Home
Links
Contact
About us
Impressum
Site Map?


Afrikaans?
عربي
Bahasa Indones.
Deutsch
English
Français
Hausa/هَوُسَا
עברית
O‘zbek
Peul?
Português
Русский
தமிழ்
Türkçe
Yorùbá
中文



Home (Old)
Content (Old)


Indonesian (Old)
English (Old)
German (Old)
Russian (Old)

Home -- Indonesian -- 09. Comparisons -- 4.12 Tenth Commandment: Do Not Covet Your Neigbor's House
This page in: -- Afrikaans -- Arabic? -- Armenian? -- Azeri? -- Bulgarian? -- Cebuano? -- Chinese? -- English -- Farsi? -- French -- German -- Gujarati? -- Hebrew -- INDONESIAN -- Norwegian? -- Polish? -- Russian -- Serbian? -- Spanish? -- Tamil -- Turkish? -- Uzbek -- Yiddish? -- Yoruba?

Previous part -- Next part

09. PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KEKRISTENAN
Perbandingan 4 - DASA TITAH

4.12 - TITAH KESEPULUH: JANGAN MENGINGINI RUMAH SESAMAMU



Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu. (Keluaran 20:17)


4.12.1 - Godaan-Godaan Masa Kini

Barangsiapa menyaksikan televisi bisa jatuh ke dalam cobaan iklan yang menarik. Mungkin anda terdorong untuk bergegas membeli barang-barang termewah, menandatangani kontrak dengan perusahaan asuransi, membeli parfum yang harum, pakaian dan mobil sport. Daftarnya terus bertambah panjang, dan anda tidak akan pernah mendengar iklan-iklan itu menyampaikan pernyataan Yesus yang sangat sederhana, “Sangkali diri! Cukupkan diri dengan apa yang ada padamu!’ Mereka selalu memberikan berita ini, “Inginkan segala sesuatu dan beli apapun yang belum anda miliki.”

Sebuah suratkabar memperlihatkan gambar seorang anak laki-laki yang tertimbun sampai telinganya dalam tumpukan mainan, boneka beruang, boneka binatang, mobil-mobilan dan permainan lainnya. Anak kecil itu mendapatkan semua yang diinginannya. Tidak ada yang dinginkannya yang tidak diberikan kepadanya. Anak yang malang! Masyarakat memanjakan dan memberikan semua kepadanya sampai ia sendiri menjadi frustasi dan tenggelam di dalam dunia kanak-kanaknya.

Dalam masyarakat industri orang dipenhgaruhi oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan titah kesepuluh. Sebagai contoh, seorang suami dan isterinya mungkin sudah bekerja selama bertahun-tahun untuk mendapatkan rumah idaman mereka. Mereka bekerja sampai berlebihan, dan kalau sang ibu juga mendapat pekerjaan, ia mungkin akan mengabaikan anak-anaknya dan bekerja habis-habisan. Mereka minum banyak kopi dan memakan banyak obat penambah stamina dengan harapan untuk membuat mereka kuat bekerja. Hasil akhirnya adalah kekosongan batin, dan tumpukan hutang pertengkaran keluarga. Mengapa? Karena keluarga itu memakai lebih banyak uang dalam hal-hal yang tidak mereka butuhkan dan hidup melebihi rata-rata pendapatan mereka.


4.12.2 - Apakah Harta Milik Diperbolehkan?

Yesus mengatakan, “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Markus 8:35). Di masa perang satu bom sudah cukup untuk menghancurkan gedung delapan lantai dalam sedetik saja, dan akhirnya semuanya hancur menjadi debu. Jutaan pengungsi kehilangan segala sesuatu yang mereka miliki. Dalam negara komunis, semua orang yang masih memiliki rumah atau harta harus membayar pajak yang seringkali melebihi jumlah uang sewa untuk flat yang memadai, sampai akhirnya ia juga secara keuangan lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki apa-apa. Allah mau membawa kita mendekat kepada-Nya dan memampukan kita untuk melihat materi dari sudut pandang-Nya. Kebenaran rohani jauh lebih berharga dibandingkan dengan kepemilikan materi.

Mereka yang sedang berbagi warisan harus memiliki prinsip ini di dalam diri mereka, karena apa gunanya menumbuhkan kebencian di antara anggota keluarga hanya karena uang dan harta? Yesus mengatakan, “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu” (Matius 5:40). Paulus meyakinkan kita bahwa lebih berkat memberi daripada menerima! Ini seharusnya terus menjadi prinsip yang menuntun kita dalam mengikut Yesus. Sangat keliru untuk merampas harta milik orang-orang lain. Barangsiapa memalsukan dokumen untuk mengambil keuntungan dari ketidaktahuan orang lain layak menerima murka Allah, karena Allah adalah pelindung anak-anak yatim-piatu dan yang tak berbapa.


4.12.3 - Mendustai Sesama

Titah kesepuluh tidak hanya terbatas kepada mendapatkan harta milik tetapi juga melarang menghasut rekan sekerja, pelayan atau sahabat. Hanya karena para pekerja tidak puas terhadap boss mereka atau mendapatkan kesulitan dalam pekerjaan mereka tidak berarti kita berhak untuk mendorong mereka memutuskan hubungan kerja. Justru, kita harus menantang mereka untuk tetap tinggal dimana mereka berada, tidak peduli berapa banyak keuntungan yang kita atau mereka dapatkan dengan berubah tempat kerja. Kita juga harus mentaati titah kesepuluh di dalam gereja, masyarakat, sekolah dan yayasan kita, karena menghasut saudara-saudara atau rekan sekerja tidak akan mendatangkan berkat apapun.

Kemungkinan akan memnculkan akibat yang serius kalau seseorang mau ikut campur di dalam masalah keluarga dan menggoda sang suami atau isteri untuk meninggalkan kesatuan keluarga yang sudah diberkati oleh Allah. Keinginan besar untuk berubah, atau kesalahpahaman yang mendalam atau bahkan pertengkaran yang tajam tidak pernah bisa menjadi pembenaran untuk langkah yang menyakitkan demikian. Yesus sendiri mengatakan, “Apa yang dipersatukan oleh Allah, tidak boleh dipisahkan oleh manusia.” Kalau seseorang berusaha untuk merusak rumah tangga atau terlibat dalam hubungan seksual di luar pernikahan, ia perlu langsung bertobat, mengubah sikapnya dan siap untuk memikul tanggungjawab keluarganya. Kemudian hidupnya akan menjadi berarti, dan ia akan belajar untuk menolak dan membenci segala bentuk dosa. Ia tidak akan memikirkan ide jahat untuk berganti pasangan untuk satu malam, melepaskan diri dari pernikahan atau mencova pasangan lainnya. Namun, dengan kuasa Roh Kudus ia akan hidup menahan diri dengan tukus akan segala jenis dosa, karena anda tidak akan bisa melakukan apapun tanpa pertologan Roh Kudus.


4.12.4 - Apa Penyebab Hawa Nafsu Kita?

Dasa titah berbicara mengenai orang-orang tertentu atau barang-barang tertentu yang kita inginkan. Hari ini kita bisa menambahkan kepada daftar itu: mobil, alat musik, mesin cuci, lemari es, dan pakaian mewah. Meningkatnya standa kehidupan sebenarnya merusak dan memiskinkan. Negara-negara berkembang memiliki proyek-proyek yang canggih yang menyebabkan mereka jatuh ke dalam hutang sampai sedemikian rupa sehingga mereka bahkan tidak bisa membayar bunganya sekalipun. Mereka membeli mesin-mesin modern yang tidak bisa dipakai sekarang karena tidak seorangpun tahu bagaimana memperbaikinya atau mengganti alatnya yang rusak. Para rasul Kristus memahami mengapa penting sekali untuk merasapuas dengan apa yang ada pada mereka, dan dibebaskan dari hutang yang menumpuk, yang bisa merusak tubuh dan jiwa. Selanjutnya, Yesus juga mengatakan, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Matius 20:26-27). Yesus datang untuk menegaskan kembali semua nilai-nilai kebajikan di dunia kita ketika Ia berdoa, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. ... Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Matius 11:25-30).

Paulus menuliskan bahwa Allah akan membinasakan semua kemegahan dan kecongkakan pada saat dimana hanya sedikit orang kaya dan penting saja yang berada di jemaat Korintus. Perubahan tujuan hidup dan pembaharuan hati memberikan makna baru kepada anggota jemaat-jemaat Gereja Mula-Mula.

Titah yang kesepuluh bukan hanya melarang tindakan kita yang jahat dank keji tetapi juga mengutuk maksud-maksud tersembunyi kita. Pengadilan bisa, sampai batas tertentu, menghakimi kejahatan seseorang, tetapi hati manusia hanya bisa dikenal oleh Allah. Bahkan kita sendiri tidak bisa secara sempurna memahami hati kita. Kadangkala kita tidak tahu mengapa sahabat kita bertidak begini atau begitu. Kita kadangkala menjadi rahasia bagi diri kita sendiri. Alkitab mengatakan, “Segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kejadian 6:5). Kalau kita mengukur diri kita sendiri terhadap kekudusan Yesus kita akan melihat betapa cemar dan jahatnya diri kita. “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Ini bahkan bisa dilihat di dalam diri seorang anak kecil yang berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya dengan terus menerus berteriak. Anak-anak membohong anak-anak lainnya, dan ketika kita melihat warisan dosa di dalam kehidupan mereka kita akan bisa menolak teori yang dangkal bahwa “anak-anak itu tidak berdosa.” Seorang anak yang bertumbuh menunjukkan semua keinginan yang ada, dan bisa keras kepala serta mementingkan diri sendiri. Tentu saja, ada perbedaan antara berpikir jahat dengan berlaku jahat. Tidak seorangpun bisa menghindar dari cobaan tetapi anda dipanggil untuk melawan kejahatan dengan segenap hati anda. Dr. Marthin Luther pernah mengatakan, “Saya tidak bisa melarang burung terbang di atas kepala saya, tetapi saya bisa melarangnya bersarang di kepala saya.” Kita harus berhati-hati terhadap pencobaan sejak awalnya, melawannya dan kemudian mengalahkannya. Paulus sering menuliskan pernyataan dalam bahasa Yunani ini, “Kiranya pemikiran yang demikian jangan lahir di dalam diriku!” Rasul Yakobus melacak asal dari pencobaan. Dalam pasal satu ia menegaskan bahwa pencobaan bukan berasal dari Allah, karena Allah tidak mencobai siapapun dengan kejahatan. Tetapi ketika seseorang dicobai ia ditarik oleh kehendak darah dan dagingnya sendiri. Dan kemudian, “Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Sang rasul melanjutkan dengan mengatakan, “Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya” (Yakobus 1:16-18).

Seoarng Kristen harus membiarkan Firman Allah mendisilin kehendaknya, tujuan dan maksudnya setiap hari. Mengalahkan kecemaran bergantung kepada penyerahan penuh kira keoada Yesus dan anugerah kekal-Nya sehingga kita bisa berdoa dengan penuh keyakinan, “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat” (Matius 6:13). Orang-orang Kristen yakin bahwa dosa-dosa mereka diampuni melalui darah Yesus dan berpegang kepada kebenaran Kristus yang ditanamkan di dalam kehidupan mereka. Karena itu mereka tidak akan dengan sengaja melakukan dosa, karena Roh Kudus menyucikan pikiran dan sikap mereka. Yesus ingin menjadi Tuhan yang berkemenangan di dalam semua pikiran dan hati kita. Ia mau membawa kita ke dalam peperangan kehidupan dan memberikan kepada kita kemenangan. Ini bukan perang suci melawan suatu pribadi atau negara tertentu, tetapi jelas sekali melawan ego kita yang besar, melawan keinginan jahat kita dan melawan cobaan yang menyerang kita dari luar diri kita. Mari kita berdoa dan meyakini apa yang kita doakan, “Ya Tuhan yang hidup dan Juruselamat yang agung, aku bersyukur kepada-Mu bahwa Engkau sudah menyelamatkan aku. Jangan biarkan aku jatuh ke dalam dosa lagi, tetapi bebaskanlah aku dari segala kejahatan yang berdiam di dalam kehidupanku. Jangan biarkan Si Jahat itu menancapkan kakinya di dalam kehidupanku. Bersihkanlah pikiranku sepenuhnya dengan darah-Mu dan sucikanlah sepenuhnya dengan Roh-Mu, sehingga kehendakku selalu menyenangkan hati-Mu.”


4.12.5 - Hati yang Baru dan Roh yang Baru

Saat kita masuk ke dalam peperangan rohani yang demikian melawan kehendak jahat kita, kita bisa memahami apa yang dimaksudkan Yesus ketika Ia mengatakan, “Karena dari dalam hati timbul segala pikiran jahat.” Jadi, yang diperlukan bukan hanya perlindungan dari tindakan jahat saja, atau bahkan terhadap dosa tertentu saja, tetapi jauh lebih banyak dari semua itu. Kita memerlukan hati nurani yang bersih, pikiran yang murni, dan hati yang baru. Karena itu, mari kita meminta Yesus menggenapkan tujuan-Nya dengan kuasa Roh Kudus-Nya di dalam kita sehingga semua wilayah di dalam roh, jiwa dan tubuh kita akan sungguh-sungguh dikuduskan oleh-Nya. Bukan hanya tubuh kita yang jahat tetapi juga roh dan jiwa kita. Titah yang kesepuluh bertujuan mencapai kelahiran baru dari manusia lama dan pembaruan rohani dari pikiran dan sikapnya. Nabi Yeremia sangat menderita karena pemberontakan bangsanya dan menerima janji Ilahi yang luar biasa, “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka” (Yeremia 31:33-34).

Allah memberikan janji yang serupa kepada nabi Yehezkiel ketika Ia menyatakan diri kepadanya,” Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya” (Yehezkiel 36:26-27). Raja Daud menaikkan doa pertobatan ini 30 tahun sebelum pernyataan dari semua nubauatan itu:

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku. Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu. Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu! Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu! Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. (Mazmur 51:3-19).

Barangsiapa menaikkan doa seperti doa teladan dari Daud ini akan menerima jawaban pasti dari Allah. Yesus menggenapi nubuat ini ketika Ia menegaskan, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yohanes 8:12). Ia juga mengatakan, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5).

Di awal dari pelayanan-Nya, Yesus menjelaskan kepada Nikodemus, salah satu tua-tua bangsanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yohanes 3:5). Petrus menegaskan janji ini di hari Pentakosta di depan 3000 orang, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kisah Para Rasul 2:38).


4.12.6 - Peperangan Rohani

Ketika Roh Kudus berdiam di dalam kita, kita tidak menjadi kebal terhadap covaan. Tetapi roh berperang melawan daging dan daging melawan roh, dan sebuah peperangan berkecamuk seperti yang dijelaskan oleh Paulus, “oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu” (Roma 8:13). Di dalam Efesus 4:22-24 Paulus menasehatkan, “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Menanggalkan manusia lama berarti membenci dan menolak semua kehendak dosa sampai selamanya. Mengenakan manusia baru berarti mengenakan Yesus seperti sebuah jubah yang baru setelah Dia menolong kita mengalahkan sikap mementingkan diri kita yang semula.

Di dalam peperangan ini kita mungkin mengalami kekalahan ketika berusaha menjalani kehidupan yang kudus. Kemudian kita harus cepat bangkit kembali dan datang kepada Yesus mengakui segala dosa kita dengan jujur. Ketika kesombongan dan rasa percaya kepada diri kita diremukkan, maka kita dipersatukan dengan Yesus sekali lagi dan mengalami kekuatan-Nya di dalam kelemahan kita. Inilah satu-satunya cara kita mendapatkan kemenangan atas kejahatan yang ada di dalam kehidupan kita dan menjadi dewasa di dalam Tuhan. Alkitab mengatakan, “Barangsiapa yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak-anak Allah.” Di dalam Roma 8:1-2, Paulus menghiburkan semua orang yang mengambil bagian di dalam peperangan rohani ini, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” Sementara Perjanjian Lama menempatkan maksud dan tindakan kejahatan kita di bawah ancaman dari hukum, Perjanjian Baru memberikan kepada kita pengenalan yang lebih mendalam akan keberdosaan total kita, dan pada saat yang sama mendorong kita untuk menerima kebenaran Allah oleh anugerah melalui iman kepada Yesus Kristus. Ia memampukan kita untuk menerima Roh Kudus demi pembaharuan pikiran dan kehendak kita. Hukum Musa berusaha untuk mencegah kita agar jangan terjatuh, tetapi Yesus memberikan kepada kita pembenaran penuh dan kuasa dari Roh Allah untuk menggenapi perintah-perintah-Nya. Sementara Perjanjian Lama menyingkapkan kekacauan di dalam kehidupan kita, sebagai akibat dari maksud jahat kita, Bapa Surgawi kita memberikan kepada kita pembenaran Ilahi: tidak bersalah, tidak ada penghukuman! Yesus sudah membayar harganya! Sebagai tambahan untuk pembenaran kita Ia juga memampukan kita dengan Roh kekekalan-Nya untuk mengalahkan dosa. Allah Tritunggal membebaskan kita dari dosa dan masuk ke dalam kebenaran-Nya, dan membawa kita dari kekalahan kepada kemenangan di dalam kuasa kasih-Nya yang berdiam di dalam kehidupan kita.


4.12.7 - Islam dan Hawa Nafsu

Islam tidak mengenal penggenapan hukum melalu pembenaran karena iman atau kemenangan atas kedagingan dengan kuasa Roh. Al-Quran mengatakan, “Manusia dijadikan bersifat lemah” (Surat an-Nisa 4:28). Islam, dengan itu, meletakkan kesalahannya kepada Allah. Itulah sebabnya Muhammad mengijinkan laki-laki untuk mengawini selir mereka selain keempat istri mereka agar tidak jatuh ke dalam godaan (Surat an-Nisa 4:25). Muhammad sendiri mengawini istri Zaid sedangkan Zaid sebenarnya adalah anak angkatnya sendiri. Mengenai perkawinan ini, Muhammad menerima pernyataan khusus dari Allah yang mengijinkan dia mengawini istri Zaid dan semua perempuan lain yang yang mau menyerahkan diri kepadanya (Sura al-Ahzab 33:37,50,51).

Al-Quran juga menyatakan beberapa kali bahwa Allah menuntun barangsiapa yang dikehendakinya dan menyesatkan barangsiapa yang dikehendakinya (Surat Ibrahim 14:4 dan Al-Fatir 35:8). Dengan demikian, tidak banyak tersisa tanggungjawab moral manusia atas dirinya sendiri.

Dalam perang suci, jarahan dan merampas harta pampasan perang adalah yang paling utama. Kadangkala pasukan kalah di dalam peperangan karena mereka terlalu cepat dalam mengumpulkan harta jarahan dan membawa semua itu pulang. Kadangkala ada pertengkaran keras mengenai pembagian jarahan perang. Keuntungan dalam hal materi dan pemuasan hawa nafsu seringkali memainkan peranan yang tak terpisahkan dalam kehidupan seorang Muslim. Bagi dia, kekuasaan dan kehormatan adalah bukti dari anugerah Allah, yang secara sangat menyolok dimanifestasikan di dalam kehidupan para pemimpin Muslim. Kerendahan hati dan kelemah-lembutan Kristus adalah sesuatu yang asing bagi Islam.

Lebih lagi, pembalasan berdarah tidak dilarang di dalam Islam selama persetujuan tentang ganti rugi belum dicapai. Muhammad secara pribadi mengutus beberapa orang untuk melenyapkan musuh-musuhnya. Keinginan egoistik manusia tidak mengalami kemajuan setelah seseorang masuk Islam, semuanya tetap sama tanpa ada perubahan kecuali bahwa dia menjadi kebal terhadap berita keselamatan di dalam Kristus. Bagi seorang Muslim, iman kepada Allah Bapa adalah satu dosa yang tak terampunkan. Ia harus berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan perbuatan baiknya. Perbuatan baik di sini bukan hanya tindakan belas kasihan tetapi juga penggenapan atas tanggungjawab keagamaan seperti mengucapkan shahadat, mengerjakan shalat lima kali sehari, berpuasa di siang hari selama bulan Ramadhan, memberikan sedekah kepada orang-orang miskin, naik haji ke Mekkah, menghafalkan Al-Quran dan berperang di dalam perang suci untuk penyebaran Islam. Jelas sekali seorang Muslim hampir tidak memahami apapun tentang bagaimana hatinya bisa dibaharui. Ciptaan baru menjadi sesuatu yang mustahil terjadi karena Roh Kudus yang sejati tidak dikenal di dalam Islam (Surat al-Isra 17:85). Seorang Muslim memahami Roh Kudus sebagai Roh Allah yang diciptakan dan biasanya merujuk kepada Malaikat Gabriel. Ia bukan roh yang berasal dari Allah. Karena itu, budaya dan peradaban Islam merupakan hasil dari pekerjaan daging. Buah-buah roh: kasih, sukacita, dan damai sejahtera, diabikan diabaikan di dalam Islam karena dasarnya, pengampunan dosa melalui anugerah dari Dia yang Tersalib itu, memang ditolak.

Sangat mudah bagi seseorang untuk menjadi seorang Muslim karena ia bisa melanjutkan cara hidup yang sama. Kalau seseorang masuk islam, ia masih bisa meneruskan poligami di Afrika dan Asia. Keinginan jasmaniah dan materi bahkan dijanjikan akanada di surga: makanan, minuman, dan kepuasan seksual. Kekekalan seorang Muslim tidak lain dari sekedar penggambaran dari keinginan materialistis manusia belaka (Surat al-Waqi’a 56:16-37). Allah sendiri tidak akan berada di surganya orang Islam. Tidak ada harapan untuk adanya hubungan atau persekutuan dengan Allah, dan juga tidak ada pembaharuan rohani atau peperangan melawan sikap mementingkan diri dari ego manusia di dalam Islam. Secara moral dan rohani, Islam jauh di bawah tingkat Perjanjian Lama dan nilainya sama sekali tidak sebanding dengan Perjanjian Baru.


4.12.8 - Kristus Satu-Satunya Harapan

Kita harus memastikan bahwa kita tidak mengijinkan kebencian apapun terhadap orang-orang Muslim atau orang-orang Yahudi, karena tidak ada seorang Kristenpun, yang menjadi lebih baik dengan kekuatannya sendiri. Dengan iman kepada Kristus saja kita menerima kebenaran dan kekuatan untuk menjalani kehidupan benar dan kudus. Yesus adalah pokok anggur, kita adalah ranting-rantingnya dan dengan berdiam di dalam Dia kita akan dijauhkan dari kesombongan dan bisa menghasilkan buah-buah Roh. Kita tidak bisa melakukan kebaikan apapun tanpa Yesus. Dia sajalah standar kehidupan kita.

www.Grace-and-Truth.net

Page last modified on September 06, 2013, at 11:29 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.50)