang-orang lain yang terhilang agar mereka juga menerima kesembuhan rohani. Ini akan terjadi ketika kita membawa mereka kepada Tabib di atas segala tabib itu, Yesus, yang memperbaharui dan menyucikan mereka di dalam batin mereka dan mengubahkan jiwa pembunuh mereka menjadi jiwa yang melayani dan penuh kasih.

www.Grace-and-Truth.net

Page last modified on September 06, 2013, at 11:33 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.50)