Home
Links
Contact
About us
Impressum
Site Map?


Afrikaans?
عربي
Bahasa Indones.
Deutsch
English
Français
Hausa/هَوُسَا
עברית
O‘zbek
Peul?
Português
Русский
தமிழ்
Türkçe
Yorùbá
中文



Home (Old)
Content (Old)


Indonesian (Old)
English (Old)
German (Old)
Russian (Old)

Home -- Indonesian -- 09. Comparisons -- 4.11 Ninth Commandment: Do Not Bear False Witness Against Your Neigbor
This page in: -- Afrikaans -- Arabic? -- Armenian? -- Azeri? -- Bulgarian? -- Cebuano? -- Chinese? -- English -- Farsi? -- French -- German -- Gujarati? -- Hebrew -- INDONESIAN -- Norwegian? -- Polish? -- Russian -- Serbian? -- Spanish? -- Tamil -- Turkish? -- Uzbek -- Yiddish? -- Yoruba?

Previous part -- Next part

09. PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KEKRISTENAN
Perbandingan 4 - DASA TITAH

4.11 - TITAH KESEMBILAN: JANGAN MENGUCAPKAN SAKSI DUSTA TENTANG SESAMAMU



"Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu." (Keluaran 20:16)


4.11.1 - Kekuatan Lidah

Lidah adalah anggota tubuh yang kecil tetapi memiliki kekuatan yang luar biasa. Kadangkala ia lebih kuat dibandingkan uang atau obat yang mahal. Kata-kata dari lidah kita bisa seperti api dinyalakan untuk membakar hutan yang kering. Tetapi kata-kata yang berguna itu seperti kemudi yang kecil di sebuah kapal yang mengarahkannya ke pelabuhan yang aman. Dengan lidah manusia bisa berdusta dan menghujat Allah atau mengatakan kebenaran, memuji Allah dan menghiburkan orang-orang yang sedang lemah. Mengapa? Di dalam pasal ketiga dari suratnya, rasul Yakobus memberikan tiga contoh yang sangat berguna yang membawa kita kepada pertobatan. Kita harus menguji kata-kata dari lidah kita dengan dasar Firman Allah, karena setiap perkataan yang jahat menunjuk kepada kejahatan hati yang belum dilahirkan kembali. Tetapi semua perkataan yang lembut menyatakan Roh Yesus di dalam hati orang itu.


4.11.2 - Perlunya Pembenaran bagi Kita

Kita perlu Yesus untuk membasuhkan lidah kita dan memperbaharui pikiran kita sehingga kita bisa memahami dan mengatakan kebenaran-Nya. Nabi-imam Yesaya yang penuh dengan rasa hormat gemetar ketika ia berdiri di hadapan Allah yang kudus untuk mendamaikan umat-Nya dengan Tuhan Tritunggal Penguasa Alam Semesta. Ia sangat terpesona ketika ia melihat ujung jubah-Nya dan kemudian berseru, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam." Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni” (Yesaya 6:5-7).

Manusia mengenali kejahatan dan tipu daya di dalam hatinya sendiri ketika ia bertemu dengan Allah yang mahakudus. Pada saat itu juga ia memahami bahwa Yang Mahakuasa adalah standar kita yang tertinggi. Di dalam terang-Nya kita melihat kecemaran, tipu daya dan kejahatan yang memenuhi kita. Manusia hidup di dalam kepura-puraan tanpa pertemuan dengan Allah yang kudus dan hidup. Keadaan ini tidak berubah kecuali ketika orang-orang berdosa datang mendekat kepada Tuhan, dan kemudian setelah itu, semuanya berubah. Rasul Petrus tersungkur dan bersujud ketika ia merasakan kuasa Tuhan dan kemudian berseru, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” (Lukas 5:8). Ia tahu bahwa Yesus yang lemah lembut memandang ke dalam hatinya dan menyingkapkan keberdosaaannya. Meskipun Tuhan kita mengetahui sebelumnya bahwa Petrus akan menyangkali Dia tetapi setelah itu Petrus juga akan menjadi gambaran untuk semua penjala manusia.

Yesus adalah kebenaran yang berinkarnasi dan Roh-Nya adalah sungguh-sungguh Roh kebenaran (Yohanes 14:17). Roh Kebenaran sangat didukakan setiap kali kita berdusta dan menggosip. Allah tidak memfitnah atau berkhianat; Ia murni dan firman-Nya benar dan akan digenapi. Ia mau memperbaharui kita dan memperlengkapi kita dengan kejujuran. Ia mendorong kita untuk menyampaikan kebenaran di dalam kasih. Menyatakan kebenaran dengan sikap yang dingin dan menakutkan kepada orang lain adalah seperti membunuh dia. Tetapi kalau anda menjilat orang itu dan menyembunyikan kebenaran, maka anda sedang berdusta, tidak perduli berapapun banyaknya kasih anda. Pujian palsu dan fitnah biasanya berjalan bersamaan. Jadi, kasih tanpa kebenaran itu dusta, dan kebenaran tanpa kasih itu mematikan.


4.11.3 - Dusta dan Sumbernya

Allah Tritunggal adalah kebenaran dari dalam diri-Nya sendiri. Tetapi Iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta. Ia adalah pembunuh sejak mulanya. Yesus menyebutnya si jahat dan penguasa dunia ini. Semua yang berasal darinya adalah dusta, tidak peduli bagaimanapun kelihatannya hal itu seperti sebuah kebenaran.

Si Jahat itu mendustai Hawa. Pertanyaannya yang licik menyimpangkan kebenaran dan dengan itu membuat Allah diragukan. Ia menggoyang kepercayaan Hawa kepada Allah. Kemudian kesombongan, nafsu dan pemberontakan Hawa terhadap Allah mulai muncul dan berkembang menjadi pemberontakan terbuka.

Tepat setelah pembaptisan-Nya, Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai oleh si jahat. Setelah Yesus berpuasa dan berdoa selama 40 hari dan 40 malam, Ia melawan sangt penggoda yang datang kepada-Nya dengan menyimpangkan kebenaran melalui beberapa pertanyaan. Iblis mengatakan kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah...” Kalau Iblis mengatakan, “Engkau Anak Allah,” maka ia menegaskan kebenaran Alkitab. Tetapi ia menjadikan sesuatu yang nyata itu sebagai sesuatu yang dipertanyakan, engan berusaha menanamkan keraguan di dalam hati Yesus mengenai keberadaan-Nya sebagai Anak Bapa Surgawi-Nya. Si Jahat ingin agar Dia menjauhkan diri dari Bapa-Nya dan menyesatkan Yesus agar Ia memenuhi keinginan-Nya sendiri saja. Yesus tidak melawan dengan perkataan-Nya sendiri. Ia juga tidak berdiskusi dengan Si Jahat itu dan tidak menyampaikan kekayaan pengalamannya sendiri. Namun, Ia menjawab, “Ada tertulis!” Yesus meneguhkan Firman Allah yang sudah dinyatakan, dan yang bertentangan dengan tipu daya si jahat itu. Tidak ada cara lain untuk mengalahkan bapa segaka pendusta itu selain dengan besandar kepada Firman Allah, Alkitab.

Sangat ironis bahwa Iblis mengenal Alkitab dan memakainya dengan licik. Ia menanggapi penolakan Yesus dan langsung mengangkat sebuah teks dari Alkitab. Namun ia mengambilnya lepas dari konteksnya dan berusaha untuk memancing Yesus untuk menjadi sombong dan membawa Yesus kepada ujian kesetiaan kepada Bapa-Nya. Sekali lagi Yesus menjawab, “Ada tertulis, janganlah kamu mencobai Tuhan Allahmu” dan saat itulah maksud tipu daya Si Jahat itu dengan jelas dibongkar dan diungkapkan di dalam terang kebenaran Ilahi. Dari peperangan besar antara Anak Allah dengan Iblis ini sangat nyata bahwa Iblis hanya mengucapkan dusta, bahkan kalaupun nampaknya mengandung kebenaran di dalamnya. Namun perkataannya mengembangkan tipu daya dan pemberontakan kepada Allah dan Anak-Nya. Ujilah semua filsafat dan agama yang datang setelah Kristus, dan anda akan melihat betapa banyak tipu daya di dalamnya meski nampaknya ada bagian kebenaran yang terkandung di sana. Hari ini si jahat melakukan hal yang sama: ia mendustai orang-orang percaya dan para pencari kebenaran agar mereka percaya bahwa Alkitab itu sudah dipalsukan, ditambah-tambahi, ditulis oleh tangan manusia dan ribuan argumentasi lainnya. Jangan biarkan Iblis membisikkan dusta yang demikian di dalam hati anda, lawan dia sebagaimana yang dilakukan Yesus ketika Ia mengatakan, “Ada tertulis.....”


4.11.4 - Dusta Terbesar

Perbedaan pandangan dan ideologi dunia tidak semuanya berupa dusta tetapi juga ada beberapa hal yang nampak menarik dan menyenangkan yang berisi bagian-bagian kebenaran dan hukum-hukum yang kelihatannya sangat penting bagi struktur sosial. Namun arah dari pandangan dunia itu sebenarnya salah. Ironisnya, bagian-bagian kebenaran itu dipakai untuk mendukung dusta-dusta yang besar. Islam bagi orang-orang yang tidak paham mungkin nampak seperti “agama Allah” yang wajar saja, karena bagian-bagian ayat Alkitab yang disampaikans ecara lisan dan disalah-artikan itu memang dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Namun semua orang Muslim dengan tegas menolak penyaliban Anak Allah. Mereka tidak memahami bahwa mereka terhilang dan mereka tidak bisa diselamatkan dari penghakiman Allah kecuali oleh Yesus Kristus dan melalui penyaliban-Nya. Juga, komunisme dan ideologi-ideologi lain mencampur-adukan dusta-dusta dengan beberapa kebenaran yang diselewengkan yang akhirnya membawa kepada atheisme yang sangat merusak.

Beberapa teolog liberal atau sekte sesat mengambil ayat-ayat Alkitab keluar dari konteksnya sehingga orang mungkin bisa percaya kepada buku-buku dan ide-ide mereka, dan bukannya mengakui bahwa Yesus adalah sumber dari segala pemikiran dan kehidupan. Tidak seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia. Namun Yesus harus disalibkan dan bangkit dari kematian untuk menggenapi janji-Nya sebagai kebenaran kekal. Kita semua akan menghadap Yang Mahamulia itu sebagai pendusta, tetapi barangsiapa percaya kepada-Nya akan diubahkan dan hidup dengan jujur, benar, dan akan lepas dari belantara tipu daya.

Kita tidak bisa menghentikan aliran yang deras dari kebohongan yang besar, atau kecil, yang canggih atau yang primitif yang muncul di radio, televisi, majalah, perayaan-perayaan dan karnaval. Tipu daya itu dimaksud untuk memanipulasi orang banyak, dan reaksi mereka memang sudah diperhitungkan sebelumnya. Di dalam politik kebanyakan pembicaranya melakukan pemfitnahan terhadap partai lawannya dan mempromosikan partainya sendiri sebagai satu-satunya kebenaran dan satu-satunya jalan keluar. Hasil-hasil yang kecil akan dibesar-besarkan dan kesalahan besar akan ditutup-tutupi. Kebenaran yang diputrar-balikkan dipakai untuk mengejutkan lawan dan memanipulasi berita menciptakan kebencian.


4.11.5 - Dusta-Dusta Harian

Dusta bukan hanya mendominasi perkataan para politikus tetapi juga kehidupan sehari-hari kita. Kebenaran dengan cepat ditenggelamkan, dan orang bisa memfitnah sesamanya hanya karena secangkir kopi. Tetapi sekali orang yang difitnah datang orang dengan senyum akan mengalihkan pembicaraan dengan penuh kemunafikan yang sudah menjadi ciri khas bagi kita sejak masa kanak-kanak kita. Kita mungkin tidak mengatakan dusta-dusta bsar yang menyakitkan, tetapi kita merendahkan seseorang atau menghina dia, inspirasi untuk semua itu bersumber dari “bapa segala pendusta.” Kita harus sungguh-sungguh terbuka dan senantiasa berbicara tentang orang yang tidak ada seolah-olah dia ada di sana. Tidak ada dusta putih! Tidak ada setengah kebenaran! Semuanya sama-sama mematikan. Kita bisa mengakhiri lingkaran gosip dengan langsung mendatangi orangnya dan mendapatkan ceritanya secara lengkap untuk klarifikasi. Kita perlu menolong orang itu dan bukannya menyebarkan beritanya kepada orang banyak. Perintah yang kesembilan mengajarkan kepada kita untuk menjadi seperti ikan yang berenang melawan arus deras dusta. Kaangkala kita mendapati diri kita ada dalam situasi kritis, dimana kita harus memberikan komentar tentang sesuatu yang kurang disukai. Tetapi kita tidak mau “kehilangan muka”, dan kita tidak suka juga membicarakan sahabat atau kerabat yang tidak ada di sana. Dalam keadaan demikian, kita sering memilih untuk mengatakan setengah kebenaran dan menutupinya dengan banyak kata-kata kosong dan penjelasan yang bisa menipu. Beberapa orang lebih cepat dalam mencari alasan dibandingkan seekor tikus mencari lubangnya.

Dusta sudah meracuni masyarakat kita. Tidak ada yang bisa mempercayai orang lain! Banyak yang cenderung berpikir bahwa orang yang mereka ajak bicara bermaksud sebaliknya dari apa yang mereka katakan. Kesalahpahaman sudah memecah-belah manusia dan membuat mereka terisolir, seperti ada dinding kaca tebal membatasi mereka. Dusta mengisolasi manusia! Sakit hati berkembang dan hal itu dimulai dalam masa-masa menyendiri itu. Kita perlu meminta kekuatan dari Yesus dan dengan berani mengakui dusta-dusta dan fitnah yang kita lakukan. Kita perlu secara terbuka meminta pengampunan kepada mereka. Kemudian kepercayaan akan mulai dibangun dan sikap kesombongan mulai diruntuhkan.


4.11.6 - Siapa yang Bisa Memahami Saudaranya?

Sangat layak untuk menguji diri kita sendiri apakah kita sungguh-sungguh memahami saudara atau saudari kita sebagaiman Allah menghargai mereka. Yesus menembus penghakiman kita yang dangkal dan memperingatkan kita, “"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Matius 7:1-5).

Barangsiapa memahami bagian dari perintah ini dari Khotbah di Bukit ini akan berdiam diri dan dengan kritis menguji diri sendiri terlebih dahulu sebelum ia menghakimi orang-orang lain. Mungkin saudara kita bisa saja sudah membuat kesalahan sekecil selumbar di mata tetapi kita sendiri tidak mau mengakui bahwa ada banyak balok di mata kita sendiri yang kalau dikumpulkan cukup untuk membuka pabrik penggergajian kayu! Yesus mungkin menunjukkan kepada kita kebencian, pemikiran dan tindakah jahat, iri hati, ketamakan, tipu daya, kemunafikan, tidak menghormati orang tua dan hari Tuhan! Barangsiapa menyangkal diri di bawah keyakinan dari Roh Kudus, tidak akan lagi menolak dan merendahkan orang lain karena kesombongan atau merasa hebat, dan kemudian mulai berpikir bagaimana bisa secara tepat menolong mereka sebagaimana Allah sudah menolong kita.

Kita tidak bisa menghakimi orang-orang lain karena kita tidak sungguh-sungguh bisa memahami keadaan lahir dan batin dari masalah seseorang. Apa yang akan kita lakukan kalau kita ada dalam masalah yang demikian? Apa yang akan dilakukannya kalau ia sudah mengalami berkat dan jalan-jalan tuntunan Ilahi sebagaimana yang kita miliki? Dengan mengatakan, “Kasihilah sesamamu manusia sebagaimana engkau mengasihi dirimu sendiri” Allah menunjukkan kepada kita betapa pentingnya memberikan perhatian khusus dalam kaitannya dengan menghakimi sesama kita. Lebih baik, kita mengasihi dia.

Ini membawa kita kepada masalah bersumpah sebagai saksi: Siapa yang bisa memastikan apakah ia sungguh-sungguh melihat sesuatu sebagaimana yang sebenarnya terjadi dan mengertinya dengan tepat? Tentu saja kita tidak bisa melihat sesuatu dengan lengkap sebagaimana Allah melihatnya. Kalau kita menghakimi saudara kita maka penghakiman yang kita lakukan tetaplah tidak sempurna. Kalau kita memahami hal ini kita tidak akan langsung menyimpulkan keadaan orang-orang lain tetapi berpikir dengan seksama dan penuh doa dalam usaha untuk memahami mereka. Oh, kiranya Allah memberikan kepada kita mata seorang ibu, dan bukan mata seorang polisi!


4.11.7 - Bagaimana Seharusnya Kita Menyampaikan Kebenaran?

Dengan kemampuan kita yang terbatas, apa yang bisa kita lakukan untuk memahami kebenaran? Apakah kita menganggap kebohongan sebagai sesuatu yang perlu dilakukan dan kebenaran sebagai suatu kejahatan? Tidak, tidak boleh demikian! Sebagai saksi mata, kita harus mengatakan kebenaran di dalam kemampuan kita. Kita harus meminta hikmat kepada Allah sehingga kita tidak menjadi tidak adil kepada saudara atau saudari kita. Orang-orang percaya memerlukan anugerah khusus pada masa pengadilan sehingga mereka bisa menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar tanpa menyimpangkan fakta-fakta. Kita perlu tuntunan Roh Kudus sehingga kita tidak membahayakn kehidupan orang-orang percaya lainnya. Kita harus mengatakan kebenaran tetapi tidak selalu perlu untuk menyatakan seluruh kebenaran demi kepentingan orang-orang lain. Mereka yang tidak mengikut Yesus mungkin berpikir bahwa kita berdusta kepada mereka karena mereka tidak mengenal roh kebenaran. Mereka tidak bisa membayangkan bahwa Roh Kudus senantiasa membawa kita untuk mengatakan kebenaran.

Alkitab menolong kita untuk senantiasa melatih di dalam kehidupan kita, di sekolah, di masyarakat, di keluarga kita, untuk menunjukkan hal-hal yang baik dari kehidupan saudara dan saudari kita dan bukannya selalu mengkritik atas kesalahan. Kita harus berpikiran positif tentang sahabat-sahabat dan juga musuh-musuh kita, tanpa berdusta. Paulus menjelaskan kepada jemaat di Korintus, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap” (1 Korintus 13:4-8).

Kalau kita hidup di dalam roh kasih kita tidak akan pernah menghakimi orang-orang berdosa. Justru, kita akan melakukan yang terbaik untuk memahami, menolong, atau meluruskan orang itu di dalam roh kerendahan hati dan kasih. Paulus menulis kepada orang-orang percaya di Efesus yang sudah mencapai tingkat kedewasaan dalam melakukan pelayanan Kristen, “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota” (Efesus 4:25). Kita senantiasa berusaha untuk belajar dan mengatakan kebenaran. Tetapi tidak perduli bagaimanapun kedewasaan kita di dalam Roh Kudus, Iblis selalu mencobai orang-orang percaya untuk berdusta, menghakimi orang lain dengan kasar, dan membenci orang-orang yang memiliki pandangan berbeda. Ibilah sebabnya Paulus menuliskan di dalam surat Efesus, “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:10-12).

Yohanes, sang rasul kasih, dengan jelas menunjukkan kepada kita akar dari dusta di dalam kehidupan manusia, “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak” (1 Yohanes 2:22-23). “Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya” (1 Yohanes 5:10). Memelihara kebenaran tentang Allah Tritunggal sebagai pusat kehidupan anda berarti bahwa anda akan ada dalam kebenaran di kehidupan praktis anda.


4.11.8 - Tipu daya dari Allah di dalam Al-Quran

Islam secara khusus menganggap kebenaran sebagai sebuah roh asing. Di dalam surat Al Imran kita membaca, “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” Di sini, orang-orang kafir itu merujuk kepada orang-orang Yahudi yang bersekongkol membunuh Yesus. Tetapi Allah, menurut pandangan Islam, memperdaya mereka, menyelamatkan Yesus dari siksa kayu salib dan mengangkatnya hidup-hidup. Ini berarti bahwa Allah tidak membiarkan Yesus disalibkan tetapi mengangkat Dia kepada diri-Nya dengan tipu-daya-Nya yang hebat. Hal itu tidak lebih hanyalah sekedar menyimpangkan sebuah kejadian sejarah yang terjadi di dalam kerangka tempat dan waktu. Allah Islam harus menyatakan hakekat dirinya di hadapan kayu salib, dan harus menunjukkan bahwa ia tidak memiliki kebenaran di dalam pribadinya, bahwa ia bukanlah Allah yang sebenarnya, tetapi musuh kebenaran, pelaku tipu daya yang paling hebat. Kayu salib, yang adalah klimaks dari segala kebenaran, menyatakan keberadaan dari Allah Islam yang sebenarnya. Hanya si jahat yang mau menyangkali kenyataan kayu salib sehingga manusia tidak akan diselamatkan dan menerima kehidupan kekal.

Islam menyatakan bahwa Allah di dalam Quran sebagai "sebaik-baik pelaku tipu daya,” khairul makirin. Tidak heran bahwa para pengikutnya melihat tipu daya sebagai sebuah kebajikan dan cara yang sah untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan dan menjadi cara yang berguna untuk menyebarkan agama Islam. Muhammad sudah mengijinkan dusta dan tipu daya dalam empat kasus: dalam perang suci untuk menyebarkan Islam, dalam memperdamaikan dua seteru, dari seorang suami kepada istrinya, dan seorang isteri kepada suaminya. Di dalam Islam anda tidak bisa percaya kepada sahabat ataupun musuh anda. Semua orang saling tidak percaya karena tidak ada saling percaya di antara orang-orang Muslim.


4.11.9 - Dusta Kehidupan atau Kebenaran Allah

Kalau anda tidak menerima Dia yang disalibkan dan bangkit dari kematian, roh kebenaran tidak akan ada di dalam kehidupan anda. Keseluruhan hidup anda akan menjadi sebuah dusta dan penolakan diri karena anda menolak penyaliban Kristus. Yesus mencurahkan darah-Nya di kayu salib menjadi pendamaian sebagai Imam Besar bagi dosa-dosa orang berdosa dan pendusta yang bertobat. Setelah bangkit dari kematian Ia mencurahkan Roh kebenaran-Nya kepada mereka yang menantikan di dalam doa akan janji Bapa-Nya. Roh Kudus menyatakan diri kepada mereka seperti lidah api. Ini menjelaskan apa yang dikehendaki oleh Yesus di dalam diri para murid-Nya: lidah dusta milik mereka akan dibakar dan mereka akan mendapatkan lidah baru, lidah rohani, yang bisa mengatakan kebenaran yang kekal. Apakah kebenaran kekal itu? Allah adalah Bapa kita, Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita, dan Roh Kudus berdiam di dalam kehidupan kita. Allah Tritunggal adalah kebenaran kekal, yang disaksikan oleh roh kebenaran melalui para pengikut Kristus. Adalah hak istimewa bagi kita untuk mengatakan kebenaran-Nya di dalam kasih, memberitakan karya penebusan Kristus di kayu salib kepada semua orang.

Betapa indahnya memiliki sahabat doa yang akan menyatakan kebenaran di dalam kasih kepada anda! Ia lebihbaik dibandingkan seribu orang yang selalu memuji anda. Karena itu, kita perlu meminta Yesus untuk menolong kita mengatakan kebenaran di dalam kasih dan berdoa untuk sahabat-sahabat kita. Inilah yang diperintahkan Yesus kepada kita, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Matius 5:37). Kita perlu meminta agar Yesus menjadikan kita benar di dalam Dia dan menuntun kita untuk mengatakan kebenaran-Nya di dalam kasih.

www.Grace-and-Truth.net

Page last modified on September 06, 2013, at 11:26 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.50)