Home
Links
Contact
About us
Impressum
Site Map?


Afrikaans?
عربي
Bahasa Indones.
Deutsch
English
Français
Hausa/هَوُسَا
עברית
O‘zbek
Peul?
Português
Русский
தமிழ்
Türkçe
Yorùbá
中文



Home (Old)
Content (Old)


Indonesian (Old)
English (Old)
German (Old)
Russian (Old)

Home -- Indonesian -- 09. Comparisons -- 4.09 Seventh Commandment: Do Not Commit Adultery
This page in: -- Afrikaans -- Arabic? -- Armenian? -- Azeri? -- Bulgarian? -- Cebuano? -- Chinese? -- English -- Farsi? -- French -- German -- Gujarati? -- Hebrew -- INDONESIAN -- Norwegian? -- Polish? -- Russian -- Serbian? -- Spanish? -- Tamil -- Turkish? -- Uzbek -- Yiddish? -- Yoruba?

Previous part -- Next part

09. PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KEKRISTENAN
Perbandingan 4 - DASA TITAH

4.09 - TITAH KETUJUH: JANGAN BERZINAH



"Jangan Berzinah." (Keluaran 20:14)


4.09.1 - Lembaga dan Tujuan Pernikahan

Allah menciptakan manusia sesuai dengan gambar-Nya; di dalam gambar-Nya diciptakanlah mereka. Ia menciptakan mereka laki-laki dan perempuan. Ia sudah memilih untukmenjadikan keduanya sebagai pernyataan gambar-Nya. Keduanya sama dalam tingkatan rohani mereka. Hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan Allah adalah rahasia dari harga diri dan kehormatan mereka.

Allah menciptakan satu laki-laki dan satu perempuan. Perhatikan bahwa Dia tidak menciptakan dua, tiga, atau empat istri untuk laki-laki. Allah adalah pihak ketiga di dalam perjanjian pernikahan. Iamemberikan kepada masing-masing pasangan itu satu pikiran, satu tujuan, membentuk keduanya dan membuat mereka setara secara rohani. Ia menuntun mereka ke dalam kehidupan yang diwarnai dengan pengorbanan dimana kasih-Nya menjadi pengikat kepada kesempurnaan. Barangsiapa mengasihi Allah bisa mengasihi pasanganya. Tuhan, di dalam kasih karunia-Nya, mengikat kedua orang yang memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri itu menjadi satu, dengan tujuan bahwa keduanya akan mengalahkan sikap mementingkan diri sendiri itu dengan kuasa-Nya yang lemah lembut.

Allah menciptakan perempuan dari laki-laki, dan bukan sebaliknya. Seorang rabbi Yahudi pernah menjelaskan bahwa sang Pencipta tidak mengambil tulang dari kepala laki-laki agar perempuan menjadi kepala atasnya, dan juga tidak mengambilnya dari kaki laki-laki agar laki-laki bisa menginjak-injak perempuan. Allah mengambil tulang rusuknya sehinga perempuan bisa menjadi setara dengan laki-laki, menolongnya, dan menyempurnakannya serta ikut berbagi beban dengannya.

Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, nama perempuan adalah isha, bentuk feminin dari bahasa Ibrani ish, yang berarti manusia, dimana akhiran –a hanyalah bentuk akhiran Semitis yang ditemukan baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Ibrani. Perempuan itu berhubungan secara setara dengan laki-laki dalam segala sesuatu dan dalam semua hak yang dimilikinya. Tidak heran bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, firman Allah, dan bersatu dengan isterinya, bukan sebaliknya. Banyak orang harus bertobat dan kemudian melepaskan anak laki-lakinya yang sudah menikah untuk meninggalkan orang tuanya supaya dia hidup dalam damai sejahtera dengan isterinya. Kedua belah pihak harus membentuk keluarga yang mandiri dan meluangkan waktu mereka bersama-sama di hadapan Allah, membentuk kesatuan yang kuat di dalam roh, jiwa dan tubuh mereka. Kasih seksual dan nafsu merupakan anugerah yang baik dari Allah untuk memelihara penghargaan terhadap hubungan keluarga mereka dengan tujuan untuk memiliki anak-anak atas anugerah Allah. Allah tidak pernah menganggap kasih seksual di dalam keluarga sebagai sesuatu yang najis atau kotor, tetapi sebagai suatu berkat dan suci sejauh keduanya hidup di hadapan Allah dan setia kepada pasangannya.


4.09.2 - Kelanggengan Pernikahan

Pernikahan diselewengkan pada saat kedua belah pihak menjauh dari persekutuan mereka dengan Allah. Kejatuhan manusia ke dalam dosa dimulai di dalam roh dan jiwanya, bukan tubuhnya. Manusia ditulari oleh kesombongan dari si jahat itu. Laki-laki dan perempuan ingin menjadi sama dengan Allah. Cobaan ini dimulai di dalam pikiran dan kehendak manusia dan berakibat adanya hukuman yang sangat dahsyat yang mengubah seluruh sisi kehidupannya. Perempuan tunduk kepada laki-laki dan tidak bisa lagi memahami cara untuk menjalani kehidupan dan dunia ini sendiri. Kemudian perempuan juga harus melahirkan anak dengan penuh kesakitan sementara laki-laki harus bekerja keras di tanah yang bersemak duri dalam keadaan yang sangat sulit. Sejak itu maut sudah menjadi upah dosa.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa mempengaruhi pernikahan secara radikal, tetapi monogami tetap berlanjut bahkan setelah pemberontakan manusia melawan Allah. Sayangnya, orang-orang di jaman Perjanjian Lama mulai mengambil beberapa istri, yang membawa mereka ke dalam masalah yang serius. Mereka juga mendatangkan penderitaan yang besar kepada keturunan mereka dengan tidak mentaati perintah Allah berkaitan dengan monogami. Di dalam Ismael, anak sulung Abraham, yang oleh orang-orang Muslim dianggap sebagai bapak dari semua orang Arab dan Muslim, kita melihat contoh klasik dari penderitaan yang berkepanjangan yang berasal dari ketidaktaatan Abraham, orang yang dikasihi Allah itu. Bukan rahasia bahwa peperangan yang berkecamuk di antara keturunan kedua saudara dari satu ayah itu yang menggoncangkan Timur Tengah bahkan sampai di masa sekarang ini.

Yakub memiliki anak-anak dengan isteri yang paling disayanginya, Rahel, dengan isteri pertamanya Lea dan bahkan kemudian juga dengan gundik-gundiknya. Daud menjadi seorang pembunuh ketika ia jatuh cinta dengan seorang perempuan yang sudah menikah, tetapi ia kemudian sungguh-sungguh bertobat. Banyak orang melakukan dosa seperti Daud, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh bertobat seperti dia! Kita semua perlu menghafalkan Mazmur 51 dan meniru pertobatan hamba Allah ini. Salomo yang bijaksana bertindak bodoh dan tidak berhikmat ketika ia mengawini ratusan perempuan yang tiak mengenal Allah dan mengijinkan mereka memperkenalkan dewa-dewa asing mereka kepada bangsanya. Dewa-dewa itu membuat bangsa itu menyimpang dari Allah yang setia.

Poligami belum dihapuskan bahkan sampai saat ini di Israel. Orang-orang Yahudi yang beremigrasi dari negara-negara Arab masih boleh hidup bersama istri-istri mereka. Perceraian dan perkawinan kembali dianggap sah jika istri pertama tidak memiliki anak laki-laki.

Meskipun Allah mentolerir poligami di dalam Perjanjian Lama dan dengan caranya membiarkan mereka yang melanggar menderita karena akibat dari dosa-dosa mereka, Ia meneyapkan bahwa orang-orang yang melakukan perjinahan harus dijatuhi hukuman mati (Imamat 20:10-16; Ulangan 22:22-26). Kita tidak mungkin tidak merasa gemetar saat membaca daftar hukuman di dalam hukum Musa atas berbagai jenis pelanggaran perjinahan yang masih dilakukan orang sampai hari ini, baik secara rahasia maupun secara terbuka. Bahkan di dalam keluarga-keluarga dan kelompok-kelompok tertentu praktek pelanggaran seksual terjadi dengan cara yang bisa mendatangkan hukuman mati kepada semua orang yang terlibat di dalamnya. Tidak ada toleransi untuk homoseksual di dalam Alkitab; hal itu juga dihukum mati. Yang lebih jahat dari semua itu dalam pandangan Allah adalah adanya orang-orang yang berhubungan seks dengan binatang. Tidak ada hubungan seksual yang diijinkan oleh Allah selain di dalam kerangka pernikahan antara seorang suami dengan seorang isteri. Barangsiapa menolak perintah yang diberikan oleh Allah itu ada di bawah kutuk dan hukuman Allah. Seluruh dunia selalu membutuhkan pertobatan yang tulus dan terus menerus di dalam pikiran, hati dan perbuatan.


4.09.3 - Penderitaan yang Diakibatkan oleh Perjinahan

Perjinahan biasanya tidak langsung dimulai dengan adanya hubungan yang terjadi antara salah satu dari pasangan itu dengan orang lain, tetapi hal itu dimulai secara bertahap dari keterpisahan dengan Allah, dan sebagai akibatnya, dari pernikahan juga. Tetapi barangsiapa tetap ada di dalam persekutuan dengan Allah akan lebih bisa bersabar dan lebih dewasa di dalam kasih untuk pasangannya, dan ia tidak akan melakukan perjinahan dalam keadaan apapun. Inilah sebabnya perjinahan biasanya dimulai dengan kemerosotan dan kehancuran persekutuan rohani, emosi dan fisik yang terjadi berkepanjangan. Kedua belah pihak tidak lagi bisa saling memahami dan kemudian tenggelam semakin dalam di dalam lumpur dosa.

Penyimpangan keluarga biasanya dimulai di dalam pikiran. Pikiran memberikan gambaran-gambaran yang menggoda, yang, kalau tidak dengan keras ditolak dan dicabut di dalam nama Yesus, akan menjatuhkan manusia ke dalam jerat yang mematikan. Manusia kemudian kan berusaha untuk membuat apayang ada di dalam impian yang kotor itu menjadi kenyataan dan dengan sengaja melakukan dosa. Orang yang satunya lagi mungkin tergoda, dan tertarik untuk melakukan dosa sampai kemudian keduanya jatuh ke dalam cobaan itu tanpa perlawanan. Hati nurani bisa saja mengganggu di masa-masa awal, tetapi ketika pemberontakan berkembang maka hati menjadi keras, dan perjinahan bukan hanya sekedar menjadi kebiasaan tetapi kebutuhan. Bagaimanapun, sejak awal perkembangan dosanya, si pejinah itu tahu bahwa apa yang dilakukannya itu tidak benar dan kotor. Barangsiapa memulai dosa akan terjerat sehingga dia harus melanjutkannya. Dosa menjadi kekuatan pendorong di dalam diri semua orang yang membuka diri terhadapnya, tetapi puji Tuhan, ada pengharapan yang kekal untuk adanya pembebasan dari dosa. Yesus mengatakan, “Setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa... Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yohanes 8:34-36). Anugerah dan roh Tuhan kita Yesus Kristus menjangkau ke kedalaman hati nurani manusia dan menyembuhkannya sepenuhnya. Beberapa bekas luka dan cobaan akan tetap ada tetapi darah Yesus membasuhkan kitadari segala dosa dan memberikan kemampuan kepada kita untuk mengalahkan cobaan. Apabila Anak itu memerdekakan seseorang, maka dia sungguh-sungguh mereka.


4.09.4 - Pernikahan yang Dikuatkan oleh Yesus

Yesus meneguhkan monogami dan menekankan bahwa persekutuan antara seorang laki-laki dan perempuan adalah persatuan seumur hidup (Matius 19:4-6). Ia menjawab mereka yang melawannya dengan mengatakan, “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (lihat juga Markus 10:1-12).

Dengan ayat-ayat itu Yesus menegaskan suatu jenis hubungan tritunggal yang diteguhkan di antara Allah, laki-laki dan perempuan, yang dimeteraikan-Nya dengan Roh Kudus di dalam hati para pengikut-Nya. Ia menyucikan roh, jiwa dan tubuh kita, memungkinkan kita untuk menjadi bait dari Allah yang hidup dan mengembangkan kehidupan perkawinan menjadi sebuah surga kecil dimana di dalamnya Tuhan berdiam dan berkuasa. Pengampunan dosa oleh darah Yesus memberikan kepada kitasuatu jiwa, suatu tubuh yang disucikan dan menciptakan suasana yang segar di dalam keseluruhan keluarga. Di dalam Kristus, kehidupan perkawinan mendapatkan makna baru, kualitas yang diberkati, dan memberikan tujuan baru kepada pernikahan. Hukum emasnya adalah bahwa tidak boleh ada orang Kristen yang menikah dengan orang yang tidak percaya atau yang bukan Kristen. Dengan ini maka ia akan terhindar dari banyak masalah. Mengasihi Yesus berarti mengasihi pasangan anda dan melayani dia dengan setia sampai mati.

Baik Yesus maupun para rasul-Nya tidak meniadakan hasrat laki-laki dan ketertarikan kepada perempuan. Mereka tidak membatalkan ketundukan perempuan kepada laki-laki. Tetapi Roh Kudus menuntun pasangan kepada kerendahan hati dan kelemah-lembutan dalam segala sisi kehidupan. Rasul Paulus memerintahkan masing-masing laki-laki untuk mengasihi isterinya sebagaimana Yesus mengorbankan diri-Nya bagi gereja-Nya. Kasih yang sejati bukanlah memuaskan hawa nafsu tanpa ikatan, tetapi justru saling melayani pasangan masing-masing dalam sikap saling menghargai. Pengendalian diri muncul dari berdiamnya Roh Kudus dimana kemudian pernikahan bukan menjadi tempat pemuasan seksual saja, tetapi menjadi tempat saling melayani sesama yang mempermuliakan Allah.


4.09.5 - Pernikahan di dalam Perjanjian Baru

Yesus menetapkan standar yang tinggi untuk kemurnian roh, jiwa dan tubuh kita. Ia mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:28). Dengan standar ini maka semua laki-laki nampak berdosa di hadapan Allah yang kudus. Kita perlu mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah secara terbuka karena memang tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Allah. Kita harus mengakui dosa-dosa seksual kita sepenuhnya sebagai dasar bagi pengudusan kita di dalam sekolah Yesus. Kita semua perlu merasa hancur hati di hadapan hakim yang kekal itu, yang pada saat yang juga adalah Anak Domba Allah yang lemah lembut yang memikul segala dosa dunia. Semua orang yang berpaling dan datang kepada-Nya akan dibenarkan, disucikan dan dikuduskan, selama masih ada waktu untuk keselamatan.

Ketika para tua-tua bangsa Israel membawa seorang perempuan yang kedapatan melakukan zinah ke hadapan Yesus, Ia tidak meremehkan dosanya, tetapi setelah Ia memberikan kesempatan kepada para tua-tua itu untuk memikirkan keadaan mereka sendiri, Ia memerintahkan agar perempuan itu dirajam dengan batu sesuai dengan hukum Taurat. Tetapi Ia membuat sedikit pembedaan: barangsiapa yang tidak pernah melakukan dosa harus menjadi orang yang terdahulu melemparkan batu yang pertama. Kemudian semua orang itu tertusuk dan tertuduh di dalam hati nurani mereka. Di antara orang-orang itu ada imam-imam kepala, tua-tua dan bahkan para murid Yesus sendiri. Semuanya terdiam dan pergi, satu demi satu. Akhirnya Yesus dan perempuan itu saja yang masih ada di sana. Sekarang Ia bisa saja melempari perempuan itu dengan batu karena Dialah satu-satunya orang yang tidak berdosa. Tetapi Ia tidak melempari perempuan itu. Ia memerintahkan agar perempuan itu pulang dan tidak melakukan dosa lagi. Apakah Yesus melanggar hukum karena tidak merajam perempuan itu? Tidak! Justru, Ia menanggung segala dosa perempuan itu ke atas diri-Nya dan mati menggantikannya. Jadi Ia memiliki hak untuk mengampuni dosa-dosa perempuan itu. Hanya kematian Yesus di kayu salib yang membebaskan pezinah itu dari kepahitan tuduhan itu. Semua orang yang melakukan dosa perzinahan di seluruh dunia baik dalam pikiran, perkataan atau tindakan akan menemukan keselamatan hanya di dalam Yesus karena Dia sudah tersalib.

Yesus melarang perceraian dan menegaskan kesatuan yang langgeng dari pasangan yang menikah. Semua orang yang berpikir mau menikah harus berdoa sungguh-sungguh tentang langkah ini. Orang itu harus bertanya, “Apakah dia merupakan orang yang ditentukan Allah bagiku atau aku memilih dia karena motivasi yang mementingkan diri sendiri? Apakah kami sepadan dalam hal usia, temperamen, talenta, pendidikan dan keluarga? Apakah dia adalah orang yang berpegang teguh kepada keyakinan akan Tuhan Tritunggal atau hanya sekedar memiliki hubungan yang dangkal dengan Tuhan?” Pertanyaan-pertanyaan yang demikian dan juga pertanyaan yang lain perlu diangkat dan dengan penuh doa dipertimbangkan sebelum pernikahan selama masih ada waktu untuk mempertimbangkannya. Memutuskan pertunangan masih lebih baik dibandingkan dengan memasuki pernikahan dengan pasangan yang tidak seimbang.

Hubungan seks sebelum pernikahan harus dihindari sama sekali. Kalau anda mengasihi pacar anda anda akan menghormati dia dan tidak akan merusak hati nurani atau merusak dirinya. Tidak seorangpun yang bisa yakin apakah dia akan tetap hidup sampai hari pernikahan. Jadi, sebagai seorang pemuda anda harus belajar bagaimana mengendalikan diri sebagai persiapan untuk kehidupan pernikahan. Bagaimana kalau sesudah anda menikah lalu istri anda menjadi begitu sakit sehingga tidak bisa menjalani hubungan seksual? Kasih bukan hanya mencari kepuasan, tetapi menuntun penyangkalan diri dan pengorbanan. Kalau seseorang mengatakan bahwa dia tidak bisa menunggu sampai hari pernikahan, lebih baik tidak usah menikah, karena ia juga tidak bisa diharapkan untuk setia di kemudian hari. Kristus sudah memanggil kita untuk mengendalikan diri, bukan untuk kebebasan seksual, bertolak belakang dengan apa yang ditampilkan di televisi atau di beberapa agama tertentu.

Keinginan seksual tidak jahat dengan sendirinya; hal itu merupakan anugerah Allah yang atasnya kita harusmengucapkan syukur. Namun, manusia perlu mengendalikan keinginannya dan tidak menggoda siapapun. Mengenai seorang dewasa yang melecehkan anak-anak, Yesus mengatakan, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (Matius 18:6). Penghukuman yang keras menanti orang yang demikian. Barangsiapa melecehkan anak-anak tidak akan bisa mewarisi Kerajaan Allah kecuali kalau dia bertobat dengan tulus dan sepenuhnya melepaskan diri dari dosanya (1 Korintus 6:9-11). Kasih yang sejati tidak akan melakukan kejahatan terhadap siapapun.

Para pemudi juga harus menyiapkan diri untuk teman hidup mereka saat mereka mengikut Yesus. Masa ini adalah masalah yang tidak mudah dimana film-film yang tidak tahu malu, majalah yang vulgar dan pertunjukan televisi yang brutal yang asalnya dari neraka, dan bukan dari surga. Sebuah keluarga Kristen yang baik atau kelompok pemuda yang berpusat kepada Kristus bisa menolong untuk mencapai pertumbuhan yang bertahap dari roh, jiwa dan tubuh. Semakin cepat seorang pemudi menyerahkan dirinya kepada Yesus, semakin baik. Ia akan bertumbuh dan hidup terlindung dari semua godaan. Seorang pemudi tidak boleh mencari seorang suami karena kekayaan atau gelar yang tinggi, tetapi ia harus bisa melihat apakah ada kehidupan dengan hatiyang baru di dalam diri pemuda itu, atau apakah ia melakukan pekerjaannya dengan setia dan tekun. Buah-buah Roh lebih penting dibandingkan penampilan semata. Tuhan mengatakan, “orang jahat tidak akan menemukan ketenangan,” yang juga terjadi dalam kaitannya dengan kehidupan keluarga.

Tetapi jangan sampai kita mendustai diri kita sendiri: ular itu juga ditemukan di dalam firdaus. Tidak ada keamanan atau damai sejahtera di dalam kehidupan manusia tanpa tunduk kepada Yesus dan berdiam di dalam Dia. Dia sajalah yang mampu menolong kita mengalahkan cobaan. Karena tidak seorangpun di antara kita yang hidup bebas dari dosa, kita harus mengakui dosa-dosa dan pelanggaran kita kepada Yesus. Kalau anda berlambat dalam mengakuinya, dosa akan berkuasa atas anda. Berbaliklah kepada Tuhan dan Ia akan langsung membebaskan anda. Larilah kepada-Nya setiap kali anda diserang oleh cobaan.

Sebuah pernikahan harus dilakukan di dalam nama Yesus dan, kalau memungkinkan, di dalam upacara gereja, menantikan kehidupan yang diberkati. Uang, pakaian, kekayaan dan harta duniawi bukanlah pusat dari kehidupan pernikahan, tetapi Tuhan dan Firman-Nya yang menjamin adanya kasih karunia demi kasih karunia bagi pasangan yang saleh. Yesus mengatakan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Bahkan dalam kasus adanya impotensi atau kemandulan sekalipun pernikahan yang demikian tetap bisa berhasil. Pasangan itu bisa menerima berkat khusus dan hikmat Ilahi dalam melayani Yesus dengan berbagai cara. Mereka mungkin saja mengadopsi anak yang tidak memiliki tempat tinggal atau melakukan pekerjaan kemanusiaan bagi Tuhan. Namun, kalau pernikahan direncanakan tanpa Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus, maka perselingkuhan dan perceraian akan terjadi dan bahkan sudah dirancang sebelumnya, karena orang yang tidak percaya jarang sekali belajar untuk menyangkal diri sendiri dengan segala usaha menjadikan diri sebagai pusat semua gaya hidupnya. Barangsiapa menikah hanya untuk sementara waktu (mut’a) atau hidup bersama tanpa ikatan yang pasti atau dalam usaha coba-coba, tidak memahami rahasia psikologis dan biologis di dalam seorang laki-laki atau seorang perempuan dan dia tidak memiliki rasa takut akan Allah. Kemerdekaan tanpa ketaatan iman adalah jalan terbuka untuk masuknya anarki. Integritas adalah dasar dari semua peradaban, karena itu jangan mencobai Tuhan Allahmu, sang Pencipta. Roh Kudus tidak mengijinkan kecemaran, pelacuran, pakaian yang menggoda, lelucon kotor, makan berlebihan, kemabukan atau penyalah-gunaan obat terlarang. Semua itu adalah tanda-tanda kemerosotan yang merusak hati, meracun pikiran dan membinasakan tubuh jutaan orang. Kita hanya bisa hidup di dalam keduniawian di bawah kuasa si jahat, yang adalah penguasa dunia, atau kita hidup di dalam Kristus, satu-satunya Juruselamat yang menguatkan kita di dalam kelemahan kita. Dunia kita sudah menjadi sangat materialistik dan tidak siap untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai dari orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang sudah mewarisi ketulusan dan kesucian-Nya.


4.09.6 - Pernikahan dari Sudut Pandang Muslim

Islam menawarkan hukum khusus di dalam Shariah dan mengatakan bahwa Eropa serta Amerika hanya bisa bangkit dari kemerosotan moral mereka dengan menerima hukum Shariah.

Muhammad mengijinkan para pengikutnya untuk memiliki istri sampai empat orang. Ia bahkan mengijinkan adanya nikah mut’a yang terjadi hanya dalam waktu sementara yang disepakati, untuk pembayaran sejumlah uang (Sura al-Nisa 4:4,24). Para pengikutnya adalah para pejuang petualang dan pedagang yang berpengalaman. Mereka seringkali harus jauh dari rumah dalam waktu yang lama dan ingin memuaskan kebutuhan mereka akan keinginan seksual. Menahan diri dan menyangkal diri bukanlah sesuatu yang dianggap penting bagi kaum laki-laki di dalam Islam, dan hanya berlaku bagi perempuan. Pendiri Islam sendiri secara sah menikah dengan tiga belas istri, tidak termasuk para selir yang berlatar belakang Yahudi, Kristen atau orang-orang yang tidak beragama.

Di kebanyakan negara-negara Islam seorang laki-laki diperbolehkan untuk menceraikan isterinya tanpa alasan. Ia bisa menikah kembali dengan perempuan itu dalam waktu dua bulan tanpa membayar uang mahar kalau ia menyesali keputusan menceraikan istrinya itu. Bahkan perceraian yang kedua kali dan pernikahan kembali yang kedua kali juga sah. Tetapi kalau seorang Muslim menceraikan istrinya untuk yang ketiga kali ia tidak bisa langsung menikahinya kembali kecuali perempuan itu terlebih dahulu menikah secara sah dengan laki-laki lain. Kalau laki-laki lain itu kemudian menceraikan dia, maka perempuan itu bisa menikah kembali dengan suaminya yang semula. Apa yang ada di dalam pikiran perempuan yang demikian? Ia dianggap hanya sebagai perabot belaka yang tidak dianggap sebagai pasangan yang memiliki hati yang setara dengan suaminya di dalam penghargaan, hak atau dan kewajiban, yang memampukan pasangan itu untuk hidup di dalam kesatuan rohani dan mengatasi masalah bersama-sama.

Seorang Muslim itu seperti seorang raja di dalam keluarganya sendiri yang bisa memiliki isteri sampai empat orang. Tetapi ada syarat yaitu bahwa ia harus memperlakukan semuanya dengan adil. Kalau anak dari salah satunya mendapatkan baju baru, ia harus membelikan juga semua anak-anak dari istri yang lain dengan kualitas yang setara. Karena alasan ekonomi kebanyakan orang Muslim tidak menikah dengan lebih dari satu isteri. Namun poligami masih dipraktekkan secara sah di semua negara Islam kecuali di Turki dan Tunisia. Seorang istri yang sudah tua seringkali diusir dari rumah dan digantikan oleh yang masih cantik dan muda. Namun, ketika seorang suami memiliki dua, tiga atau empat istri, maka keluarga yang demikian akan tergoda untuk ada dalam keadaan cemburu dan iri hati. Sebagai akibat dari pengalamannya sendiri, Muhammad menjelaskan perempuan sebagai sumber dari semua masalah keluarga dan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki pikiran sehat dan tidak memahami agama dengan baik (Masud Ibn Hanbal II, 373). Ia juga kadangkala menyamakan mereka dengan keledai yang tidak kuat memikul beban keluarga, dan mengatakan bahwa sebuah bangsa yang dipimpin oleh perempuan pasti akan mengalami kemunduran.

Al-Quran dan hadits mengajarkan bahwa suami harus mendisiplin istrinya. Suami pertama-tama harus memperingatkannya (kalau ia kuatir istrinya memberontak), kemudian ia akan menjauh dan tidak tidur bersama istrinya dan akhirnya ia boleh memukul istrinya sampai istrinya tunduk kepadanya (Sura al-Nisa 4:34).

Seorang saksi perempuan di depan pengadilan dianggap memiliki nilai setengah dari kesaksian seorang suami. Inilah sebabnya perkataan seorang laki-laki dianggap sama dengan kesaksian dua orang perempuan. Istri juga hanya mendapatkan seperdelaoan dari warisan yang ditinggalkan oleh suaminya kalau mereka memiliki anak laki-laki. Anak laki-laki itu, bahkan kalaupun ia masih bayi, akan mendapatkan seperempat warisan. Nilainya sebagai anak laki-laki adalah dua kali nilai ibunya. Tentu saja, saudara dari suaminya juga mendapatkan hak terlebih dahulu melebihi sang istri ketika pembagian warisan (Sura al-Nisa 4:7-11).

Anak-anak hanya menjadi milik suami saja. Istri yang diceraikan mungkin medapatkan hak untuk memelihara anak-anaknya sampai mereka menjadi dewasa. Seorang istri biasanya tidak hidup hanya bersama dengan suaminya saja, tetapi bersama-sama dengan seluruh anggota keluarganya yang lain dimana ibu mertua menjadi pengambil keputusan. Prinsip yang paling utaa di dalam pernikahan Islam bukanlah kesatuan antara suami dengan istri, tetapi hanya merupakan jaminan keberlangsungan hidup sebuah suku. Istri bukan apa-apa dan hanya sekedar hamba dari suaminya dengan tingkatan yang lebih tinggi dibanding hamba biasa. Tugasnya adalah melahirkan banyak anak laki-laki bagi sukunya. Pengaruhnya akan bertambah besar kalau ia melahirkan banyak anak laki-laki. Tetapi kalau ia hanya melahirkan anak-anak perempuan, mereka akan mengatakan, “Oh tidak! Memalukan sekali!”

Kalau seorang perempuan baik yang sudah menikah maupun yang belum tertangkap melakukan perzinahan, Muhammad memerintahkan agar ia dicambuk 100 kali dengan cemeti (Sura al-Nur 24:3) atau dirajam sampai mati. Suatu saat mereka membawa kepada Muhammad seorang perempuan yang hamil karena orang asing. Muhammad mengusir perempuan itu dan memanggilnya kembali setelah ia melahirkan anaknya. Lalu ia memerintahkan agar anaknya diambil daripadanya sedangkan perempuan itu sendiri langsung dirajam di dekat rumahnya. Betapa besarnya perbedaan antara Muhammad dengan Yesus, yang, karena kasih pengorbanan-Nya, menanggung dosa para pezinah ke atas diri-Nya dan mati menggantikan mereka. Islam tidak mengakui adanya pengantara dalam penghakiman Allah. Itu sebabnya orang-orang Muslim tidak bisa mengampuni orang atas kesalahannya dan harus memberikan balsan yang setimpal.

Karena perjinahan yang terbuka itu berbahaya di dalam Islam, maka hal itu jarang terjadi. Namun hukum Islam mengijinkan laki-laki untuk melakukan semacam bentuk perjinahan yang sah. Seorang Muslim selalu bisa mengusir istrinya dan menikahi perempuan yang lebih muda. Meskipun beberapa negara Islam melarang untuk memiliki beberapa istri sekaligus, tetapi rog Islam masih tetap ada di dalam diri laki-laki dan perempuan itu.

Harga diri perempuan yang rendah di dalam Islam terus berlanjut bahkan setelah sampai di surga. Muhammad mengatakan, “Penghuni surga yang paling rendah adalah kaum perempuan.” Namun kaum laki-laki akan ada di sana menantikn berbagai kesenangan, dengan puluhan gadis-gadis yang tetap perawan meski sudah tidur berkali-kali dengan kaum pria di keremangan suasana di sana. Juga banyak pembantu berupa anak-anak remaja di sana yang siap untuk melayani orang-orang Muslim di surga. Berkenaan dengan masa depan kaum perempuan Muhammad mengatakan, “Ketika ditunjukkan neraka kepadaku, aku melihat bahwa 90 persen dari penghuni yang terbakar dis ana adalah kaum perempuan.”

Surga milik Yesus Kristus sangat bertentangan dengan hal itu. Di surga itu, para pengikut-Nya akan dipermuliakan, seperti para malaikat Allah yang tidak akan kawin atau dikawinkan. Kerajaan Allah bukanlah mengenai makanan atau minuman atau perkawinan, tetapi mengenai kasih, sukacita, dan damai sejahtera rohani di dalam kuasa Roh Kudus. Surga yang sejati bukan dari dunia ini. Dibandingkan dengan pernyataan Yesus, bisakah orang masih menganggap Al-Quran sebagai sumber dari pernyataan Ilahi? Di dalamnya hanya berisi memegahkan kebiasaan dan dominiask kaun laki-laki dan jauh di bawah standar pernyataan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.


4.09.7 - Panggilan kepada Pertobatan

Orang-orang Kristen tidak boleh merendahkan orang-orang Muslim. Ada juga kebebasan yang tidak Alkitabiah yang diterapkan di banyak negara Barat di jaman ini, dan angka perceraian di Amerika Serikat dan Eropa juga sangat fenomenal. Ini meruntuhkan naungan hidup bagi banyak anak-anak, yang lari dari keluarga mereka yang berantakan. Kita menjadi malu dengan cara pendidikan sex yang dilakukan di sekolah-sekolah. Betapa menjijikan gambar-gambar yang muncul di koran-koran, majalah-majalah mingguan, video dan televisi. Namun hanya sedikit saja orang tua yang memprotes akan hal itu.

Percabulan muncul dari tidak adanya takut akan Allah. Para fotografer di Eropa sudah membangun jalan untuk segala jenis kecemaran yang bisa terjadi. Kejatuhan dari persekutuan dengan Allah sudah menciptakan kekacauan seksual. Pil pengendalian kelahiran membuat manusia bebas melampiaskan hawa nafsu yang tak terbatas. Namun, pemakaian kondom juga tidak menghentikan penyebaran AIDS. Ini adalah hukuman yang keras bagi barangsiapa yang tidak setia kepada isterinya, kepada kaum homoseks, lesbian, pelacur dan pemakai obat terlarang. Di dalam Roma 12:4 Paulus mengatakan, “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.” Penghakiman Allah tidak membuat pembedaan antara orang-orang Muslim, orang-orang Yahudi atau orang-orang Kristen dari segi namanya. Mengabaikan titah, “Jangan berzinah” berarti bahwa jutaan orang membahayakan diri mereka sendiri dengan dosa seksual. Makna “upah dosa adalah maut” menjadi lebih jelas lagi di masa sekarang ini.

Sayangnya orang-orang yang tidak bersalah juga bisa tertular AIDS melalui transfusi darah. Inilah sebabnya menjadi tidak adil untuk menghakimi seseorang yang tertular penyakit itu. Allah saja yang tahu masa lalu dari kita masing-masing. Kita tidak lebih baik dibandingkan dengan orang yang tertangkap melakukan perzinahan. Yesus tahu apa yang mungkin ada di dalam hati kita ketika Ia mengatakan, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabula...” (Matius 15:19). Kita tidak perlu tahu apa cara yang lebih baik untuk melindungi terhadap AIDS, tetapi semua orang perlu memiliki hati yang murni, roh yang suci dan pikiran yang dibaharui. Daud, yang pernah melakukan dosa perjinahan dan pembunuhan ketika ia takluk kepada hawa nafsu, bisa mengajarkan doa ini kepada kita, “Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku” (Mazmur 51:10,11).

Menaikkan kata-kata doa itu dengan tulus dan mengakui dosa-dosa kita kepada Yesus memberikan kepada kita jaminan akan jawaban Ilahi itu, “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” (Matius 9:2, lihat juga Lukas 7:48). Tuhan yang kudus itu memberikan kepada kita kuasa Roh-Nya untuk menjalani kehidupan yang bersih dan pengampunan bagi dosa-dosa kita. Yesus tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian menghadapi cobaan, tetapi Ia siap menguatkan kita untuk mengalahkan semua itu di dalam nama-Nya.

www.Grace-and-Truth.net

Page last modified on September 06, 2013, at 11:33 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.50)