Home
Links
Contact
About us
Impressum
Site Map?


Afrikaans?
عربي
Bahasa Indones.
Deutsch
English
Français
Hausa/هَوُسَا
עברית
O‘zbek
Peul?
Português
Русский
தமிழ்
Türkçe
Yorùbá
中文



Home (Old)
Content (Old)


Indonesian (Old)
English (Old)
German (Old)
Russian (Old)

Home -- Indonesian -- 09. Comparisons -- 4.13 Conclusion: The Law and the Gospel
This page in: -- Afrikaans -- Arabic? -- Armenian? -- Azeri? -- Bulgarian? -- Cebuano? -- Chinese? -- English -- Farsi? -- French -- German -- Gujarati? -- Hebrew -- INDONESIAN -- Norwegian? -- Polish? -- Russian -- Serbian? -- Spanish? -- Tamil -- Turkish? -- Uzbek -- Yiddish? -- Yoruba?

Previous part

09. PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KEKRISTENAN
Perbandingan 4 - DASA TITAH

4.13 - KESIMPULAN: HUKUM TAURAT DAN INJIL



Seorang guru agama pernah bertanya kepada Yesus, “Apakah hukum yang terutama di dalam hukum Taurat?” Yesus menjawab dengan menyebutkan dua ayat dari Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18 dan mengatakan, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap kekuatanu dan kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.”

Dengan penjelasan itu, Yesus menyimpulkan isi dasa titah dengan tepat. Sementara bagian pertama dari Dasa Titah menjelaskan hubungan kita dengan Allah dan mengakui Pencipta, Juruselamat dan Penghibur kita, bagian yang kedua menunjukkan hubungan kita dengan sesama manusia dan menunjukkan dengan jelas pelayanan kita kepadanya.

Yesus tidak memberikan jawaban negatif yang memalukan atas pertanyaan dari orang saleh itu. Ia tidak berbicara mengenai apa yang seharusnya kita hindari. Namun, Ia menuntun orang itu dengan sukacita kepada penggenapan positif dari hukum Taurat. Ia menegaskan dengan singkat apa yang kita semua perlu lakukan. Kedua perintah itu bisa disimpulkan dalam satu motto: kasihilah Allah dansesama dengan kasih yang murni. Mari kita menguji diri kita dan melihat bagaimana kita mengasihi Allah dan bagaimana sebenarnya kita mengasihi sahabat-sahabat dan bahkan musuh kita. Pada titik ini kita bisa melihat sampai seberapa jauh kita mentaati Dasa Titah.


4.13.1 - Apakah Kita Mengasihi Allah?

Kasih kepada Allah adalah perintah yang paling lengkap dan mendesak sehingga tidak ada sedikitpun bagian dari waktu, uang dan perencanaan kita yang berpusat kepada diri kita sendiri kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Allah. Kita menerima roh, jiwa dan tubuh dari Dia; kehendak, keinginan dan harapan kita dibentuk dan dipenuhi dengan kasih-Nya. Biarlah sang Pencipta yang kudus dan Juruselamat yang menebuskan menjadi fokus utama dari kehidupan kita. Tidak ada yang penting selain Dia. Ia adalah Allah yang cemburu yang mengendaki kasih kita yang lengkap dan tak berbagi kepada-Nya. Ia tidak mau membiarkan apapun membagi kasih itu. Karena itu, kita harus menghadapi pertanyaan ini: Apakah kita mengasihi Allah sebagaimana Ia sudah dan masih tetap mengasihi kita? Berapa besarkasih kita kepada-Nya? Apakah kita mengasihi Dia di dalam perasaan, pikiran, merenungkan firman-Nya secara lengkap sehingga kita bisa memahami kehendak-Nya dan berusaha untuk menggenapi semua itu dengan pertolongan-Nya? Biarlah keseluruhan keberadaan kita menjadi pujian bagi anugerah-Nya yang sudah memberikan kepada kehidupan yang baru yang kita hodupi sekarang. Mari kita menghargai Dia di dalam apa yang kita lakukan dan apa yang tidak kita lakukan, bersyukur kepada-Nya untuk pengampunan sempurna atas berbagai jenis dosa kita melalui pendamaian yang disediakan secara cuma-cuma di salam Kristus Yesus. Mari kita memuji Dia atas sukacita, damai sejahtera dan roh penghiburan yang dicurahkan-Nya ke dalam kehidupan kita. Kasih kita tidak cukup. Kita tidak bisa selalu mengasihi Allah dengan segenap hati dan jiwa kita. Karena itu kita membutuhkan pertolongan dari Tuhan kita bahkan untuk mengasihi Dia sebagaimana seharusnya. Rasul Paulus menunjukkan kepada kita bagaimana Allah sudah menjawab doa-doa kita, “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Roma 5:5b). Bapa Surgawi kita sudah memberikan kepada kita kasih-m sehingga kita bisa sungguh-sungguh mengasihi Dia. Kasih-Nya memenuhi hati kita pada saat Roh Kudus berdiam di dalam kita.


4.13.2 - Apakah Kita Mengasihi Sesama Seperti Diri Sendiri?

Roh kasih memampukan kita melihat orang-orang di sekitar kita melalui mata Allah. Mari kita menyaksikan anugerah Yesus kepada mereka, menjelaskan kasih penebusan-Nya kepada orang-orang berdosa. Kita akan berdoa untuk mereka,dan melayani mereka kalau kita sungguh-sungguh mengasihi mereka sebagaimana kita mengasihi diri sendiri. Kalau kita menjadi lapar kita akan melakukan segala sesuatu untuk mendapatkan makanan. Kalau kita takut, kita akan berusaha menemukan jalan keluar. Kalau kita menjadi lelah, kita akan tidur. Demikian juga, kasih Kristus menuntun kita untuk memberi makan yang lapar, membebaskan yang tertindas dan memberikan kenyamanan kepada yang lelah. Yesus begitu mengasihi semua orang sehingga Ia menjadikan diri-Nya setara dengan kita. Ia menjadi salah satu dari kita. Ia sudah menunjukkan sebelumnya bahwa Dia, Raja di atas segala raja, akan meminta para pengikut-Nya di Hari Penghakiman, “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”" (Matius 25:34-40).

Yesus menggabungkan di dlam diri-Nya kasih akan Allah dan kasih kepada manusia. Kalau meminta kepada Yesus, Ia akan meneguhkan kita di dalam kasih sehingga kita bisa melayani Allah dan orang-orang yang membutuhkan. Kita tidak akan melayani Dia untuk menyelamatkan diri kita, tetapi karena kita sudah diselamatkan, kita melayani Allah dan sesama. Kasih kita tidakdidasarkan kepada kebenaran diri sendiri melalui perbuatan baik kita sebagaimana yang dipikirkan orang-orang Muslim, tetapi di dalamkes yang digenapkan bagi semua olrh Yesus Kristus.


4.13.3 - Makna yang Lebih Dalam

Injil keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus menuntun kita untuk menangkap makna dari hukum Musa. Dengan kata lain, Dasa Titah mencegah kita dari membinasakan diri kita sendiri dan memastikan kebahagiaan kita. Yesus mengatakan kepada orang muda yang kaya itu, “Taatilah titah-titah yang ada dan engkau akan mendapatkan kehidupan kekal.” Pastilah, bangsa-bangsa yang berjalan di dalam titah Allah dan hidup dengan semua titah itu akan mengalami berkat yang berlimpah di semua jalannya.

Tetapi ketika kita merenungkan hukum Taurat maka hal itu akan mengguncangkan kesombongan kita dan mempertanyakan kesalehan kita. Hukum Taurat bukan hanya tuntunan tetapi tujuan dari penyerahan diri kita sepenuhnya kepada Allah dan keterpisahan yang mutlak dari dosa. Tuhan sering mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Allah tidak menjadi puas dengan kesalehan yang pura-pura atau keagamaan lahiriah sebagaimana yang diajukan oleh agama-agama lain. Namun, Ia menghendaki untuk mengubahkan kita dan memulihkan kita dari pemberontakan kita, menjadi serupa dengan gambar-Nya, di dalam perkataan dan tindakan. Yesus memerintahkan kepada kita, “Jadilah sempurna, karena Bapa-Mu di surga itu sempurna.” Secara khusus Ia menunjuk kepada mengasihi musuh-musuh dan memiliki belas kasihan kepada mereka yang miskin, sebagaimana yang sudah dilakukan Bapa Surgawi kepada kita.


4.13.4 - Apakah Hukum Taurat Menyebabkan Kebinasaan Kita?

Kalau seseorang memahami tuntutan dari Allah yang kudus dan berusaha mentaati semuanya dengan setia, ia mungkin akan gemetar dan bertanya, “Bagaimana mungkin makhluk yang fana bisa mengasihi seperti Allah mengasihi? Dan siapakah yang bisa kudus sebagaimana Allah kudus?” Hukum Taurat menyatakan rahasia-rahasia kita; ia menempatkan cermin kekududusan di depan wajah kita dan menyatakan keberdosaan kita. Hukum mendisiplin orang-orang berdosa yang malas dan membangunkan mereka dari tidur mereka. Penghakiman Allah mencakup penghukuman Allah yang kekal bagi semua orang. Kalau seseorang memelihara keseluruhan hukum Taurat dan tersandung di satu titik maka ia sudah menjadi penjahat yang melanggar semuanya.

Kalau seseorang menguji kehidupannya di dalam terang Dasa Titah, melihat berhala yang kecil dan besar di dalam kehidupan sehari-hari, berpikir betapa seringnya ia menghina nama Tuhan dan meremehkan Hari Sabat, ia akan memahami bahwa ia sudah jatuh ke dalam hukuman mati dari Allah sejak dahulu. Kalau seseorang mau mengukur dirinya terhadap kemurnian Kristus, Ia akan diremukkan, yang seolah-olah menandakan bahwa tujuan hukum Taurat adalah kebinasaan semua manusia.

Hukum Taurat menyatakan kecemaran kita agar bisa membawa kita kepada pertobatan yang terus menerus. Hukum Taurat menghncurkan kebenaran diri kita sendiri dan kesombongan kita. Dengan demikian, kita senantiasa berdiri gemetar di hadapan Allah yang kudus, dan memahami bahwa kita dihakimi bukan atas dasar kebenaran diri kita sendiri tetapi atas dasar belas kasihan-Nya yang besar. Kita bisa menerima pemahaman dasar dari hukum Taurat hanya karena kita tidak lagi ada di bawah hukum Taurat sebagai orang-orang Kristen, tetapi di dalam anugerah Yesus!

Yesus datang kepada Yohanes Pembaptis dan menjadikan murid dari antara mereka yang mengakui dosa-dosanya dan dibaptiskan di sungai Yordan. Ia tidak memilih murid-murid dari antara mereka yang mengaku mentaati hukum Taurat dan memamerkan kesalehan mereka. Ia justru memilih mereka yang mengakui dosa-dosa mereka dan berusaha untuk melepaskan diri dari penghakiman keadilan Allah, yang menolak hakekat lama mereka, dan mematikan semuanya itu di dalam air baptisan. Yesus bisa membangun mereka secara rohani dan membawa mereka keluar dari kutuk hukum Taurat. Setelah mereka sungguh-sungguh bertobat Ia kemudian membawa mereka ke pegunungan Galilea dan membawa mereka masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya. Hukum Taurat sudah menggenapkan tujuannya. Sekarang sang Pemberi Hukum itu datang sendiri dan menanggung kesalhan dari para pengikut-Nya. Yesus menggenapkan tuntutan hukum Taurat, yang membawa mereka yang mengikut Yesus untuk memuji Dia. Allah beserta kita. Dia yang Sempurna datang kepada yang tidak sempurna. Sang Hakim menjadi Juruselamat yang mengulurkan tangan-Nya untuk menolong orang-orang berdosa.


4.13.5 - Hukum yang Digenapi oleh Yesus

Apa yang dilakukan Yesus dengan Hukum Musa? Ia sepenuhnya menggenapinya dengan cara yang tidak bisa dilakukan orang lain. Ia tetap rendah hati dan mencukupkan diri dengan apa yang ada. Ia tidak mengijinkan uang menguasai diri-Nya. Ia senantiasa memuliakan Bapa-Nya. Yesus menyebutkan nama Bapa yang agung lebih dari 186 kali. Kasih dari Bapa dan kasih dari sang Anaksudah diteguhkan dalam kesatuan sebagaimana yang dikatakan Yesus, “Aku dan Bapa adalah satu. Bapa di dalam Aku, dan Aku di dalam Bapa.” Kasih dan kekudusan Bapa berinkarnasi di dalam Yesus yang mengatakan, “Barangsiapa sudah melihat Aku sudah melihat bapa.”

Yesus mengasihi dan taat kepada ibu-Nya setiap waktu Ia bersama dengannya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Quran dalam Surat Maryam 19:32.

Yesus mengasihi musuh-musuh-Nya dan tidak memfitnah mereka namun menyatakan kebenaran tentang mereka. Ia tidak kawin seperti Daud atau Muhammad. Ia makan bersama dengan orang-orang berdosa dan para pemungut cukai dan membawa mereka kepada pertobatan. Ia tidak memiliki kuda,dan Ia harus meminta sahabat-Nya meminjamkan kepada-Nya seekor keledai ketika Ia memasuki Yerusalem. Ia menjalani kehidupan yang tanpa dosa, yang sudi di dalam perkataan dan perbuatan. Tidak ada dusta, hawa nafsu, keinginan atau motivasi yang tersembunyi yang pernah mencemarkan kekudusan dan kesempurnaan Yesus. Ia tetap tidak berdosa, mengasihi musuh-musuh-Nya dan semua manusia sehingga Ia menjadikan diri-Nya setara dengan mereka. Ia tahu bahwa Ia akan memberikan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Kematian-Nya sebagai tegusan bagi semua orang berdosa berarti penggenapan akhir dari hukum Taurat, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13).

Yesus dilahirkan dari Roh Kudus Allah, untuk menggenapkan seluruh tuntutan hukum Taurat bagi semua manusia. Ia menanggung segala dosa, dan karena itu Yesus menjadi korban bagi hukum Taurat sebagaimana yang dituliskan Paulus, “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya” (Roma 10:4). Hukum Taurat tidak menuduh mereka yang sudah ditebus oleh kematian-Nya sebagai pengganti, karena mereka sudah dibebaskan dari ikatan hukum Taurat. Mereka sudah mati bersama dengan Dia bagi hukum Taurat. Sekarang, kalau sang Anak memerdekakan seseorang, Ia sungguh-sungguh merdeka dan murka dari Allah yang kudus tidak menimpa mereka. Para pengikut-Nya sudah dibenarkan dan akan melalui penghakiman yang luar biasa di hari akhir dengan tidak bersalah. Hanya dengan satu korban Kristus sudah menyempurnakan orang-orang yang dikuduskan-Nya.

Mereka yang menolak Kristus akan berdiri di hadapan-Nya pada hari penghakiman dan mengatakan kepada gunung, “Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu.” (Wahyu 6:16; Lukas 23:30). Barangsiapa menolak pembenaran dari Anak Domba Allah akan tetap berada di bawah hukum Taurat dan akan dihakimi oleh hukum Taurat.

Bahkan Muhammad tidak bisa memberikan jaminan apapun tentang masuk surga bagi dirinya sendiri dan bagi para pengikutnya, tetapi ia merasakan penghakiman murka Alah saat ia mengakui bahwa semua orang Muslim harus masuk neraka dan menghabiskan beberapa waktu tertentu di dalam api yang membara, berdasarkan perbuatan baiknya (Sura Maryam 19:71). Tidak ada pengharapan keselamatan bagi orang Muslim, karena pengharapan mereka dibangun di atas hukum Taurat dan tidak seorangpun yang bisa mentaatinya dengan sempurna. Yesus masih mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya” (Yohanes 3:36).

Bagaimana dengan orang-orang Kristen? Apakah mereka lebih baik dibandingkan dengan orang-orang Muslim dan orang-orang lain yang terhilang? Orang-orang Kristen sudah mengakui segala dosa mereka dan menyesalinya dengan sangat. Mereka sudah diremukkan secara rohani dan tidak akan lupa siapa dan apa mereka dahulu. Kesombongan mereka dikalahkan dengan pencurahan darah dari Anak Domba Allah yang melaluinya mereka menerima kehidupan kekal dari Dia.


4.13.6 - Hukum Kristus di dalam Kita

Puji Tuhan! Yesus, sang Penggenap hukum Taurat, berbelas kasihan kepada para murid-Nya dan menuliskan sebuah hukum Ilahi di dalam pikiran mereka dan meletakkan Roh Kudus di dalam hati mereka. Setelah dibenarkan, mereka tidak hidup tanpa hukum dan mereka juga tidak lagi menjadi budak di bawah hukum Taurat. Yesus yag sudah meletakkan hukum yang baru di dalam hati para pengikut-Nya sebagaimana yang dikatakan-Nya kepada mereka, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Di dalam hukum ini Yesus merangkumkan Dasa Titah dan membuat semuanya bisa dinyatakan. Di dalam Roma 13:10, Paulus menuliskan, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.”

Perintah yang unik dari Yesus tidak pernah menjadi alasan para murid untuk menjadi takut karena Yesus sudah memberikan kepada mereka kuasa rohani untuk menggenapinya. Paulus, seorang ahli Taurat, menyatakan kebenaran ini, “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Roma 8:2). Roh Allah menghasilkan buah-buah Ilahi di dalam kehidupan para pengikut YesusL kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Kuasa Kristus sangat nyata di dalam kehidupan anak-anak terang, “karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran” (Galatia 5:22, Efesus 5:9). Orang-orang Kristen tidak lagi ada di bawah hukum Taurat. Mereka bukan orang-orang yang tidak punya aturan, karena hukum Kristus diam di dalam kehidupan mereka, dan, pada saat yang sama, memberikan kuasa untuk menggenapinya.


4.13.7 - Ia Berjuang Memberitakan Kristus

Kasih Kristus menuntun mereka yang sudah diselamatkan oleh anugerah untuk tidak lagi hidup bagi diri mereka sendiri, tetapi untuk menyatakan kebenaran Kristus secara bebas kepada semua manusia. Menceritakan kepada orang-orang lain tentang Yesus, bersama-sama dengan pujian dan pelayanan, adalah salah satu hasil pertama dari kasih Yesus di dalam kehidupan kita. Para murid-Nya sudah pergi ke seluruh dunia memberitakan hukum Taurat dan Injil. Hukum Taurat membuktikan keberdosaanmanusia yang layak mendapatkan hukuman dan kutuk sementara Injil menggambarkan Yesus di depan mata hati kita. Injil memberikan jaminan kepada kita bahwa anugerah Yesus menyelamatkan kita dari penghukuman hukum Taurat. Yesus menggenapi semua tuntutan keadilan Ilahi menggantikan kita dan memberikan kepada kita kebenaran-Nya karena belas kasihan-Nya yang tak terbatas. Karena itu, kita pergi kepada yang terhilang dan putus asa dengan penuh kasih untuk menawarkan kepada mereka pengharapan kekal. Kita mendekati orang-orang Muslim dan juga orang-orang Yahudi serta menguatkan mereka, “Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!” (Nehemia 8:11). Pahami dan ketahuilah bahwa keselamatan anda sudah disiapkan bagi anda! Terima saja! Anda tidak akan lagi ada dalam keputus-asaan seperti mereka yang hidup di bawah kutuk hukum Taurat, dan neraka sudah tidak memiliki kuasa atas orang-orang yang percaya kepada Kristus. Yesus sudah menanggung semua kutuk dan tuduhan itu, dan juga murka Allah ke atas diri-Nya. “Tuhan adalah kebenaran kita” (Yeremia 23:6). Datanglah kepada-Nya! Ia adalah hukum Taurat yang berinkarnasi. Darah-Nya membasuhkan kita dari dosa kita. Ia memberikan kepada kita kasih-Nya yang membangkitkan dan memberikan kepada kita kekuatan-Nya untuk mengasihi Allah dan sesama dengan setia, “kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10).


4.13.8 - KUIS

Pembaca yang Kekasih,
Kalau anda sudah membaca buku ini dengan seksama, anda bisa dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Kami dengan senang hati akan mengirimkan buku-buku kami yang lain kepada anda sebagai hadiah atas ketekunan anda. Pastikan anda menuliskan kepada kami nama dan alamat lengkap anda dan menyertakannya pada jawaban yang anda kirimkan.

  1. Tuliskan Dasa Titah dan alamat ayat Alkitabnya.
  2. mengapa orang-orang Kristen menghormati dan mentaati Dasa Titah?
  3. Apa makna yang sangat dalam bahwa Allah menyatakan diri-Nya di bagian awal dengan perkataan, “Akulah TUHAN”?
  4. Apakah perbedaan makna antara Allah dan Elohim?
  5. Apakah kepentingan rohani dari peristiwa keluarnya bangsa Israel dari rumah perbudakan?
  6. "Dasa Titah adalah pembatas kecelakaan bagi mereka yang sudah dimerdekakan oleh kasih karunia.” Jelaskan.
  7. Daftarkan beberapa berhala modern di dalam masyarakat anda.
  8. Apa yang dikatakan Perjanjian Lama mengenai kesatuan dari Tritunggal?
  9. Apa ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang keilahian Kristus?
  10. Bagaimanakah gambaran Kristus bisa dilihat di dalam kehidupan para pengikut-Nya?
  11. Berikan contoh tentang menyebut nama Tuhan dengan sembarangan.
  12. Doa yang bagaimana yang bisa dipertanyakan?
  13. Apakah hukuman bagi seseorang yang mengutuki orang tuanya di tengah-tengah perkemahan bangsa Israel?
  14. Apakah bekat-berkat yang kita tuai dari memelihara hari Sabat?
  15. Apa cara yang tepat untuk memelihara hari Sabat?
  16. Mengapakah orang-orang Kristen memakai hari pertama dalam satu minggu sebagai hari penyembahan? Mengapa perubahan itu sah?
  17. Apakah berkat dari menghormati orang tua?
  18. Apa yang anda lakukan kalau orang tua anda menolak Injil Yesus?
  19. Apa kejahatan pertama yang ada di dunia? Apa penyebabnya?
  20. Apa tanggungjawab dari seorang tentara dalam pandangan titah keenam?
  21. Bagaimana seseorang bisa menjaga dirinya dari dosa perzinahan?
  22. Apakah hak istimewa dari kehidupan pernikahan dalam pandangan Perjanjian Baru?
  23. Mengapakah Daud berdoa, “Perbaharuilah batinku, ya Tuhan”?
  24. Ada bentuk-bentuk pencurian di masa kini. Daftarkan hal itu.
  25. Apa yang dilakukan orang Kristen di Gereja Mula-Mula dengan uang mereka? Apa yang dilakukan Rasul Paulus untuk menolong mereka?
  26. Apa jalan keluar yang ditawarkan oleh Paulus agar bisa berhenti dari mencuri?
  27. Yakobus memberikan tiga contoh membangun yang akan membawa kita kepada pertobatan. Dftarkan hal itu.
  28. Bagaimana kita bisa lepas dari dosa karena hawa nafsu?
  29. Bagaimana kita bisa menerima hati dan roh yang baru?
  30. Apakah kesimpulan dari Dasa Titah?
  31. Bagaimana anda bisa mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri anda sendiri?
  32. Mengapa kita tidak lagi berada di bawah hukum Taurat tetapi di dalam anugerah Yesus?

Kirim jawaban anda ke:

GRACE AND TRUTH
P.O.Box 1806
70708 Fellbach
GERMANY

www.Grace-and-Truth.net

Page last modified on September 06, 2013, at 11:31 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.50)